08
Jul
11

BAHAN SERMON JULI 2011

KHOTBAH MINGGU II SETELAH TRINITATIS TANGGAL 3 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Matius 22: 1 – 4

I.      PENGANTAR

Perumpamaan di atas mempunyai ciri sebuah alegoria, sama seperti perumpamaan-perumpamaan sebelumnya (lih. Matius 21: 33-41), dan memiliki maksud yang sama. Raja yang disebut ingin menyatakan keberadaan Allah, sedangkan perjamuan kawin menggambarkan kebahagiaan di zaman Mesias, dan Anak Raja itu tidak lain adalah Mesias sendiri. Hamba-hamba yang disuruh raja ialah para nabi dan rasul (zaman sekarang bisa saja para rohaniawan) dan para undangan yang tidak mengindahkan undangan atau menganiaya hamba-hamba raja itu adalah orang Yahudi (bc: yang menolak kedatangan Mesias di dalam Yesus Kristus), sedangkan mereka yang dikumpulkan dari jalan adalah orang berdosa dan kaum kafir yang kemudian percaya dan bertobat. Siapa yang menanggapi undangan harus memakai pakaian pesta perkawinan, artinya: hidup yang dibalut tidak dengan pakaian bagus dan mewah melainkan hidup yang memakai pakaian dari cara hidup yang berkenan di hadapan Allah sebagai wujud hidup di dalam Terang dan Kasih Yesus Kristus (Gal. 5:22).

 II.     REFLEKSI

1.   SAMBUT BAIK ANUGERAH YANG ALLAH TELAH BERIKAN KEPADA KITA.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, atau pengalaman saya ketika sebagai mahasiswa tatkala menerima undangan apalagi dari seorang yang terhormat dan terkenal, tentunya akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Untuk hal-hal tertentu saya akan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dan bahkan akan menjadwalkannya dengan tanda khusus di agenda saya, malah bisa jadi saya akan menggeser acara-acara lain supaya bisa menghadiri undangan tersebut.

Namun, miris jika kita berangkat dari perumpamaan yang dituliskan Matius kepada kita saat ini lewat nats Evanggelium di Minggu II Trinitatis kali ini. Seorang raja yang mengundang banyak tamu untuk menghadiri pesta perkawinan anaknya, namun tidak seorang pun tamu yang diharapkan hadir pada perjamuan itu. Ada saja alasan mereka untuk menolak undangan itu. Masing-masing mementingkan urusan mereka dan bahkan ada yang dengan kasar menganiaya serta membunuh utusan-utusan yang menjemput mereka (ayat2-6). Jelas sikap mereka yang seperti ini tidak hanya meremehkan raja, tetapi juga sama sekali tidak mengindahkan niat dan maksud baik sang raja. Jika melihat keadaan ini dari sisi norma sistem Kerajaan, maka tindakan mereka Ini sama saja dengan memberontak kepada raja. Alhasil, tidak ada hukuman yang lebih pantas selain daripada dilucuti dari permukaan wilayah kerajaan sang raja (ayat 7).

Pada akhirnya, undangan perjamuan kerajaan disebarkan lagi kepada orang yang berbeda, yakni setiap orang yang bukan tamu terhormat raja. Raja mengalihkan jamuannya, namun sekali lagi, banyak di antara para undangan yang tidak meresponsnya dengan tepat atau asal-asalan. Mereka datang tanpa mempersiapkan diri baik-baik. Mereka datang dengan sembarangan (ayat 11-12). Seakan-akan perjamuan kerajaan yang khusus raja persiapkan tidak lebih daripada makan di warung kaki lima atau acara makan sekadarnya. Lihat saja dampaknya, orang-orang itu pun harus menerima amarah raja (ayat 13).

2.   PERSIAPAN DIRI, MENENTUKAN HASIL!

Sebagian besar orang akan merasa terhormat dan tidak akan melewatkan kesempatan berharga bila termasuk tamu undangan suatu perjamuan besar yang diadakan tokoh besar, apalagi bila perjamuan tersebut diadakan oleh seorang raja bagi pernikahan anaknya (lihat saja tradisi Negara Inggris tatkala mengadakan pesta pernikahan sang pangeran, banyak orang yang berbondong-bondong untuk hadir dan terlibat di dalamnya). Tetapi hal ini tidak terjadi dalam perumpamaan di atas. Dapat dikatakan bahwa respons para tamu undangan benar-benar mengecewakan raja, walaupun raja mengundangnya beberapa kali dengan suguhan yang menggiurkan (3-4). Tak terpikir oleh kita bagaimana mungkin orang-orang tidak mengindahkan undangan raja yang biasanya dipadati para pengunjung dari segala pelosok, yang ingin menyaksikan betapa meriah, kemilau, dan sesuatu yang lain dari pada pesta biasa. Betapa mengherankan respons tidak mengindahkan mereka hanya karena aktivitas sehari-hari mereka, bahkan sampai mereka bertindak kelewatan terhadap para utusan yang memberikan undangan atas nama raja (5-6). Jemaat Tuhan, hal ini menunjukkan dan menggambarkan bahwa demikianlah sering kali kita jumpai kedegilan hati manusia, bahkan undangan Allah yang telah berinisiatif menemukan manusia pun, ditolak oleh manusia. Akan tetapi, hasilnya dapat kita lihat betapa fatalnya keadaan orang yang tidak membuka sedikit pun hatinya bagi undangan Allah (7).

Ketidakhadiran para tamu undangan tidak menyebabkan kegagalan pesta tersebut, karena raja mengundang orang- orang yang dianggap tidak layak oleh manusia tetapi dilayakkan hadir oleh raja (9-10). Namun, naas bagi mereka yang meskipun telah masuk ke pesta perjamuan itu dengan tanpa persiapan sama sekali, mereka juga mendapati diri mereka memperoleh hukuman dari sang raja (11-12). Jemaat Tuhan, apa artinya? Lewat perumpamaan ini, kita mau diajak untuk sungguh-sungguh MEMPERSIAPKAN diri kita bagi Tuhan. Ketika kita telah dan mau menyambut “undangan”Nya, maka kita pun harus berani membayar harga, yakni berani meninggalkan gaya hidup lama yang bersifat duniawi dan mengenakan manusia baru. Sulit memang, tapi menjadi keharusan bagi kita jika mau hidup di dalam “perjamuan”Nya.

 

Jemaat Tuhan yang kekasih, kisah di atas adalah realitas iman yang kerap kita jumpai dalam kehidupan beriman kita saat sekarang ini. Undangan Allah untuk Keselamatan, hidup benar dihadapan Allah berlangsung setiap saat, akan tetapi banyak manusia mengabaikannya dengan banyak alasan. Bahkan ada yang menganiaya bahkan membunuh para penginjil. Membunuh bukan hanya dalam arti fisik, tetapi membunuh kesempatan dan peluang penginjilan melalui peraturan yang sulit dan mengada-ada. Ada juga menolak undangan untuk percaya pada TUHAN Yesus dan hidup benar dengan alasan kesibukan duniawi. Bahkan ada juga yang menerima undangan itu akan tetapi tanpa kesungguhan dan keseriusan. Sehingga mereka semua menghadapi amarah Allah. Sebagian banyak orang telah memperlakukan kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma untuk menyelamatkan hidup manusia (Roma 3:24) tanpa rasa syukur dan terkesan tidak mau tahu atau gampangan.

Jemaat Tuhan, Allah itu Kasih (lih. 1 Yohanes 4:16), namun bukan berarti kebaikan dan anugerah Allah bisa diperlakukan secara murahan. Kebaikan dan anugerah Tuhan mahal harganya dan tentunya menuntut perlakuan yang sepadan, yakni melalui pola hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Hidup di dalam Kasih dan ketaatan terhadap Firman Tuhan. Untuk itu, Yesus melalui perumpamaan ini memperingatkan dengan keras bahwa anugerah Allah tidak boleh dipermainkan. Anugerah Allah memang diberikan cuma-cuma tetapi bukan berarti murahan. Setiap orang yang menyepelekannya akan membayar mahal, yaitu ditolak Tuhan. Jemaat Tuhan, mari sambut dengan baik AnugerahNya dengan kerendahan hati.

3.   AJAKAN KESELAMATAN KRISTUS TUHAN BAGI KITA

Undangan Tuhan Yesus bukan saja bagi orang-orang dalam perumpamaan yang dikisahkan oleh Matius, melainkan juga bagi kita saat sekarang ini. Sikap tidak mau tahu, gampangan, sepele, bahkan terkesan bodoh dan jahat seperti yang dilukiskan dalam perumpamaan ini bisa juga merupakan sikap dan tindakan beriman kita di tengah kehidupan berbangsa dewasa ini. Jemaat Tuhan, Menjadi Kristen bukan sekadar mengaku atau menerima tradisi Kekristenan yakni beribadah ke gereja, merayakan hari-hari besarnya, dan yang lainnya. Namun, Menjadi Kristen berarti menyambut undangan Allah dalam Tuhan Yesus secara sangat pribadi, bukankah Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bertindak lebih dari itu yaitu sebagai pembebas, pelaku perubahan, dan pembawa damai. Firman Tuhan berkata : “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: “Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang MELAKUKAN kehendak BapaKu di Sorga” (Matius 7:21). Dari ayat ini kita ketahui ajakan keselamatan mengajak kita untuk MELAKUKAN? Ya, melakukan, bukan sekedar berucap. Jemaat Tuhan, ikut di dalam keselamatan Kristus dan berada dalam perjamuanNya, berarti kita juga diajak untuk menjadi pembawa damai. Membawa damai yang terpancar dari dalam diri. Sudahkah kita memiliki damai, di tengah hirup pikuk kehidupan yang semakin terasa sesak? Ajakan keselamatan, menuntun hidup kita untuk dapat senantiasa hidup di dalam damai dengan kondisi hidup yang bagaimanapun jua, di tengah “aksesoris” zaman yang terus silih berganti. Maka, dengan demikianlah kita dapat berdiri teguh dan tidak goyah (1 Korintus 15:58). Amin. Tuhan memberkati.

 

EPISTEL MINGGU II SETELAH TRINITATIS TANGGAL 3 JULI 2011

NATS : MAZMUR 106 : 24-26

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

 

SEKILAS TENTANG KITAB MAZMUR

Kitab Mazmur berisi sekitar Seratus limapuluh nyanyian rohani dan puisi yang digunakan oleh jemaat di segala abad dalam penyembahan dan kebaktian. Kitab ini digunakan sebagai kitab madah/himne pada bait suci.  Tema yang menonjol adalah doa dan pujian, disamping berbagai macam pengalaman religius lainnya. Kitab Mazmur ( dan juga Kitab Yesaya ) lebih sering dikutip di Perjanjian Baru dibandingkan dengan kitab-kitab yang lainnya.

Kitab Mazmur adalah kitab yang banyak mencerminkan idealisme keagamaan yang saleh, persekutuan dengan Allah, penyesalan atas dosa, gairah berbakti kepada TUHAN, kesaksian akan kasih dan kemahakuasaan TUHAN, dan kepercayaan yang teguh ditengah tantangan hidup. Para penulis kitab Mazmur diilhami oleh pengalaman keagamaannya sendiri dan menghasilkan kesaksian akan siapa TUHAN bagi mereka dan siapa mereka dihadapan TUHAN. Tapi harus diingat bahwa Mazmur adalah syair. Dan syair dimaksudkan untuk dinyanyikan, bukan risalah doktrin, sehingga perlu dilihat latar belakang konteks kehidupan penulis dan kehidupannya. Karena itulah judul kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani dikatakan : tehilim yang artinya : “nyanyian-nyanyian pujian”.

 

PEMBAHASAN

Syair Mazmur ini berisikan kisah tentang Kasih setia Allah dan ketegaran hati Israel khususnya perjalanan dari Mesir ke tanah Kanaan. Walaupun Israel Bangsa yang sering mengecewakan Allah akan tetapi Allah tetap setia memberkati bangsa itu.

Ayat 24 : Mereka menolak negeri yang indah itu, tidak percaya kepada firmanNya. Ayat 25 : Mereka menggerutu di kemahnya dan tidak mendengarkan suara TUHAN.

Perjalanan bangsa Israel di padang gurun penuh dengan berbagai peristiwa. Perjalanan begitu panjang, banyak tantangan seperti serangan bangsa lain, krisis air minum, krisis pangan, dan tantangan lain. Ini membuat banyak orang Israel mulai meragukan janji tanah perjanjian Kanaan. Hingga kemudian ingin membuat jalannya sendiri, menyembah patung tuangan (Maz.106 : 19) sebagai bentuk menolak negeri yang dijanjikan dan tidak percaya pada firmanNya. Sebagian dari Israel memaksakan ego dan keinginan pribadinya diatas keputusan Allah.

Jemaat terkasih, dalam kehidupan manusia sering kita berada dalam kondisi demikian. Ketika segala sesuatu terasa sangat begitu sulit, diluar kehendak kita, dan berbagai tantangan yang tak kunjung usai, kita bertindak menduakan Tuhan dan meniadakan Tuhan. Kita menolak bersekutu bersama Tuhan, menolak jalan yang di inginkanNya dan akhirnya semakin tidak percaya kepada firmanNYa dan lebih mempercayai keinginannya sendiri.

Kalau kita mau merenung dengan jujur dan tulus, sebenarnya sangat banyak perbuatan kita yang menyakitkan hati Yesus. Sengaja atau tidak, kerap kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan dihadapanNya. Ada juga perbuatan kita yang sebenarnya secara sadar kita pahami sebagai perbuatan dosa, tapi tetap kita lakukan dengan pertimbangan logika manusia. Inilah kenyataan yang tergambar dalam kehidupan manusia. Tak satupun luput dari perbuatan tercela. Tetapi, semua itu jangan menjerumuskan kita lebih dalam lagi. Kita harus segera bangkit dan memohon pertolongan Tuhan, serta meminta pengampunanNya. Sebagai orang percaya, kita bersyukur bahwa Yesus telah menebus kita secara “tunai”, sehingga kita diluputkan dari kematian kekal.

 

Akhirnya bisa sama seperti yang dialami bangsa Israel yang tergambar diayat 26 ini :

 

Ayat 26 : Lalu Ia mengangkat tangan-Nya terhadap mereka untuk meruntuhkan mereka di padang gurun. Allah adalah Allah yang pemurah sekaligus Allah yang tegas. Terhadap Bangsa Israel yang menolak negeri yang dijanjikan dan tidak percaya pada firmanNya maka Allah menghukum bangsa itu.

 

Jemaat terkasih, saat ini kita telah memasuki pertengahan tahun 2011, pertanyaannya adalah apakah kita akan tetap berjalan dengan Allah, dan meminta Dia agar selalu menuntun jalan hidup kita atau justru saat ini kita tengah dalam keadaan dihukum Allah karena pemberontakan kita? Sebagai orang percaya, secara tegas kita harus mengatakan bahwa kita memerlukan pimpinanNya. Jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri atau kekuatan lain, maka sebuah kepastian dalam kehidupan kita akan hilang. Padahal, pelbagai persoalan hidup ke depan sama sekali tidak kita ketahui. Di waktu lalu tentu banyak persoalan yang masih tersisa yang harus kita hadapi. Selain itu, pasti akan datang pelbagai persoalan baru. Jika kita melihat sebentar tentang perjalanan hidup kita yang lalu, sebagai bahan renungan dan refleksi, sungguh betapa besar kasih Yesus dalam kehidupan ini. Dipimpinnya kita melalui berbagai persoalan hidup. Satu persatu kita raih kemenangan. Bukankah itu sebuah jaminan yang pasti bagi kita untuk melangkah. Jadi, tak ada alasan kita untuk berpaling daripadaNya. Tetaplah setia dan berpegang pada tangan Tuhan yang kuat. Dengan demikian, apapun yang ada di hadapan kita bukan lagi suatu “momok” yang menakutkan. Kita tahu pasti bahwa Tuhan ada di pihak kita. Tiap langkah kita diatur olehNya, dan dengan tangan kasihNyalah kita dipimpin untuk meraih kemenangan yang pasti.

Puji Tuhan, tiap orang yang mau percaya dan bertobat, Tuhan tidak akan memalingkan wajahNya. TanganNya akan segera terulur ketika anakNya berseru memohon pengampunan. Cepatlah berpaling dan bertobat. Mohonkan pengampunan dan tuntunan Roh Kudus. Sebab, darah Kristus yang tertumpah di kayu salib adalah bukti pengorbananNya. Tentunya, bukan berarti kita bisa seenaknya memohon pengampunan. Kita harus benar dan mau bertobat. Jangan permainkan Tuhan. Godaan memang pasti akan selalu mencobai, tetapi jika kita berseru pada Kristus, darahNya yang penuh kuasa itu akan menguatkan iman. Jadi, jangan pernah mau terperangkap lebih jauh dalam perbuatan dosa. Segeralah bertobat dan memohonkan pengampunan.

 

KHOTBAH MINGGU III SETELAH TRINITATIS

TANGGAL 10 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Lukas 15: 11-32

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

Thema : “Pulanglah, hai anak-Ku! Ada Suka Cita di Rumah-Ku”

Topik Minggu : Mangasahon Johowa, marolopolop do angka na unjur marroha (Psalmen 33:1) – Karena Tuhan, orang-orang jujur bersorak-sorai dan menyanyi-nyanyi.

I.    Pendahuluan

Injil Lukas ditulis oleh Lukas, seorang tabib/dokter, berpendidikan dan menjadi kawan seperjalanan Rasul Paulus (Kis 16:10-17; 20:5; 21:18; 27:1-28:16). Dari permulaan sampai akhir Lukas memusatkan perhatian kepada Yesus, yang datang “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 9:10). Injil menurut Lukas ini adalah proklamasi dari Yesus Kristus sebagai Anak Allah, yang mempunyai kekuatan dan kuasa untuk menyelamatkan orang berdosa. Penyataan diri Yesus sebagai Juruselamat dan Anak Allah yang Mahakuasa merupakan tema pokok Injil Lukas.Ciri khas/kesitimewaan Injil ini a.l: Lukas memberi tempat yang penting bagi perumpamaan-perumpamaan Yesus, yang di dalamnya kasih Allah yang menebus dijelaskan. Salah satunya adalah perumpamaan tentang anak yang hilang yang menjadi perikop khotbah minggu ini.

Perumpamaan tentang “anak yang hilang”, walaupun inti ceritanya mempunyai kesamaan dengan kedua perumpamaan sebelumnya, yaitu tentang domba yang hilang (Luk. 15:1-7) dan uang yang hilang (Luk 15 :8-10), dapat juga dilihat adanya perbedaan yang nyata, antara lain:Domba yang sesat dan uang yang hilang dicari oleh pemiliknya sampai dapat, dan sesudah menemukannya pemiliknya mengajak tetangga-tetangganya bergembira bersama dia. Dalam cerita ini “anak yang hilang” tidak dicari, tetapi kembali ke rumah bapanya atas kesadarannya sendiri. Sembilan puluh Sembilan ekor domba, demikian juga Sembilan uang logam yang tidak hilang; tidak terpengaruh oleh domba atau uang logam yang ditemukan. Tetapi dalam cerita ini ketika “anak yang hilang” kembali, anak sulung yang tinggal bersama bapanya marah (15:28). Jadi, selain kegembiraan atas kembalinya si anak hilang, kemarahan anak sulung juga menjadi bagian penting dalam cerita ini.

 

II.  Penjelasan

Harta warisan sewajarnya diperoleh ahli waris jika yang mewariskannya sudah meninggal. Adalah tidak lazim jika seorang anak menuntut harta warisan yang menjadi bagiannya kepada orangtuanya yang masih hidup, seperti yang dilakukan oleh anak bungsu dari dua orang bersaudara dalam cerita ini. Hal ini boleh diartikan, dengan menuntut harta yang menjadi bagiannya dalam warisan orangtua, si anak bungsu sudah tidak menghormati orangtuanya atau bahkan telah menganggapnya mati. Dengan berat hati si bapak terpaksa membagi-bagikan hartanya. Dalam hal ini, orangtua tersebut juga harus bertindak adil; bahwa jika bagian si anak bungsu sudah diberi maka demikian juga halnya dengan si anak sulung.

Tentu sekali bahwa orangtua berharap anak-anaknya dapat hidup lebih baik dengan harta warisan yang sudah dibagikannya. Yang terjadi adalah si anak bungsu menjual harta bagiannya lalu pergi meninggalkan rumah orangtuanya. Dan diceritakan selanjutnya si anak bungsu hidup boros dan berfoya-foya. Boros dalam arti menghambur-hamburkan, menghabiskan atau menyia-nyiakan uangnya. Berfoya-foya dalam arti hidup tanpa berpikir, tidak teratur dan bebas tanpa memikirkan hari esok. Dapat ditebak selanjutnya si anak bungsu jatuh miskin karena uangnya telah habis.

“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula” adalah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan hidup si anak bungsu dalam cerita ini. Uang yang habis tentu menimbulkan persoalan tersendiri baginya, ditambah lagi bencana kelaparan yang parah yang menimpa negeri di mana ia tinggal, maka anak bungsu tersebut hidup melarat. Dalam kekurangan yang dideritanya maka si anak bungsu berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu soal makanan dengan menggantungkan hidupnya kepada seorang penduduk negeri itu dengan bekerja menjaga kawanan ternak babinya di ladang. Begitu laparnya si anak tersebut sehingga ia ingin mengisi perutnya dengan dengan memakan makanan ternak babi yang dijaganya. Hal itu terpaksa ia lakukan karena tidak seorang pun yang mau memberi ia makan. Perlu dijelaskan bahwa makanan babi yang disebut dalam cerita ini dalam bahasa Yunani berarti “kacang polong” yang biasa diberi menjadi makanan ternak, tapi terkadang juga dimakan oleh orang-orang miskin. Dapat dibayangkan, si anak yang terbiasa makan dengan makanan yang enak, kini dia berhadapan dengan makanan babi.

Demikian menderitanya dia, si anak bungsu kemudian tersadar. Ia kembali teringat bagaimana ia hidup dulu sewaktu tinggal di rumah orangtuanya. Dia tahu pasti bahwa orang-orang upahan ayahnya lebih layak dan berlimpah makanan daripada dia dalam kondisi saat itu. Kalimat “Aku akan bangkit”, ini menunjukkan suatu tekad baru untuk mengubah keadaan hidupnya. Meskipun dia sadar betul posisinya adalah anak yang telah berdosa dan tidak layak kembali karena ia sudah menerima bagiannya. Si anak bungsu cukup tahu diri akan keberdosaannya. Namun oleh tekad yang kuat ia memilih pulang ke rumah orangtuanya meskipun nantinya ia mendapat penolakan, paling tidak ia dapat menjadi orang upaan ayahnya, ia rela.

Adalah wajar sekiranya ayahnya tidak berbuat apa-apa atau bersikap biasa saja kepada si anak bungsu, karena ia telah kehilangan haknya di rumah itu dengan menuntut hak warisannya. Namun disebutkan justru si anak bungsu mendapat sambutan yang cukup hangat dari ayahnya. Meski si anak bungsu masih jauh dari rumah, ayahnya yang melihatnya langsung berdiri dan berlari menyongsong, merangkul dan menciumnya. Hal ini berarti bahwa orangtua tersebut juga selalu menunggu-nunggu kedatangan/kepulangan anak bungsunya itu. Rangkulan dan ciuman pada pipi merupakan sambutan yang hangat terhadap orang lain; ketika menyambut tamu atau bertemu keluarga atau sahabat. Kemudian si anak bungsu dipakaikan jubah yang terbaik, juga dikenakan cincin yang melambangkan kuasa atau kedudukan dan sepatu pada kakinya yang mengartikan bahwa si anak bungsu diterima bukan sebagai hamba (sebab hamba tidak memakai sandal/sepatu) tapi sebagai anak, serta baginya disembelih anak lembu tambun sebagai tanda betapa sukacitanya orangtua itu atas kepulangan anak bungsunya; “anak yang telah mati hidup kembali, anak yang hilang di dapat kembali” bagitu orangtua itu memaknainya.

Sementara itu, sejak harta warisan dibagikan dan selama kepergian adiknya bahkan sampai kembalinya, si anak sulung tetap bekerja, setia melaksanakan tugasnya di ladang. Saat itu, sepulang dari ladang belum bagitu jauh dari rumah si anak sulung mendengar suara musik dan keramaian yang berasal dari rumah orangtuanya. Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan, “ada apa gerangan?”. Pertanyaan yang disampaikan kepada salah seorang hamba ayahnya dijawab bahwa “kepulangan adiknyalah” yang menyebabkan suasana ramai di rumah tersebut. Manusiawi sekali ketika si anak sulung marah dan “ngambek” tidak mau masuk ke rumah. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh orangtuanya. Mengapa adiknya yang telah menuntut hak warisnya dan meninggalkan rumah; meninggalkan tugas-tugasnya sebagai anak, ketika ia kembali disambut dengan meriah, sementara ia yang tetap setia tinggal dan melaksanakan tugas-tugasnya tidak pernah diperlkaukan demikian.

Ayah dari kedua anak tersebut dalam cerita ini cukup mengerti dengan kemarahan putera sulungnya. Sebutan “anakku” dalam bahasan Yunani yang dipakai di sini menunjukkan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. “Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu”, kalimat ini hendak mempertegas bahwa semua yang ada saat ini adalah bagian si anak sulung sebab si anak bungsu sudah meminta bagiannya. Dan dengan baik si ayah memberikan pengertian bahwa kembalinya si anak bungsu, yang adalah adiknya sendiri, merupakan suka cita besar. Berpesta dan bergembira adalah hal yang sepantasnya dengan kembalinya “anak yang hilang”.

 

III.   Penutup

Yesus Kristus adalah ahli waris (Mrk 12:7), yang sebagai ahli waris Allah menerima warisan yang diberikan kepada-Nya berdasarkan hubungan-Nya dengan Allah. Yesus telah ditetapkan sebagai ahli waris segala sesuatu (Ibr 1:2). Orang Kristen mewarisi dari Adam kehidupan yang sia-sia yang dikuasai dosa (1 Ptr 1:18). Tapi di dalam Yesus Kristus mewarisi janji-janji Allah yang pertama diberikan kepada bapa-bapa leluhur Israel dan kepada bangsa Israel , dan karena orang Kristen diterima sebagai anak maka ia juga disebut ahli waris (Rm 8:17; Kis 3:25; Ef 1:6). Warisan/bagian pengikut Kristus ini dijamin oleh Roh Kudus (Ef 1:14) dan disimpan di Sorga untuk mereka (1 Ptr 1:4). Tapi berkat-berkat dari warisan ini dapat dinikmati “lebih dahulu” pada saat sekarang ini. Hanya mereka yang suci yang menerima Kerajaan Allah (Mat 25:34; 1 Kor 6:9-10; 15:50; Gal 5:21; Ef 5:5; Yak 2:5). Mereka memperoleh keselamatan (Ibr 1:14), berkat (1 Ptr 3:9), kemuliaan (Rm 8:17-18), tubuh yang tidak dapat binasa (1 Kor 15:50) dan hidup yang kekal (Mat 19:29).

Perumpamaan ini menggambarkan sikap Allah yang menebus. Anak yang hilang adalah analogi dari hidup orang percaya yang mewarisi Kerajaan Sorga tapi tidak mampu meletakkan “warisan” itu dengan baik dan benar. Ketika dunia menjadi orientasi hidup, maka orang percaya akan terjatuh ke dalam banyak persoalan dan kesesakan serta keberdosaan. Orang yang sadar akan keberdosaannya, seperti anak bungsu dalam perumpamaan ini, harus mengembalikan orientasi hidupnya kepada kehidupan sorgawi (Mat 6:33). Kembali ke rumah bapa adalah tekad yang harus dijalankan dengan satu pengharapan bahwa Allah itu baik; Dia tetap setia menunggu kita kembali dan berbalik kepada jalan-Nya (Yes 42:22; Yeh 33:11). Dan bagi orang-orang percaya yang tetap setia kepada Allah; berdirilah teguh, jangan goyah, hendaklah semangatmu menyala-nyala, layanilah Tuhan, sebab segala pekerjaan dalam Tuhan tidak akan sia-sia. Harta sorgawi adalah warisanmu (1 Kor 15:58)! Amin.


EPISTEL MINGGU III SETELAH TRINITATIS TANGGAL 10 JULI 2011

NATS : Mazmur 107:1-22

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

“Bersyukurlah Atas Kebaikan dan KAsih Setia Tuhan”

 

I.    Pendahuluan

Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani diberi judul “tehilim” yang berarti “nyanyian-nyanyian pujian” atau “puji-pujian”. Mazmur adalah syair, dan syair yang dimaksudkan adalah untuk dinyanyikan; bukan risalah ajaran atau doktrin. Mazmur mengungkapkan pengalaman-pengalaman keagamaan yang mencerminkan idealisme keagamaan yang saleh dan persekutuan dengan Allah, penyesalan karena dosa, ketaatan kepada Hukum Taurat Allah, penghormatan terhadap Firman Allah, kepercayaan yang teguh kendati kejahatan merajalela dan berjaya, serta ketenangan di tengah-tengah kebalauan. Kitab Mazmur terdiri dari 5 (lima) jilid (pembagian ini bermula pada LXX/Septuaginta, yang telah ada sejak 300 sM), dan nats bacaan/epistle minggu ini terdapat pada jilid ke-5 (Mzm 107-150), yang dikelompokkan kepada “nyanyian-nyanyian ziarah” atau kepada mazmur-mazmur hikmat yang memberikan kesaksian tentang pemeliharaan, kuasa dan pemerintahan Allah dalam sejarah.

 

II.   Penjelasan

Nats bacaan (epistel) minggu ini diawali dengan seruan dari pemazmur: “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”. Seruan ini disampaikan oleh pemazmur kepada orang-orang yang telah ditebus dari kuasa yang menyesakkan dan yang dikumpulkan dari negeri-negeri. Seruan ini menekankan bahwa Allah dalam kebaikan dan kasih setia-Nya bertindak memelihara hidup dan kehidupan mereka dan menjawab segala persoalan hidup, jasmani dan rohani. Dan pemazmur bersaksi bahwa Allah dalam pemeliharaan-Nya selalu berbuat dengan tepat dan benar.

Dalam ayat 4-22 nats bacaan minggu ini, pemazmur menyebutkan bagaimana Allah bertindak melepaskan dan menyelamatkan orang-orang yang mengembara, yang duduk dalam gelap dan kelam serta yang sakit. Orang-orang tersebut dengan persoalannya sendiri-sendiri dijawab oleh Allah dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Pengembara yang tidak menemukan kota/pemukiman, dalam kelietihan karena tidak makan dan minum, Tuhan bertindak dengan mengarahkan jalannya hingga sampai ke kota/pemukiman. Orang-orang yang duduk dalam gelap dan kelam karena pemberontakannya terhadap perintah-perintah Allah sehingga mereka terkurung dalam sengsara dan besi serta mengalami kesusahan, Allah oleh kebaikan dan kasih setia-Nya mengangkat dan membawa mereka keluar dari kesesakan mereka serta membebaskan mereka dengan memutuskan belenggu-belenggu mereka.Orang-orang yang sakit karena keberdosaannya dan tersiksa karena kesalahannya sehingga mengalami kemuakan dan berada di pintu gerbang maut/kematian; bagi mereka Allah bertindak melepaskan mereka dari kecemasan dengan menyematkan kesembuhan dan meluputkan mereka dari maut. Demikian Allah bertindak secara tepat dan benar diimani dan diamini pemazmur dalam pengalaman keagamaannya.

Tindakan Allah oleh kebaikan dan kasih setia-Nya yang memelihara tidak terlepas dari iman orang-orang yang ditebus-Nya. Pemazmur menyebutkan bahwa pemeliharaan Allah itu adalah tindakan Allah yang responsive karena mereka, dalam kesesakannya masing-masing,  berseru-seru kepada Allah. Artinya, pemeliharaan Allah nyata ketika manusia itu hidup dengan berorientasi kepada kebaikan dan kasih setia Allah serta memutlakkan diri (hati, pikiran dan jiwa) tunduk kepada otoritas Allah (Mzm 37:5; 1 Ptr 5:7).

Secara tersirat, pemazmur juga hendak mempertegas agar manusia tidak bersandar kepada dirinya sendiri, sebab ada saat dimana otak dan otot tidak berjaya melepaskan manusia dari persoalan dan kesesakan dalam hidupnya (Ams 3:5). Kata “berseru-seru” menghunjuk kepada perubahan mendasar pola keberimanan orang-orang yang disebutkan oleh pemazmur. Perubahan yang dimaksudkan adalah “pertobatan” mereka dari yang mengandalkan diri sendiri berbalik dan kembali hanya mengandalkan Allah (Yeh 18: 23, 32; 33:11).

Pemeliharaan Allah, oleh pemazmur dalam seruannya disebut sebagai dasar bersyukur. Adalah wajar jika kebaikan dan kasih setia Allah yang telah diterima diikuti oleh perbuatan-perbuatan syukur, yaitu dengan mempersembahkan korban syukur dan menceritakan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib itu. Hal mempersembahkan syukur dan bersaksi atas perbuatan Allah, inilah yang menjadi esensi dari seruan pemazmur pada ayat 1 nats bacaan ini. Bagaimana dengan kita di HKI Resort Bandar Lampung? Apakah kita masih melihat didalam perjalanan hidup kita Allah juga turut campur tangan menyelamatkan dan memberkati kita? Seperti isi Mazmur ini, kita juga adalah para Pengembara yang menemui banyak kesulitan dalam hidup ini. Renungkanlah awal mula perjalanan hidup kita, awal perantauan kita. Mungkin kita sangat memiliki keterbatasan waktu itu, dan kini ingatlah suka duka yang kita lalui dan bagaimana keadaan kita sekarang. Apakah kita masih mengimani bahwa apa yang kita miliki sekarang ini adalah berkat Allah? Karena itu, apakah kita sudah menjadi manusia yang semakin mampu bersyukur kepada Allah?. Nats Epistel ini mengajak kita untuk tetap mengucap syukur kepada Allah, bukan hanya dengan kata, melainkan juga dengan hati dan perbuatan.

 

III.  Penutup

Karya terbesar Allah dalam sejarah umat manusia adalah dengan menganugerahkan Putera-Nya Yesus Kristus untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa yang menyesakkan. Artinya, Yesus Kristus adalah bukti pemeliharaan Allah terhadap hidup kita, yang didorong oleh kebaikan dan kasih setia-Nya (Yoh 3:16). Dan jika kita berdiri dan tegar hingga saat ini, Firman Allah berkata bahwa itu bukanlah karena kekuatan dan kuasa kita melainkan semata-mata hanya oleh karena “cinta” Allah kepada kita. Dan agar senantiasa menerima pemeliharaan Allah, Firman Tuhan menegaskan agar orang-orang percaya tetap setia seperti Allah yang tetap setia dalam kasih dan anugerah-Nya (Why 2:10). Bagi yang menyadari keberdosaannya, Firman Tuhan mengingatkan, “bertobatlah” dan berbalik kembali kepada jalan Allah. Marilah mempersembahkan “korban syukur” dan mau memberitakan (bersaksi) tentang perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib sepanjang hidup kita. Amin

KHOTBAH MINGGU IV SETELAH TRINITATIS TANGGAL 17 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Kejadian 50: 15 – 21

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

“MENGAMPUNI & DIAMPUNI”

 

I.        Pendahuluan

Jika berbicara tentang pengampunan, rasanya tidak bisa dipisahkan dari tokoh yang bernama Yusuf, karena memang ia hidup benar tetapi keadaan hidup yang ia jalani sebelum meraih kesuksesan sungguh sangat memprihatinkan. Ia ditolak dan dijual oleh kakak-kakaknya sendiri, ia difitnah, lalu dipenjara. Semua penderitaan itu ia alami bukan karena ia berbuat jahat tetapi karena perbuatan jahat saudaranya sendiri. Perlakuan yang tidak manusiawi terhadap dirinya itu sudah sepantasnyalah jika membuat Yusuf menjadi dendam, tetapi karena ia hidup benar, ia tidak dendam kepada siapapun termasuk kepada saudara-saudaranya sendiri.

Manusia berencana Tuhanlah yg menentukan. Jika saudara Yusuf sebelumnya menginginkan agar Yusuf semakin sengsara maka yg terjadi adalah sebaliknya. Ditengah-tengah pengalaman pahit yang dialami Yusuf, Allah bertindak, dimana Yusuf dimampukan Allah menerangkan arti mimpi Firaun tentang masa kelimpahan dan masa kelaparan yang bakal terjadi masing-masing selama tujuh tahun. Diberitahukan juga mengenai apa yang hendak dilakukan mengatasi masa kelaparan itu. Dengan berita pemberitahuan itu, Firaun melihat Yusuf seorang yang penuh dengan Roh Allah. Sehingga Firaun bersaksi bahwa tidak ada orang yang demikian berakal budi dan bijak sana seperti Yusuf. Atas dasar itu Firaun melantik Yusuf menjadi seorang penguasa atas istana Kej 41:38-43. Yusuf semakin sukses dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang – bukan hanya keluarga – bangsanya tetapi secara internasional, yaitu melalui kepemimpinannya.

Dari jalan panjang perjalanan hidup Yusuf, kita bisa berefleksi bahwa ditengah pengalaman Pahit, Allah masih tetap menyertai umat yg taat kepadaNya. Tiap jemaat tentu bisa berefleksi, bahwa ditengah pahit manisnya kehidupan, TUHAN dengan caraNya tetap memberikan berkat bagi kita. Dan dari kisah hidup Yusuf inilah, akan kita jumpai pelajaran penting terutama dalam hal pengampunan. Nah, berikut ini adalah sepenggal kisah dari perjalanan hidup Yusuf, ada banyak makna lain yang bisa kita pelajari dalam rangka membangun kerohanian kita melalui karya Roh Kudus. Kita mulai.

 

II.       Pembahasan Nats & Relevansi

  1. Ayat 15 : Karena di Israel teradi kelaparan, maka saudara-saudra Yusuf pergi ke mesir. Mereka menghadap dan sujud di hadapan Yusuf. Kesalahan yg disadari sering membawa kita pada Rasa bersalah dan rasa takut. Dan sering kali ini bisa merusak. Kita menduga-duga segala kemungkinan. Sama seperti saudara-saudara Yusuf. Melihat apa yg telah mereka lakukan yaitu : menjerumuskan Yusuf pada sumur, menjualnya sebagai budak Potifar, membuang Yusuf dari ayah-ibu yg sangat mengasihi dia, mencuri masa remajanya, dll. Maka melihat kenyataan akan keberadaan Yusuf kini, dan keberadaan mereka kini, mereka menduga-duga “boleh jadi Yusuf akan mendendam ……”. Mereka menyadari potensi Yusuf untuk membalas dendam sangat besar. Dari saudara Yusuf ini kita bisa berefleksi bahwa ketika kita berdosa thd orang lain, kita bisa saja terus berprasangka-prasangka yg jahat terhadap ybs, yg dapat membuat hubungan kita atau keadaan semakin buruk. Tapi ingatlah, bagi orang yg takut akan TUHAN, Allah mengendalikan nya untuk rekaan-rekaan yg baik.
  2. Ayat 16. Ketakutan saudara Yusuf ternyata menghasilkan suatu strategi mengantisipasi. Sehingga mereka menyuruh orang untuk menyampaikan pesan “rekayasa” agar Yusuf mengampuni saudara-saudaranya. Satu hal yg menarik disini adalah bahwa Saudara Yusuf mengetahui bahwa Yusuf menghormati ayah mereka. Mereka bijak memakai potensi ini. Sebab itu mereka menyuruh orang lain untuk menyampaikan pesan ayah mereka sebelum mati, yaitu mengampuni kesalahan dan dosa saudara-saudaranya. Sebagai seorang korban kejahatan, Yusuf mempunyai alasan yang kuat untuk menolak permohonan dan pengampunan saudam-saudaranya yang disampaikan melalui utusan atau orang lain. la mempunyai alasan yang kuat untuk meminta supaya saudara-saudaranya sendiri yang datang dan memohon pengampunan. Begitu juga ketika saudara-saudaranya sendiri datang dan sujud didepannya serta menyatakan siap menjadi budaknya, Yusuf sebenarnya bisa saja dendam dan meminta syarat pemulihan hubungan. Tapi apa reaksi Yusuf yg sudah pernah terluka terhadap orang yg membuat luka tersebut ?? Yang dilakukan justru sebaliknya, ketika suruhan saudara-saudaranya menyampaikan pesan ayahnya, Yusuf menangis. Dan ketika saudara-saudaranya sendiri datang dan sujud didepannya serta menyatakan siap menjadi budaknya,Yusuf malah menghibur mereka agar tidak takut, Yusuf menenangkan hati mereka serta mengampuni kesalahan dan dosa saudara-saudaranya.
  3. Saudara-saudara Yusuf memiliki sisi positif lain yaitu menyadari kesalahan. Tidak semua manusia menyadari kesalahannya. Sering orang membela diri, melogikakan, menyudutkan orang lain, mencari kambing hitam, dll. Tetapi saudara-saudara Yusuf sadar akan kesalahan mereka. Mereka insyaf dan bersedia menerima hukuman. Meminta maaf pada adik sendiri, mau dihukum oleh adik sendiri bahkan menjadi budak saudara sendiri  artinya mereka bersedia melakukan apapun yg diperintahkan tuannya, adalah suatu perbuatan langka. Sering kali perseteruan antar anggota keluarga, karena persoalan warisan, pembagian tanah, sakit hati karena perkataan, baik dalam keluarga kandung, saompu, dll makin parah karena tidak ada pihak yg mau mengalah, rendah hati, mengampuni. Semua dibawa-bawa ke hasangaponnya. Sehingga ketinggian hati dipakai iblis membuat kita jauh dari Allah dan merusak kekerabatan. Buktinya ada beberapa keluarga yg tidak berkomunikasi seolah perseteruan yg diwariskan.
  4. Manusia mempunyai tabiat mendendam, memang dengan berbagai pertimbangan, boleh jadi sikorban untuk sementara menahan diri dan mengengkang amarahnya tetapi tetap mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan niatnya. Dan juga di kalangan bersaudara, faktor orang tua sering menjadi pertimbangan. Orang tua masih hidup, bila bersaudara ribut pikiran orang tua menjadi kalut, oleh karna itu yang bersangkutan menunggu orang tua meningggal. Mengapa Yusuf tidak mendendam dan mengadakan pembalasan? dan mengapa ia mengampuni saudara-saudaranya? Penulis kitab Kejadian menuliskan bahwa Yusuf adalah seorang yang takut melakukan kejahatan dan perbuat dosa terhadap Allah (Kej 39:7–10). Memang begitulah sesungguhnya orang yang takut akan Tuhan mengetahui bahwa hak Allah-lah dendam dan pembalasan, Ul. 32:25. Tidak seorangpun dapat bertindak sebagai Allah, atau mengantikan Allah mendendam dan mengadakan pembalasan. Tidak juga Yusuf, ia berkata “Jangan takut, sebab aku inikah pengganti Allah?” Yusuf menegaskan bahwa ia tidak dapat bertindak sebagai Allah atau menggantikan Allah. Yusuf tidak mendendam sama sekali. Dari sini bisa kita relevansikan bahwa Orang yg datang merasa bersalah jangan ditambah bebannya, tetapi difasilitasi menyadari akan kehidupan yg lebih baik. Ini artinya sangat diperlukan PENGAMPUNAN yg memang sangat baik untuk pemulihan luka pribadi dan hubungan dengan orang lain. (bnk. Ul. 32 : 25 ; Matius 5 : 23-24 ; Yeremia 24 : 11-12).
  5. Pada jaman ini juga banyak pergumulan dan tantangan yang di hadapi oleh keluarga orang kristen khususnya dalam hal memaafkan. Sehingga yang sering timbul adalah amarah, dendam, & balas dendam. Keadaan ini mem-perparah kehidupan manusia, dendam membuat banyak orang yang bertindak dengan kekerasan, pembunuhan, pelecehan, pemerkosaan, moral. Mengapa mengampuni itu sulit? Jawabnya :
  6. Karena belum bertobat dengan sungguh-sungguh. Artinya Roh Kudus belum ada dalam hidupnya, pikirannya masih dibutakan oleh ilah zaman.
  7. Karena merasa diri benar dan baik. Yusuf merendahkan diri sampai ia berkata, “Aku inikah pengganti Allah”, artinya ia hendak berkata aku juga bukanlah orang yang sempurna, ia melupakan segala kesalahan saudaranya. Orang yang merasa diri benar cenderung akan jadi pendendam.
  8. Karena tidak menyadari bahwa kedendaman itu merusak.
  9. Karena tidak dewasa, untuk mengenal kehendak Allah (Band. Roma 8:28 & Roma 12: 20 : harus mengampuni dan tetap berbuat baik terhadap semua orang sebab pembalasan adalah hak Tuhan.
  10. Karena tertipu iblis, yang memang ingin agar kita tetap hidup dalam kedendaman. Sebab seorang yang tetap dendam, iblis akan berkuasa atas hidupnya, sehingga tindakannya selalu sesuai dengan keinginan iblis.

 

6. Yusuf mampu menerima, memaafkan dan melupakan kesalahan saudara-saudaranya. (Hal pengampunan ini dapat kita lihat juga dalam Ayub 42:10. Setelah Ayub memaafkan serta berdoa buat sahabat-sahabat yang menyakiti hatinya, keadaannya dipulihkan Tuhan.) Jadi, pengampunan akan membuka jalan untuk kita dapat meraih berkat-berkat Tuhan. Salah satu penghambat berkat yaitu kebencian dan kedendaman, hal ini dapat kita bandingkan dengan Matius 5:23-24, selama kita masih menyimpan rasa dendam terhadap orang lain, maka segala perbuatan baik kita akan menjadi sia-sia dan tidak berarti sama sekali di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya sebelum kita menghadap Tuhan, kita harus berdamai atau saling mengampuni, karena yang Tuhan lihat bukan sesuatu yang kita persembahan, tetapi keberadaan hati kita. Juga kita lihat dalam Roma 12:17-18, ditegaskan “janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!”.

 

PENUTUP

Jika kita ingin melihat berkat-berkat Tuhan mengalir  dalam hidup kita, maka siaplah untuk selalu hidup dalam pengampunan. Sadari bahwa benci dan dendam adalah ikatan iblis. Kadangkala setan memang gagal membuat kita marah dan bersungut-sungut pada Tuhan atau membuat kita undur dari Tuhan, tetapi dia manaruh rasa dendam di hati kita kepada sesama. Betapa malangnya orang yang masih hidup dalam kedendaman dan kebencian, karena ketidaksiapan mengampuni membuat kita tidak dapat diampuni oleh Allah. Jadi sesungguhnya tidak ada alasan untuk kita tidak dapat mengampuni. Sebab di dalam Matius 6: 14-15, jika kita tidak mengampuni kesalahan orang lain maka Bapa di Sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Ketidaksiapan mengampuni juga membut kita menderita (Mazmur 6:8), ilmu psikologi juga mengatakan Seorang yang pendendam akan mudah menderita penyakit, tidak tenang hidupnya dan kehilangan damai.  Untuk itu marilah buang segala kedendaman dan kebencian dan hiduplah dalam pengampunan, maka perkara-perkara dahsyat akan dinyatakan Tuhan dalam hidup kita. Amin.

EPISTEL MINGGU TANGGAL 17 JULI 2011

NATS : KISAH PARA RASUL 19 : 1-7

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

“SATU BABTISAN”

 

I.    PENGANTAR

Tidak dapat disangkal bahwa baptisan adalah sebuah topik penting Alkitab. Baptisan secara langsung disebutkan kira-kira 100 kali di dalam 12 kitab dalam Perjanjian Baru. Yesus membicarakan baptisan setelah Dia bangkit dari antara orang mati, sambil mengatakan kepada rasulNya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Ini adalah kehendak Kristus supaya pengikut-pengikutNya pergi dan mengajar (menjadikan murid) segala bangsa, membaptiskan mereka yang percaya dan menerima pengajaranNya.

 

II.   PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

  1. Pada waktu itu, Paulus melakukan perjalanan Misinya, mengabarkan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Paulus yg masa lalunya adalah orang yang mengejar-ngejar orang percaya lalu menghukum mereka, kini setelah bertemu dengan Allah hidupnya berubah. Dia menjadi Rasul Tuhan Yesus. Dari perubahan hidup Paulus ini bisa kita teladani bahwa orang yang telah bertemu dengan Tuhan pasti hidupnya berubah. Orientasinya adalah Firman Tuhan. Cara hidupnya adalah sesuai dengan kehendak Allah. Bagaimana dengan kita? Apakah hidup kita sudah berorientasi pada Tuhan atau masih berorientasi pada kedagingan? Apakah kehidupan kita juga diisi dengan terberitanya injil melalui doa, perkataan atau perbuatan kita? Atau orang disekita kita justru tidak merasakan hal itu?
  2. Pada perjalanannya Paulus bertemu dengan umat percaya yang sebelumnya telah dibabtis oleh Yohanes. Dimana orang yang percaya kepada Tuhan Yesus bertemu, pasti karya Tuhan lah yang dipercakapkan bukan hal lain. Paulus mengabarkan tentang Roh Kudus. Dan ternyata, orang banyak itu berkata belum pernah mendengar tentang Roh Kudus. Paulus bertanya : Kalau begitu dengan babtisan manakah kamu telah dibabtis?. Karena pada waktu itu ada dua jenis babtisan yang dikenal, yaitu babtisan Yohanes. Babtisan Yohanes memang telah lebih dahulu banyak dilakukan, bahwa Yesus juga pernah dibabtis oleh Yohanes. Babtisan Yohanes lebih kepada babtisan pertobatan. Kini setelah Tuhan Yesus telah mati disalibkan, bangkit dan naik ke surga, maka Babtisan dalam Nama Yesus adalah Babtisan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat. Dan akhirnya, ke 12 orang itu memberi dirinya dibabtis dalam nama Tuhan Yesus.
  3. Dan ketika Paulus menumpangkan tangannya di atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh. Ingat : ke dua belas orang itu tidak berhenti dalam aktifitas berbahasa roh saja, melainkan mereka juga bernubuat. Berbahasa roh dan bernubuat adalah satu kesatuan yang terkait. Ini mengingatkan kita, seiring dengan banyaknya Gereja-gereja yang mengaku berbahasa Roh akan tetapi tidak satupun diantara mereka yang mengerti apa yang diucapkan, bahkan mereka berbahasa roh dan sampai dengan berakhirnya ibadah tidak ada seorangpun diantara mereka yang menafsirkannya dan mengajarkan apa arti kata-kata yang mereka ucapkan. Sehingga aktifitas yang mereka akui sebagai berbahasa roh itu akhirnya membuat bingung orang yang hadir, sia-sia diucapkan diudara. Kita kembali diingatkan apa yang disampaikan Paulus pada 1 Korintus 14.
  4. Mengapa Kita Perlu Dibaptis dalam nama Tuhan Yesus? Bolehkah orang Kristen menolak untuk dibaptis? Biasanya pertanyaan semacam itu diajukan oleh dua macam orang, yaitu orang yang belum percaya atau orang yang tidak tahu mengapa seorang Kristen perlu dibaptis. Berikut ini akan dikemukakan empat alasan mengapa kita perlu dibaptis:
  • Pertama, kita perlu dibaptis karena Tuhan Yesus memerintahkannya (Matius 28:19). Kita perlu dibaptis sebagai tindakan ketaatan kita terhadap perintah Tuhan Yesus tersebut. Bila seseorang tidak rela untuk mentaati perintah Yesus Kristus, patut diragukan apakah dia benar-benar percaya kepadaNya (Bandingkan dengan Yohanes 14:15, 21, 23, 24).
  • Kedua, kita perlu dibaptis sebagai pengakuan kepada dunia bahwa manusia lama kita telah mati dan dikuburkan bersama dengan kematian Kristus; dan sekarang kita hidup dalarn kehidupan baru yang dihasilkan oleh kebangkitan Kristus (Roma 6:1-4, 2 Korintus 5:17; Galatia 2:19-20). Reaksi yang menyadari akan cinta kasih Tuhan yang besar yang telah menebus kita maka kita pasti akan menunjukkan aksi kita, yaitu ingin membalas cinta Tuhan tersebut dengan berbuat kasih pada orang lain.
  • Ketiga, kita perlu dibaptis karena itulah respons yang wajar dari orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus. Kisah Para Rasul memuat banyak contoh praktek baptisan yang dilakukan terhadap orang-orang yang percaya setelah mendengar berita lnjil. Sekitar tiga ribu orang dibaptis setelah mendengar berita lnjil pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2). Orang-orang Samaria (dan juga Sidasida dari Etiopia) dibaptis setelah mendengar berita lnjil yang disampaikan oleh Filipus (Kisah Para Rasul 8). Kornelius dan orang-orang yang berkumpul di rumahnya dibaptis setelah mendengar berita lnjil yang disampaikan oleh Rasul Petrus (Kisah Para Rasul 10). Di samping itu, kita juga bisa membaca tentang pembaptisan terhadap Paulus atau Saulus (Kisah Para Rasul 9), Lidia dan seisi rumahnya serta kepala penjara Filipi dan keluarganya (Kisah Para Rasul 1 6), dan banyak kisah lain.
  • Keempat : Dalam surat Roma 6:5 disebutkan bahwa baptisan itu ialah persekutuan orang yang dibabtis dengan kematian Kristus dan sebagai akibatnya ialah hidup baru dalam Kristus. Dalam Titus 3 : 5 rasul Paulus menggunakan istilah ‘pemandian kelahiran kembali’ yang dapat kita bandingkan dengan perkataan Yesus sendiri tentang kelahiran dari air dan Roh, Yoh. 3 : 5. Dengan kata lain baptisan bermakna pembaharuan dan kelahiran kembali. Pembabtisan yang dengan tegas dikaitkan dengan keselamatan kita dengar dalam perkataan Yesus sendiri : “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mark. 16 : 16). Yang memegang peranan penting dalam perkataan Yesus ini ialalah hal percaya atau beriman. Tanpa iman-percaya baptisan yang diterima tidak akan bermakna apa-apa dalam perolehan keselamatan, karena Yesus sendiri mengatakan selanjutnya:“tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”.

5. Bolehkah di Baptis Ulang? Padahal waktu kecil sudah diBabtis dalam Dalam Nama Allah TRITUNGGAL.  Baptisan air’ hanyalah lambang dan yang penting ‘apa yang dilambangkannya’, dan Perjanjian Baru tidak menjelaskan harus dipercik, masuk air kemudian di guyur air atau diselam, jadi bisa dengan cara apapun (basuh, percik, guyur, selam)  khususnya jika ‘air’lah yang digunakan. Yang terpenting dalam upacara itu benar-benar ada ‘iman, kesadaran akan dosa dan mengakuinya, bertobat dan disertai pengharapan akan kebangkitan dalam Kristus baik oleh yang bersangkutan atau orang tua yang membawa anaknya untuk dibabtis.

Lantas bagaimana pandangan kita tentang banyaknya orang yang dibaptis ulang? Baptisan ulang lebih banyak dilakukan oleh aliran-aliran yang menekankan selam. Jika demikian, mereka lebih menekankan lambang lebih dari yang dilambangkan yaitu ‘kepercayaan kepada Tuhan Yesus dan pengharapan akan kebangkitan dalam Kristus’ dan telah dilakukan dalam nama Allah ‘Bapa, Putra dan Roh Kudus’. Maka ‘mengulang baptisan’ berarti melecehkan ‘pengakuan dan sakramen dalam nama Allah tritunggal’ yang telah dilakukan sebelumnya. Kita perlu berhati-hati untuk tidak lebih menekankan lambang daripada yang dilambangkan, soalnya di kalangan yang menekankan baptisan selam pun banyak terjadi penafsiran yang keliru. Ada yang telah dibaptiskan selam ketika pindah gereja harus dibaptiskan ulang lagi karena berbagai alasan, ada yang menyebut karena belum dibaptiskan ‘oleh hamba Tuhan yang diurapi’, ada yang menyebut karena airnya harus ‘mengalir jadi tidak absah kalau di dalam kolam dalam gedung gereja yang airnya diam’, bahkan ada yang lebih lagi menyebut bahwa ‘baptisan baru sah bila diselam di sungai Yordan di tanah suci’ seperti Yesus dan para Rasul. Lebih melecehkan lagi kalau baptisan itu dilakukan ‘berulang-ulang’. Banyak yang mengikuti ‘holy land tour’ kemudian dibaptiskan ulang lagi di sungai Yordan dengan tambahan biaya US$.5 (kata sebuah brosur) dan diberi sertifikat baptisan ‘dalam bahasa Ibrani.’ Orang yang melakukan demikian jelas tidak mengerti arti makna baptisan itu sendiri dan arti baptisan air sebagai lambang dan apa yang dilambangkannya. Orang yang dibaptiskan ulang atau melakukannya berulang-ulang itu bisa diibaratkan orang yang tidak sadar bahwa pertobatan dan imannya yang diakuinya dalam baptisan pertama tidak sah atau ‘murtad’ lagi dan perlu mengulangnya dan kembali mengaku ‘dosa dan iman’ lagi, ini merupakan pelecehan rohani. BACA Ibr.5:12-6:6.

PENUTUP – Apa Pandangan HKI tentang Babtisan Ulang ?

Memang ada ditemukan pelaksanaan babtisan ulang dalam Kis 19 : 1-6 . tatapi hal ini dilakukan karena yg bersangkutan waktu itu pernah dibabtiskan oleh Yohanes Pembabtis tidak dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh kudus. Karna itu perlu di babtis kembali.  Jadi bukan karena ada istilah babtisan ulang dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dan menganggap babtisan anak/ bayi dulu tidak sah. Babtisan adalah tanda masuk menjadi umat kerajaan Allah. Babtisan telah memberikan memateraikan bahwa kita adalah anak-anak Allah, Babtisan menandakan kita telah menjadi milik Allah, mulai dari bayi hingga sepanjang hidup kita. Dengan memahami ini semua, dapat kita simpulkan bahwa seseorang dibabtiskan hanya satu kali saja.

Jadi tidak ada istilah Babtisan Ulang. Organisasi gereja manapun tidak berhak menyatakan syah atau tidaknya suatu babtisan oleh Gereja lain jika dilakukan dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Semua Babtisan apakah dilakukan waktu bayi atau sudah dewasa adalah benar jika dilakukan dalam Nama Allah Tritunggal itu. Jika ada orang yg dibabtiskan ulang : yg walaupun waktu kecil ia sudah dibabtiskan di Gereja dihadapan seluruh jemaat dan dihadapan Allah dalam Tritunggal. Bararti ia sudah tidak meyakini iman ayah dan ibunya berbuat yg terbaik baginya sejak kecil dan menghantarnya ke katekisasi sidi (marguru malua). Babtisan dewasa boleh dilakukan jika yang bersangkutan menerima Yesus, menjadi orang percaya (masuk Kristen) ketika ia sudah dewasa. Jadi bukan mengulangi babtisan waktu kecil dulu. Puluhan kalipun orang dibabtis, dengan berbagai carapun baik dipercik, dibasuh, sampai diselamkan, tetapi jika ia tidak beriman dan hidupnya penuh dengan buah Roh maka semua adalah sia-sia. Karena inilah maka Siasat Hukum Gereja HKI Pasal 5 : bagian H menetapkan bahwa Orang yg menerima dan megakui babtisan ulang : akan dikenakan Siasat Hukum Gereja , dan perlu mendapatkan penggembalaan.

 

KHOTBAH MINGGU V SETELAH TRINITATIS TANGGAL 24 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Yohanes 1:35-42

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

TOPIK MINGGU : ASA MOLO DIBAGASAN KRISTUS HALAK, NA TINOMPA NA IMBARU MA I (2 KORINT 5 : 17). JADI SIAPA YANG ADA DI DALAM KRISTUS IA ADALAH CIPTAAN BARU.

 

I.        PENGANTAR

Tujuan Yohanes menulis kitab Injil Yohanes adalah agar orang-orang yg membacanya percaya bahwa Yesus adalah Mesias (Yoh.20 : 31). Yohanes Pembabtis adalah seorang Nabi yang luar biasa pada zamannya. Jika biasanya banyak orang yang mengaku ‘Nabi’ pada waktu itu pergi keliling kota mencari dan mengumpulkan pendengar suara kenabiannya, maka bagi Yohanes, justru orang banyaklah yg datang ke gurun untuk mendengarkan kotbahnya. Hal ini berkaitan dengan konteks Nats yaitu sekitar tahun 400an dimana keadaan masyarakat waktu itu chaos, penjajah Roma menindas rakyat Yahudi dan diantara sesama rakyat Yahudi juga saling tindas, ketika itu tidak ada nabi yg berbicara sebagai perantara Tuhan, tetapi banyak yang mengaku nabi. Ditengah keadaan itulah Johanes pembabtis hadir, seorang  nabi yg pemberani, seorang pengemban penderitaan rakyat, kata-katanya pedas dan mengoreksi bentuk kehidupan orang-orang yg “mengaku beragama” tetapi tidak perduli  terhadap sesamanya, supaya mereka sadar akan dosanya dan bertobat ( Lih. Lukas 3 ). Ditengah ke”populeritasan”nya, Johanes adalah seorang figur yg sederhana. Ia hidup dengan pola yg berbeda dari pola masyarakat pada waktu itu. Yohanes tinggal di gurun pasir, makanannya belalang dan madu hutan. Jubahnya terbuat dari bulu onta yg amat kesat (menggambarkan kualitas bahan pakaian yg amat sederhana) dan ikat pinggangnya dari kulit. Ia benar-benar serahkan hidupnya untuk mengikuti panggilan Allah ( Markus 1 : 6 ).

Pada waktu itu tumbuh dan berkembang paham Yudaisme yg didasari semangat Nasionalis keYahudian. Rakyat merindukan zaman baru, zaman yg memulihkan Kerajaan Israel seperti masa Daud, yg dibawa oleh seorang figur pemimpin revolusi keturunan Daud yang dikenal sebagai Mesias. Pengharapan yg demikian yg selalu mereka harapkan untuk terwujud. Oleh karena itu rakyat selalu peka terhadap sesuatu hal yg baru. Sehingga, pada waktu itu, berita tentang Johanes pembabtis cepat tersebar dan membuat banyak orang yg tertarik dengan suara kenabiannya. Dan Karena suara kenabiannya, pada saat itu banyak asumsi tentang Yohanes Pembabtis. Ada yang mengatakan dia adalah Elia, nabi, bahkan ada yg mengatakan bahwa Yohanes adalah Mesias ( Lih. Lukas 3 : 15 ).

 

II.       PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

Dalam Perikop ini, adalah membicarakan bagaimana Yohanes sebagai nabi Allah benar-benar mempersiapkan jalan untuk Tuhan Yesus. Dia dalam pemberitaannya hanya menonjolkan Yesus, dia tidak mau terjebak oleh egoisme dan ambisi pribadi supaya terkenal sebagai seorang nabi bahkan lebih dari itu dianggap sebagai Yesaya bahkan Mesias. Tetapi penduduk Yerusalem menganganggap seruan Yohanes adalah aneh, sehingga dianggap perlu mencari tahu siapa dia sebenarnya. Ketika orang Yahudi dari Yerusalem yang termasuk didalammnya adalah orang Farisi, mengadakan penyidikan tentang kesiapaan Yohanes. Dia menjawab secara blak-blakan bahwa dia bukan Yesaya dan juga bukan Mesias. Penyidikan itu terjadi di Betania yang diseberang sungai Yordan, dimana Yohanes membaptis (Baca Yoh.1:19-28). Dua hari setelah kejadian ini, itulah yang akan kita bahas dalam perikop berikut ini.

Dalam teks ini kita temukan bahwa Yohanes Pembaptis sangat jujur dan terus terang memberitahukan kesiapaan Yesus Kristus. la tentu tahu bahwa membicarakan Yesus bersama murid-muridnya dengan cara seperti itu sama dengan menyuruh muridnya meninggalkan dirinya; mengalihkan kesetiaan para muridnya kepada guru baru yang jauh melebihinya bahkan tiada taranya. Tetapi memang untuk itulah Yohanes hadir dalam pentas dunia. Dari padang gurun dia berseru-seru, supaya setiap orang bertobat sebab Kerajaan Allah sudah dekat; persiapkanlah jalan bagi Tuhan dan luruskan jalan bagiNya. Semua itu dilakukannya bukan untuk menarik perhatian orang tertuju kepadanya, melainkan agar mereka lekat kepada Kristus. Kalau kita pikirkan dengan logis; dari sudut pandang kita sesungguhnya adalah sangat sulit untuk menyerahkan tempat dan pekerjaan yang sangat kita nikmati kepada orang lain, lalu mengambil tempat kedua sebagai gantinya. Tetapi itulah yang Yohanes lakukan setelah Yesus muncul, tanpa pikir panjang dan membuat perhitungan dia langsung menyerahkan orang-orang miliknya kepada Yesus. Terbukti dua orang murid dekat Yohanes meninggalkannya lalu mengikut Yesus.

Semula kedua murid itu merasa malu dan canggung untuk segera mendekati Yesus, sehingga mereka hanya mengikutinya dengan rasa hormat dari kejauhan. Tetapi Yesus tahu itu dan tidak membiarkan kejanggalan seperti itu berlangsung lama. Segera la melakukan hal yang khas: Yesus menoleh kepada mereka dan mengajak mereka berbicara. Itu berarti Yesus menerima dan menampung serta memberikan kemudahan bagi mereka. Yesus membukakan pintu hingga mereka lebih mudah masuk. Apa yang Yesus lakukan membuktikan bahwa inisyatif dan langkah pertama selalu dari Allah untuk manusia boleh dekat kepadaNya. Ketika pikiran manusia mulai mencari dan hatinya mulai merasa rindu, Allah datang bukan hanya untuk menolong serta memberikan tumpangan tetapi bahkan menerima dan menampung sepenuhnya. Ketika manusia mencari dan rindu kepadanya, Allah datang menemuinya. Kalau kita mencari Allah sebenarnya kita pergi mencari Dia yang sedang menantikan kita; bahkan ketika seperti itu Tuhan lebih dahulu mengambil inisyatif melangkah untuk menemui kita di tengah perjalanan kita.

Yohanes menyebut Yesus dengan sebutan: Anak Domba Allah. Kemungkinan besar Yohanes ingat akan Anak Domba Paskah. Waktu itu hari raya Paskah belum lama berlangsung (Yoh 2:13). Demikian juga mungkin teringat tentang anak domba yang disembelih melindungi rumah-rumah orang Israel pada malam hari waktu mereka meninggalkan Mesir (Kel 12:11-13). Yohanes adalah anak seorang imam, ia tentu tahu tentang upacara keagamaan di Bait Allah dengan segala korban-korbannya. Setiap pagi dan petang ada anak domba yang dikorbankan di bait Allah untuk dosa-dosa umat Israel (Kel 29:38:42). Anak domba merupakan simbol penakluk yang besar. Anak domba melambangkan orang kuat Allah. Yesus adalah orang kuat Allah yang berperang melawan dosa.

Ketika dua orang murid Yohanes itu datang kepada Yesus, la memulai percakapan dengan menanyakan hal yang sangat dasariah di dalam hidup: “Apakah yang kamu cari?”. Pada jaman Yesus di Palestina, adalah merupakan hal yang sangat relevan untk menanyakan hal tersebut. Oleh karena waktu itu memang banyak orang yang suka mencari hal-hal yang dianggap mereka penting. Banyak para peminat Hukum Taurat yang mencari hal yang halus yang tersembunyi dan mendalam dari pokk-pokok rumit Hukum Taurat. seperti yang dilakukan ahli taurat dan Farisi. Banyak juga orang mencari kesempatan untuk memperoleh kedudukan dan kuasa seperti yang dilakukan orang-orang Saduki. Banyak juga para nasionalis Yahudi mencari tokoh politis ilahi pemimpin militer yang mampu menghancurkan kekuatan penjajah Romawi seperti yang dilakkan para Zealot. Banyak juga dengan rendah hati mencari Allah serta kehendakNya seperti dilakukan oleh para perenung. Banyak juga orang kebingungan oleh karena terjerat dosa, lalu mencari terang serta pengampunan Allah di jalan hidupnya. Mungkin sekali Yesus ingin menguatkan motivasi kedua murid Yohanes yang baru datang kepadaNya. Tentunya adalah sangat mendasar dan menarik jika kita mencoba mengarahkan pertayaan Yesus ini kepada diri kita…dan mari kita menjawab dengan sejujurnya. Apa yang kamu cari dalam berTuhan : Apakah ketenteraman degan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, kedudukan yang aman, tempatsantai, harta benda? Ataukah kamu sedang mencari dan mengusahakan karier, kuasa, ketermukaan dan gengsi? Atau kamu sedang mencari semacam kedamaian, yaitu suatu hal yang memungkinkan hidup damai dengan dirinya, dengan sesama dan Allah?

Dari jawaban murid Yohanes kepada Yesus adalah: Rabi (guru) dimanakah kamu tinggal? Dengan jelas bahwa mereka ingin mengetahui tempat tinggal Yesus. Mereka menyebut Yesus sebagai sebutan Rabbi, yaitu suatu kata Ibrani yang secara hurufiah berarti `Orang besarku’. Mereka ingin bergaul lebih lama dengan Yesus serta membicarakan persoalan dan kesulitan mereka. Orang yang mau jadi murid Yesus tidak akan puas dengan pembicaraan yang singkat denganNya. Disini terlihat niat mereka ingin bertemu Yesus bukan kenalan sambil lalu, melainkan sebagai kawan akrab di tempat tinggal Yesus. Yesus mengetahui apa yang mereka pikirkan; sehingga dengan begitu resfons Dia menjawab: Marilah dan kamu akan melihatnya. Dengan jawaban ini la mengajak murid Yohanes tadi bukan hanya untuk datang dan berbicara, tetapi juga untuk datang dan menemukan hal-hal yang hanya Yesus saja yang bisa menunjukkannya kepada mereka.

Ketika Andreas membawa Petrus kepada Yesus, la memandang Petrus. Kata ibrani yang dipakai untuk memandang adalah embleipein. Kata ini mengandung arti memandang secara cermat, terus menerus dan mendalam. Sehingga tidak hanya melihat hal-hal yang tampak saja tetapi menembus masuk ke dalam hati orang yang dipandang. Ketika Yesus memandang Simon, la berkat kepadanya:”Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (batu) (artinya: Petrus). Kefas adalah bahasa Aram sementara Petrus adalah bahasa Yunani yang artinya adalah sama-sama batu. Dan kemudian hari, jalan hidup Simon benar-benar menjadi sebuah batu yang kuat menghadapi segala bentuk tantangan dalam Pekabaran Injil yang dilakukannya. Jemaat terkasih, Tuhan juga sedang memandang kita saat ini, bukan hanya sekedar memandang, Ia juga selalu memberkati kita. Untuk itu sudah selayaknya kita membawa diri kita dan membawa orang lain termasuk keluarga kita kepada Tuhan Yesus, maka percayalah hidup kita akan diubahkan Tuhan Yesus. Mari bersekutu bersama Tuhan Yesus dalam doa, persekutuan ibadah, pembacaan dan perenungan FirmanNya dan dalam tiap langkah kita. Kita akan merasakan perlindunganNya yang luar biasa dan berkatNya selalu baru setiap hari.

 

III.      PENUTUP

Hal yang sangat menarik dalam cerita ini ialah tentang bagaimana Yesus memandang orang,  la tidak hanya memandang keadaan manusia itu, tetapi juga melihat bahwa manusia itu bisa berubah menjadi manusia yang baru. Untuk itu, mari datang kepada Tuhan Yesus dan menjalani kehidupan ini bersama dengan Dia. Amin.

 

EPISTEL MINGGU V SETELAH TRINITATIS TANGGAL 24 JULI 2011

NATS EPISTEL: Pilipi 1:1-6

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

CIRI KHAS JEMAAT YANG DEWASA

 

I.        Pendahuluan

Gereja di Filipi didirikan oleh Paulus dan teman-teman sekerjanya (Silas, Timotius, Lukas) pada perjalanan misi yang kedua sebagai tanggapan terhadap penglihatan yang Allah berikan di Troas (Kis 16:9-40). Dua kali Paulus mengunjungi gereja ini pada perjalanan misinya yang ketiga (Kis 20:1,3,6).

Paulus menjalin hubungan yang baik dengan jemaat Pilipi, hal ini terlihat dari bantuan dan kesediaan mereka mencukupkan kebutuhan Rasul Paulus ketika berada di Makedonia (2 Kor 11:9, Pil 4: 15-16) dan dengan bermurah hati memberi persembahan yang dikumpulkan untuk orang Kristen yang berkekurangan di Yerusalem (bd. 2Kor 8:1–9:15). Surat ini dikirimkan ketika Paulus dalam penjara di kota Roma (Kis. 28:16-31) sebagai ucapan terimakasih dan sebagai wujud rasa syukurnya atas segala kebaikan yang jemaat Pilipi lakukan baginya (Fili 4:14-19). Kemudian dia juga menasehatkan kiranya jemaat ini semakin menunjukkan kasih dalarn persekutuan, rendah hati dan selalu berdamai dalam Kristus. Surat ini memusatkan perhatian pada Kristus Yesus sebagai tujuan hidup dan pengharapan orang percaya akan hidup kekal.

 

II.       Penjelasan Nats.

1.       Saudara terkasih, Nats ditulis Paulus ketika dia dalam penjara. Reaksi orang saat itu terhadap pemenjaraan Paulus tidak sama. Ada yang sedih dan prihatin. Itu adalah reaksi wajar, sebab dipenjara berarti dibatasi ruang gerak kebebasannya. Mereka kuatir bahwa pemenjaraan Paulus akan berakibat buruk pada kelangsungan pewartaan Injil (ayat 12-13). Tetapi ada pula orang tertentu yang karena iri terhadap pelayanan Paulus, malah senang bila Paulus dipenjara. Mereka senang bila Paulus susah karena melihat bahwa tugas pewartaan Injil yang dilakukannya kini diambil alih oleh orang-orang itu (ayat 17). Ternyata kedua hal itu sama sekali tidak menyusahkan Paulus. Pertama, karena di dalam penjara ia tetap bebas bicara menyaksikan Injil (ayat 12). Kedua karena menjadi jelas bahwa ia dipenjara karena Injil bukan karena kesalahan (ayat 13). Ketiga, karena keterpenjaraan Paulus malah menyemangatkan Kristen untuk berani bersaksi bagi Yesus (ayat 14). Inilah yang menjadi pembahasan perikop kita Minggu ini.

Seperti biasanya Paulus tidak pernah lupa mengawali setiap suratnya dengan ucapan berkat dan sekaligus doanya untuk setiap jemaat yang disapa dan dilayaninya dengan: ”Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu”. Paulus selalu bersyukur kepada Tuhan ketika mengingat jemaat Pilipi. Dalam bahasa Yunani : Eucharisto berarti mengucap syukur tentang sesuatu yang telah diterima dari Tuhan dan perbuatanNya yang penuh kasih karunia dan kasih setiaNya kepada jemaat tersebut. Paulus mengirimkan salam yang sarat dengan kebenaran teologis. Seperti halnya sumber salam itu ialah Keesaan Allah, Bapa dan Putra, yang dari-Nya mengalir kasih karunia dan damai sejahtera (ayat 2), demikian pula pemberi salam dan alamat salam itu pun kompak dalam persekutuan mereka (ayat 1). Dia menyebutkan bahwa mereka adalah orang kudus dalam Kristus. Ini adalah suatu sanjungan tentang keberadaan jemaat yang ketika itu sudah pada tahap yang begitu baik. Artinya bahwa kehidupan mereka sudah bisa menjadi teladan. Alangkah indahnya bila kekompakan sedemikian kita alami juga dalam tim pelayan dan jemaat kita kini.

2.       Ingatan yang menyukakan. Manusia dikaruniakan Tuhan ingatan. Sayangnya ingatan kita tentang orang lain, atau ingatan tentang diri kita yang kita tinggalkan pada orang lain sering tidak positif. Ingatan Paulus tentang jemaat di Filipi membuatnya mengucap syukur dan bersukacita (ayat 3-4). Itu tidak dibuat-buat, sebab jemaat itu terlibat aktif dalam pelayanan misi Paulus. Sukacita Rasul menjadi bertambah-tambah karena begitu jelas kelihatan buah dari pelayanan Injil yang dia beritakan ke Pilipi. Hal ini terlihat dari kehidupan persekutuan jemaat yang penuh kasih, kesatuan dan keteguhan iman. Walaupun Paulus tidak lagi bersama-sama dengan mereka karena pekerjaan Pelayanan Injil ke tempat yang lain, namun Paulus selalu menyebut mereka dalam doanya sebagai mana dalam teks ini. Bagi paulus mengingat Jemaat Pilipi berarti mengingat hal-hal yang membahagiakan yang membuatnya bersukacita. Sehingga dalam doanya pun ia selalu bersukacita datang kepada Tuhan dan memohon kiranya bagi mereka Tuhan tambahkan kelimpahan. Dan bagi jemaat Pilipi, Paulus menegaskan apa yang mereka terima dan hidupi sesungguhnya hanyalah kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus. Berdoa dan mengucap syukur, dimana doa dan permohonannya bukan hanya untuk dirinya sendiri; adalah sikap yang harus kita teladani. Walaupun Paulus hidup ditengah kekangan dalam penjara tetapi dari balik jeruji tersebut Injil tetap bisa tersiar. Dalam keterkekangan dia tetap dipakai Tuhan membebaskan jiwa jiwa yang terbelenggu. Paulus hidup selalu optimis, bersemangat serta berpengharapan. Dia percaya bahwa Roh Kudus akan selalu bekerja menolong jemaatnya untuk melakukan hal-hal yang baik sebagaimana kehendak Tuhan. Sebagaimana Yesus telah berjanji bahwa dia akan menyertai hamba-hambaNya sampai maranata. Bagi Paulus, pelayanan Injil adalah pekerjaan Tuhan. Setiap Injil diberitakan itu berarti Tuhan hadir dan ada didalamnya.

3.       Nats ini sangat kuat berbicara tentang Persekutuan dalam penginjilan. Kualitas apa dalam gereja kita membuat kita bersyukur? Karena warganya banyak? Karena gedung dan fasilitasnya megah dan lengkap? Karena programnya OK dan partisipasi jemaatnya tinggi? Apakah ukuran Anda akan kesuksesan sebuah gereja? Perhatikan hal-hal dalam gereja di Filipi yang membuat Paulus bersyukur (ayat 3)! Paulus mengenal gereja itu sebab ia sendiri yang mendirikannya (Kis. 16). Paulus mengucap syukur karena persekutuan warga gereja di Filipi dalam penginjilan dari sejak gereja ini baru berdiri sampai saat Paulus menulis surat ini (ayat 5). Paulus mengucap syukur bukan saja karena mereka berpegang teguh kepada iman mula-mula dan tetap setia bertumbuh dalam iman tersebut, tetapi juga karena semangat mereka untuk terlibat dalam pelayanan rasul Paulus.

Pelajaran apa yang dapat kita tarik tentang kemajuan gereja dan kemajuan penginjilan? Pertama, pendiri (pemimpin) gereja selalu memperhatikan gereja ini bahkan saat ia jauh dan tidak dapat hadir bersama mereka. Ia terus bersekutu menaruh gereja itu dalam doa-doanya, bahkan ketika ia sendiri dalam kesusahan dipenjarakan. Kedua, sejak awal gereja itu sudah diarahkan untuk menjadi gereja yang berperan serta melayani dalam berbagai bentuk pelayanan, bukan hanya menerima berkat dan pelayanan. Gereja yang pemimpin dan warganya terfokus melayani Injil Kristus akan menjadi gereja yang sukses di mata Allah.Camkanlah: Jangan menilai gereja sukses bila ukurannya duniawi. Gereja sukses jika setia menginjili dan bertumbuh dalam iman. Kadar persekutuan di sebagian besar gereja masa kini sering terasa dangkal. Hanya sedikit warga gereja yang berbakti bersama, saling kenal atau bersahabat mendalam. Lebih sedikit lagi yang memiliki kasih menyala-nyala untuk saling melayani, mendoakan, mendukung pemimpinnya dengan doa dan tenaga. Ini beda sekali dari kondisi gereja di Filipi dan hubungan Paulus dengan para warga gereja ini. Apakah kondisi mereka terlalu ideal atau suatu realitas yang menantang kita untuk berubah?  Kristen di Indonesia pun harus lebih terlibat satu dengan yang lain, supaya Tuhan dimuliakan dan gereja disukakan. Kesehatian dan kekompakan antar orang beriman adalah hal yang indah dan memberikan kekuatan. Mari kita renungkan apakah kesehatian dan semangat kebersamaan di Jemaat Filipi ada di HKI Resort Bandar Lampung. Apakah semangat saling melayani dan menopang ada di Resort kita atau sifat dominan adalah semangat menunggu, hanya menerima dan pasif. Jika demikian, kita belum hidup dalam persekutuan yang benar dalam Tuhan.

4.       Apa yang membuat kita yakin bahwa orang yang menyambut Injil akan tetap setia? Keyakinan itu didapat Paulus bukan pada kualitas iman atau pengalaman rohani jemaat Filipi sendiri. Keyakinan bahwa iman Kristen kita akan bertekun sampai ke akhir terletak atas fakta bahwa Tuhan Yesus akan setia meneruskan penyelenggaraan keselamatan dari-Nya sampai akhir, yaitu sampai Ia datang kembali kelak (ayat 6). Hubungan baik Paulus dan gereja di Filipi terjadi karena Yesus Kristus. Yesus Kristus bukan saja menjadikan mereka bagian dari keluarga Allah atas dasar karya penyelamatan-Nya (ayat 6), tetapi juga membuat mereka menjadi rekan sepelayanan (ayat 7). Persekutuan itu terjadi bukan karena dasar-dasar persamaan yang manusiawi sifatnya tetapi semata adalah akibat dari keberadaan mereka yang telah menjadi satu dengan dan di dalam Kristus. Persatuan rohani ini tidak diterima begitu saja baik oleh Paulus maupun oleh warga gereja di Filipi. Mereka secara aktif memupuk sikap dan melakukan tindakan-tindakan yang membuat kenyataan rohani indah itu bukan sekadar impian kosong tetapi terwujud nyata. Mereka tidak saja menikmati pelayanan Paulus tetapi bersukacita terlibat mendukung Paulus dalam suka-duka pelayanannya demi Injil. Mari melawan arus pendangkalan hubungan yang melanda dunia ini dengan aktif mendoakan dan membuka diri bagi sesama saudaraku seiman secara nyata.

 

III.      Penutup.

Kita patut meneladani kehidupan dalam pekerjaan Pelayanan Paulus yang selalu bersemangat dan penuh rasa syukur melakukan tugas pelayanan dalam setiap waktu dan kondisi apa pun. Walaupun begitu banyak tantangan, rintangan dan hambatan; seperti dalam perikop ini dari dalam penjara pun dia tetap mengabarkan Injil lewat suratnya. Paulus tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan Yesus, supaya Dia memberkati dan menyertainya dalam setiap langkah kehidupannya. Terkhusus dalam tugas pelayanan Injil. Berkat doanya itu dia melangkah lebih pasti dan penuh keberanian sehingga dapat melewati segala tantangan dan hambatan yang dihadapinya.

Banyak orang memulai sesuatu dengan baik, tetapi di tengah jalan mulai tersendat sampai pada akhirnya mandek. Demikian juga dalam pelayanan Gereja, banyak orang yang dahulunya bersemangat melayani dalam pelayanan Gereja, akan tetapi karena satu dan lain hal, kemudian menarik diri dan akhirnya semakin jauh dari Gereja. Ini adalah bukti komitmen yang lemah dan berorientasi pada manusia dan kedagingan. Kita perlu menopang orang lemah demikian dan menguatkan komitmen pelayannya. Dan hendaknya setiap orang yang mengambil pelayanan Gerejawi harus mendewasakan imannya dalam persekutuan yang benar dengan Allah. Iman yang tumbuh ialah yang aktif mengasihi, menggali firman penuh gairah, mencintai Allah dalam tindakan kudus.

 

KHOTBAH MINGGU VI SETELAH TRINITATIS

TANGGAL 31 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Ulangan 7 : 6 – 12

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

TOPIK MINGGU : Mangaradoti Tona, aturan dohot uhum ni Jahowa ( 5 Musa 7:12). Berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan yang dari Tuhan.

 

I.        PENGANTAR

Buku Ulangan  terdiri dari serangkaian pidato-pidato yang diucapkan Musa di  depan bangsa Israel waktu mereka berada di negeri Moab. Mereka  berhenti di situ sesudah mengakhiri perjalanan panjang lewat  padang gurun dan sebelum masuk ke Kanaan untuk menduduki negeri  itu. Beberapa pokok yang penting dari buku ini ialah:

  • Musa mengingatkan bangsa Israel akan peristiwa-peristiwa besar selama 40 tahun yang terakhir. Ia mohon kepada bangsa Israel supaya mereka ingat bagaimana Allah memimpin mereka melalui padang gurun dan karena itu mereka harus taat dan setia kepada Allah.
  • Musa mengulangi Sepuluh Perintah Allah. Ia minta dengan sangat supaya orang Israel beribadat kepada TUHAN saja. Lalu ia mengulangi beberapa hukum dan perintah yang mengatur kehidupan bangsa Israel di tanah yang sudah dijanjikan.
  • Musa mengingatkan bangsa Israel akan arti ikatan perjanjian Allah dengan mereka. Ia mendorong bangsa itu supaya membaharui kesediaan mereka untuk memenuhi kewajiban-kewajiban mereka.
  • Yosua ditunjuk sebagai pengganti Musa untuk memimpin umat Allah.

Tema pokok buku ini ialah bahwa Allah sudah menyelamatkan dan memberkati umat pilihan-Nya, bangsa yang dikasihi-Nya. Jadi bangsa Israel tak boleh lupa akan hal itu. Mereka harus mentaati Allah, supaya mereka tetap hidup dan terus diberkati.

 

II.       TAFSIRAN.

Ay. 6 Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Umat yang kudus. Kata “Kudus” (Ibrani: Qadosy) berasal dari akar kata “Terpisah” dan “Khusus”. Allah sendiri Kudus karena dalam Zatnya Dia terpisah dari segala mahluk ciptaanNya. Dengan demikian “kekudusan” merupakan inti realita ilahi, sehingga menjadi sumber untuk kasih, kemurahan, kebenaran, kesucian dan kuasa Ilahi. Bila barang atau orang disebut “Kudus” berarti barang atau orang itu dikhususkan untuk Tuhan, sebagai obyek perhatianNya dan sebagai sarana pelaksanaan kehendakNya, sehingga mencerminkan atau mewujudkan  sifat-sifat ilahi seperti disebut diatas. Israel menjadi Umat yang kudus berkat pemilihannya oleh TUHAN.

Engkaulah yang dipilih”: Memang konsep bahwa YHWH mengambil Israel atau Nenek-moyangnya sebagai milikNya secara Khusus sudah termasuk tradisi israel yang tertua mulai ketika Abram dipanggil (Kej 12:1-3). Ulangan menekankan bahwa pemerintahan YHWH serta pilihanNya melekat dalam Umat. Kata Umat KesayanganNya (bnd Kel 19:5; Ul 14:2; 26:18 dll) : menunjukkan posisi Israel memiliki tempat yang khusus bagi Allah dan ini tidak terlepas dari Rencana Penyelamatan Allah melalui Mesias melalui Bangsa Israel.

 

Ayat 7 – 8a. Berbentuk jamak dan ayat 8b – 11 berbentuk tunggal. Perikop ini merupakan tambahan atau untuk melengkapi ayat 6, yaitu untuk mencegah kesalah-pahaman tentang implikasi kedudukan Israel sebagai umat pilihan dan kesayangan TUHAN. Pemilihan tersebut tidak berdasar jasa atau keistimewaan apapun melain kasih yang tak terbatas.

Hati TUHAN terpikat (bnd 10:15) : Dalam konteks-konteks lain kata “terpikat” ini menggambarkan rasa-cinta seprang pria terhadap wanita (Kejadian 34:8; Ulangan 21 : 11). Rasa tertarik yang diperlihatkan TUHAN itu tidak mempunyai alasan  yang logis melainkan rasa-cinta itulah yang menjadi alasan untuk segala tindak penyelamatan TUHAN terhadap Israel.

 

Ay.8 Tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.TUHAN mengasihi kamu (bnd Ulangan 7:13; 10:15; 23:5). Kata “mengasihi” (Ibr : Ahebh) pertama tama dipakai tantang jalinan kasih (termasuk kerinduan) antara pria dan wanita (Kidung Agung 5 : 8; Kejadia 24 : 67; Hakim-hakim 14 : 6) antara kawan (2 Samuel 1 :26) antara orangtua dan anak(Kejadian 22 :2) antara Majikan dan hamba (Ulangan 15 : 16) dan anatara tetangga (Imamat 19:18). Istilah “Ahebh” ini oleh Hosea dikenakan kepada sikab Tuhan terhadap umat pilihanNya. Israel disebut sebagai Isteri yang dikasihi serta dipilih oleh YHWH. Kemungkinannya konsep hosea ini yang diambil oleh mazhab Ulangan (Ulangan 7:8,13; 23:5) hanya dengan perbedaan bahwa latar belakang erotis yang berperan dalam uraian Hosea sudah hilang disini.

Kasih TUHAN kepada umat pilihan berakar dalam kesetiaanNya kepada nenek moyang mereka (ulangan 7:13;10:15). Ciri-ciri kasih Tuhan itu adalah sebagai berikut: Ditandai dengan keintiman; dikaitkan dengan pilihan; spontan dan tak beralasan; rela; berakar dalam kesetiaan (Khesedh) TUHAN; tak dapat dipisahkan dari kebenaran-kesucian; menuntut kesetiaan bulat. Karena  benar dan suci maka kasih TUHAN itu mengandung unsur penghukuman dan pengoreksian.

Menebus Engkau  kata kerja “Menebus” (Ibr Padah) dipakai khusus  berkenan dengan proses pembebasan manusia/hewan dengan jalan membayar harga pembebasan (Keluaran 21:8,21; Bilangan 3:6 dll) Pemakaian istilah menebus disini menekankan Bahwa: a. Israel menjadi bebas karena tindakan YHWH. b. Pembebasan itu bukan soal yang enteng: YHWH membayar suatu “harga”. C.Berkat penebusan itu ialah : umat menjadi milik YHWH.

 

Ay.9 – 10 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, tetapi  terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. Haruslah kau ketahui, Mengetahui (Ibr Yadha) berarti menyadari, merasakan, menginsafi. Allah yang setia Kata yang diterjemahkan dengan “Setia” disini mengandung Arti, “stabil dan tidak bergoyah”, “Teguh” (1 Samuel 25 :28), sehingga dapat diharapkan dan di andalkan (Bilangan 12 : 7).

Memegang perjanjian dan kasih setia-Nya,…………… kepada beribu-ribu keturunan, Tetapi ………. melakukan pembalasan (bnd Ulangan 5 : 9-10). Proporsi antara Kasih setia dan pembalasan sama dalam kedua perikop tersebut. Hanya ditekankan “Pembalasan” itu lebih tegas dalam Ulangan 7 : 9-10. Hal itu disebabkan karena perikop ini merupakan Khotbah yang bertujuan untuk mengantar umat itu kepada pertobatan, sebelum krisis melanda kerajaan-kerajaan Israel. Nada ancaman dimaksud untuk mengantar umat itu kembali ketaatan. Jemaat terkasih, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka kita adalah umat yang kudus dan umat kesayangan Tuhan. Sebagai umat yang kudus maka segala karakter dan perbuatan kita harus kudus. Karena setiap orang yang ada Roh Allah didalamnya maka sudah barang tentu hidupnya akan dipenuhi buah Roh (bnk. Gal 5:22-23). Jika hidup kita masih dalam keinginan daging, sadarlah bahwa sebenarnya kekudusan itu sudah tidak ada lagi dalam diri kita dan kita tidak berkenan lagi dihadapan Allah. Kita menjadi umat kesayangan dan pilihan Allah bukan hanya sebagai predikat semata, melainkan sebuah misi untuk dipakai Allah menyatakan kuasa dan kasihNya.  Dan kita dipilih Allah sebagai umatNya bukan karena kebesaran kita atau karena jasa kita, melainkan hanya anugerah semata. Jemaat terkasih, jika ini kita sadari maka kita akan sadar akan keberadaan diri kita, dan mau berserah kepada Tuhan. Kita ini terbuat dari tanah, dan apa yang kita miliki semua adalah titipan dari Allah. Dan jika kemudian Allah memilih kita menjadi umat pilihanNya maka itu adalah sebuah kehormatan besar dari Allah. Karena itu, mari tetap memuliakan Tuhan dalam hidup kita, Allah itu setia dari dulu, sekarang dan untuk selamanya.

Nats kita juga mengabarkan bahwa Allah yang pengasih dan setia itu juga adalah Allah yang Tegas yang akan menghukum umatNya yang membenci Dia ditengah berkat yang selalu Dia berikan. Membenci Allah bisa dalam bentuk tidak mengindahkan firmanNya, menyembah ilah lain, dan tetap berada dalam hidup kedagingan walau kita sudah ditebus. Jemaat terkasih, periksa diri kita, jangan sampai saat ini kita berada dalam keadaan penghukuman Allah, periksa diri kita dan kehidupan kerohanian kita. Dan jika kita menyadari dosa dan kesalahan kita mari dating berserah padaNya dan memohon ampun kepadaNya.

 

III. RENUNGAN.

Inti dari pasal 7 ini ialah uraian tentang “lingkaran Anugrah dan kasih karunia Allah” yang menjadi landasan hubungan umat Israel dengan TuhanNya. Rahasia Anugerah adalah sangat mendalam. Bahwa israel sungguh mengalami Anugrah TUHAN. Waktu mereka belum mengenal Tuhan dan mencari Dia, Tuhan telah Lebih dahulu mengenal mereka serta menaruh perhatian atas penderitaan mereka. Dan Jikalau ditanya mengapa TUHAN berhasrat mengasihani yang kecil dan terlantar ini serta mengangkat menjadi milikNya sendiri, maka terdapatlah hanya satu jawaban: TUHAN mengasihi Israel karena Dia bertindak setia terhadap perjanjianNya kepada Nenek-Moyang mereka. Kasih anugrah TUHAN itu tidak beralasan sama sekali. Bahkan justru Dia menaruh kasihnya atas umat yang paling lemah dan paling tidak berdaya itu(7), dan anugerah itu telah berlanjut hingga pada kita saat ini. Karena itu Patutlah umat Kristen senantiasa mengagumi anugrah yang tidak beralasan itu yang sudah kita peroleh dari Tuhan kita Yesus Kristus (bnd Yohanes 15 :16; Roma 5 : 6; Efesus 2 : 4 – 6; Titus 3 : 4 – 5) Amin.

 

 

 

 

 

 EPISTEL MINGGU  TANGGAL 31 JULI 2011

NATS : MATIUS 28 : 16-20

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

I.      PENGANTAR

Kenaikan Yesus ke Sorga merupakan salah satu bagian inti hidup kekristenan sebab Yesus naik ke sorga untuk menyediakan tempat bagi kita. Berarti kita punya kepastian bahwa dunia ini hanya sementara tetapi di Sorga kita sudah mempunyai tempat tinggal. Itu sebabnya saudara-saudara yang masih bergumul dimuka bumi jangan putus asa dan jangan kecewa walaupun saudara masih tinggal di rumah kontrakan, tidak perlu minder, karena saudara punya rumah kekal di sorga. Nats Epistel kita di Minggu ini berbicara tentang Kenaikan Tuhan Yesus dan tugas yang diembankan kepada umatNya. Ayat Firman Tuhan tersebut adalah kata-kata Yesus yang terakhir sebelum Yesus naik ke surga meninggallkan murid-muridNya. Ada dua pesan Yesus dalam ayat-ayat Firman Tuhan  yang pertama ada di ayat 16 & yang kedua ada di ayat 20. Sebagai orang kristen biasanya kita hanya melihat ayat 20 yaitu disertai Tuhan, diberkati Tuhan, diurapi Tuhan, tetapi apabila kita melihat,Tuhan Yesus justru mengatakan tentang penyertaanNya pada kalimat terakhir setelah ayat 16.Tuhan mau supaya kita melakukan terlebih dahulu ayat  16 baru Tuhan akan menyatakan penyertaanNya.

 

II.    PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

  1. Kenaikan Yesus menerobos keterbatasan fisik.

Setelah Tuhan Yesus disalibkan, semua Murid-murid Tuhan Yesus mengurung diri : takut pada ancaman Romawi dan Farisi. Namun setelah Tuhan Yesus menampakkan diriNya maka rasa percaya diri dan militansi para murid bangkit kembali. Dan ketika Tuhan Yesus hendak naik ke Surga, kesebelas murid Tuhan Yesus secara bersama berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka (ayat 16). Akan tetapi, pada ayat 17 mengatakan bahwa “ketika Dia menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu”. Ternyata walaupun demikian masih ada beberapa orang diantara mereka yang masih ragu-ragu, iman mereka belum bulat dan kuat, bisa saja mereka kembali berfikir jika Tuhan Yesus naik ke Surga, bagaimana dengan nasib mereka, apa yang harus mereka lakukan, dll. Akan tetapi Tuhan Yesus tidak membiarkan keraguraguan menguasai muridNya. Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa “Kepada-Ku telah diberikan segala Kuasa di Sorga dan di Bumi” (ayat 18). Disini Tuhan Yesus menegaskan kembali bahwa walaupun Ia ketika naik ke Sorga secara fisik tidak bersama-sama mereka, tetapi ia masih bisa berkuasa menyertai dan melindungi mereka. Dan ini diperkuat kembali di ayat 20 “….Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

Jemaat terkasih dari ayat ini bisa kita relevansikan a.l :

Bahwa bisa saja saat ini kita berada dalam kondisi yang sama dengan para murid, sebagian beriman secara kuat kepada Tuhan dan sebagian lagi masih beriman secara ragu-ragu. Banyak penyebabnya misalnya tantangan hidup di bidang ekonomi, keadaan sebagai minoritas, kondisi kesehatan dan banyak lainnya. Sehingga hidup penuh kekhawatiran dan ada rasa ketakutan. Untuk keadaan ini Firman Tuhan Yesus sampai kepada kita, bahwa berimanlah secara penuh kepada Tuhan Yesus, Ia adalah Allah yang maha kuasa termasuk mengatasi pergumulan dan kekhawatiran duniawi kita. Dan Roh kudusnya beserta kita sampai ke akhir zaman. Tuhan memberkati kita dengan berkat-berkat bukan hanya pada waktu kita di sorga tetapi juga pada saat kita berada di bumi. Tuhan memberikan kita kuasa untuk memperoleh kedua-duanya. Keterikatan dari dosa, sakit penyakit bisa dilepaskan oleh kuasa Yesus. Oleh karena itu kita harus memakai kuasa itu.

2.    Amanah Agung bagi semua orang Percaya.

Bagian kedua yang tidak terlepas dari bagian Pertama adalah kenaikan Tuhan Yesus dan janji penyertaannya juga tidak terlepas dari tugas/amanah yang serahkanNya kepada kita. Diayat 19-20 dikatakan “karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu….” Ada beberapa makna dari perikop ini, a.l : bahwa semua orang percaya menerima Amanah ini menjadi Saksi Kristus. Karena inilah Tugas orang percaya. Nats ini sangat relevan saat ini, dikala semua orang memikirkan diri sendiri, dikala kesulitan, dikala banyak yg merasa ber PI adalah bukan urusannya melainkan tugas profesi tertentu : yg punya tohonan, seolah yg tidak bertohonan tidak punya tanggung jawab akan hal ini, ketika kaum muda banyak yg masa bodoh atas pokok iman Kristen, ketika : banyak yang mengulur waktu panggilan. Dikala semua itu sedang melanda keKristenan, Firman Tuhan kembali menyapa kita akan adanya sebuah tugas yang di berikan Tuhan Yesus. Tugas ini diberikan kepada semua orang. Tidak ada kriteria usia, latar belakang pendidikan, ekonomi, dll – Kuasa Roh Kuduslah yang menguatkan kita menjadi saksi Allah sampai ke ujung bumi.

3.   Ladang Misi bersifat Luas.

Tempat dan jarak tidak menjadi halangan dalam hal ber PI. Dimanapun kita berada, kita harus menjadi Saksi Kristus melaksanakan tugas mengasihi sesama dan mengabarkan melalui perkataan, perbuatan dan doa kita bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat. Bagaimanakah penginjilan itu dilaksanakan? Apakah harus menunggu sampai semua penduduk Yerusalem diinjili dahulu, baru kemudian seluruh penduduk Yudea, lalu seluruh penduduk Samaria, akhirnya ke negara-negara lainnya. Ternyata tidak demikian. Kata sambung “dan” yang diulangi beberapa kali dalam Kisah Para Rasul 1:8 mempuyai arti serempak. Maksudnya, Yerusalem perlu diinjili, bersamaan dengan itu Yudea, Samaria, dan daerah-daerah lainnya. Karena itu semua orang termasuk kita di HKI Resort Bandar Lampung harus melaksanakan Misi ini dimanapun kita berada. Agar melalui kehidupan kita orang lain melihat bahwa setiap orang Kristen adalah orang yang mempunyai integritas, memegang teguh kebenaran dan kasih yang terpancar di setiap aktifitasnya. Karena dunia yang saat ini adalah dunia yang sangat egois, dunia ini membutuhkan orang-orang yang dapat berkarya nyata tapi juga memiliki iman yang kuat. Ada banyak orang yang bersaksi dengan cara kompromi. Misalnya ada rasa minder menjadi orang Kristen yang minoritas sehingga akhirnya sering ikut arus keadaan, banyak yang tidak berani mengatakan yang benar atas yang benar dan salah atas yang salah karena memikirkan untung rugi. Ingatlah untuk berbuat sesuatu yang benar dan adil menurut Tuhan karena Roh yang ada dalam kita lebih besar dari roh yang ada dalam dunia ini.

4.   Kenaikan Yesus menerobos rasa takut yang keliru – hidup yang terpaku pada masalah sendiri.

Kenaikan Yesus menerobos keterbatasan kesukuan dan geografis. Pada waktu itu orang Israel sedang dijajah oleh bangsa Romawi dan banyak diantara mereka berkata “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6). Seolah-olah para murid Yesus berkata kepada-Nya, “Tuhan selesaikan dulu masalah intern bangsa kami. Bebaskan kami dahulu dari penjajahan orang Romawi.” Murid-murid Yesus hanya memikirkan kerajaan bagi bangsa Israel. Mereka terkungkung oleh keterbatasan bangsa dan suku. Ruang lingkup merekapun hanya dibatasi oleh geografis Palestina yang luasnya hanya: 192 x 64 km saja. Padahal sasaran kehadiran Tuhan Yesus – penginjilan tidaklah terbatas pada satu suku/bangsa saja, juga tidak terkungkung pada satu tempat/negara saja.

Yesus menjawab, “Pergilah kamu, jadilah saksi-Ku….” Di gereja-gereja yang hanya memikirkan diri sendiri malah akan muncul banyak masalah intern. Sedangkan di gereja yang sibuk bermisi, para anggota mengkonsentrasikan perhatian mereka kepada pelayanan, sehingga tidak ada waktu untuk bergosip dan mencari-cari masalah di antara sesama anggota.

5.  Alkitab sudah berjanji bahwa Dia akan datang kembali, itu artinya janjiNya kepada kita, janganlah takut dan gelisah hatimu sebab di rumah BapaKu banyak tempat tinggal, dengan lain kata Yesus menjelaskan supaya ditempat dimana Aku berada disitu juga kamu berada. Dalam peristiwa kenaikan Kristus kita menjumpai bahwa Dia Tuhan yang selalu ingin dekat dengan kita. Karena itu Dia tidak mau meninggalkan kita, karena Dia ingin dekat dengan kita oleh sebab itu Dia siapkan jalan ke Sorga bagi kita.

 

III.  PENUTUP

Yesus berkata, “Pergilah ke seluruh dunia dan jadikan segala bangsa murid-Ku.” Ini merupakan suatu penanaman visi. Bila suatu zaman tidak memiliki visi, maka zaman itu akan penuh dengan kekacauan. Gereja yang sudah kehilangan ketajaman dalam melihat visi akan menjadi tidak berdaya, tidak dinamis lagi. Namun, bila visi itu kembali dipertajam dan menggugah hati manusia, mau tidak mau gereja akan menjadi militan dan dinamis di dalam pelayanan. Kenaikan Kristus ke surga bukan hanya merupakan suatu catatan sejarah, tetapi juga suatu amanat. Dia pergi dan tugas-Nya dilanjutkan oleh kita dengan bimbangan Roh Kudus. Barangsiapa merayakan hari kenaikan Kristus, dia juga harus mengingat pesan Yesus sebelum Ia pergi.

Terakhir kita akan melihat ayat terakhir dari seluruh Kitab Suci, yaitu dalam Wahyu 22:20-21. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diakhiri dengan kutukan. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, diakhiri dengan berkat. Dengan mengingat kenaikan-Nya ke surga, kita kembali menyadari bahwa Ialah pemenang, pemberi Roh Kudus, sekaligus pendoa syafaat yang mengerti kesengsaraan kita. Ia pula yang menyediakan tempat di surga yang akan datang kembali bagi kita. Dalam Injil Yohanes 14:1-4 Yesus berkata, “Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Jikalau Aku tidak pergi tidak ada yang menyediakan tempat bagimu dan jikalau Aku sudah menyediakan tempat bagimu Aku pasti akan datang kembali lagi. Di mana Aku ada di sana pun engkau akan berada.” Orang yang sungguh-sungguh menanti kedatangan Yesus Kristus adalah orang yang menjaga hidup di dalam kesucian. Hidup di dalam kesucian berarti kita terus memelihara diri kita supaya pada waktu Ia datang kembali kita sudah siap, boleh menerima dan diterima oleh-Nya. Barangsiapa yang menaruh pengharapan seperti ini kepada-Nya, biarlah ia membersihkan dirinya! Ini adalah perintah dari Yohanes di dalam 1Yohanes 3. Barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada kedatangan Kristus biarlah ia menjaga dirinya, memelihara kesucian dan menunggu di dalam doa akan kedatangan Yesus Kristus. AMIN.

 

 

23
May
11

DICARI : RUMAH DOA TEMPAT BERTUMBUH BERSAMA

KHOTBAH MINGGU JUBILATE TANGGAL 22 MEI 2011
NATS EVANGGELIUM: Matius 21: 14 – 22

1. Bila kita membaca Perikop ini secara keseluruhan, saya percaya ketika hal ini terjadi, tentu peristiwa ini sangat mengejutkan bagi murid-muridNYA. Karena, mereka tahu betul Yesus adalah pribadi yg lembut, Yesus adalah pribadi yg baik, Yesus adalah pribadi yg menolong dan memberkati banyak orang. Orang buta disembuhkannya, orang lumpuh disuruhnya berjalan, Ibu yg anaknya mati di pintu kota Naim dibangkitkannya, orang-orang yg lapar diberinya makan.
Tetapi suatu hari, tiba-tiba ketika Yesus dan murid-muridNya masuk bait Allah, terjadi peristiwa yang tidak seperti biasanya. Biasanya Yesus masuk bait Allah Ia mengajar dan berdoa di sana. Tetapi, hari ini Yesus masuk ke bait Allah dengan cara yg sangat berbeda. Yesus mengusir semua orang, Dia tendang meja-meja di sana, Dia balikkan meja-meja penukar uang, Yesus tendang bangku-bangku pedagang burung merpati. Dan Yesus berkata,”…Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun. Saudaraku yg kekasih dalam Tuhan, saya bisa bayangkan apa yg ada di dalam pikiran murid-murid pada waktu itu. Murid-murid mungkin terkejut dan berkata, satu sama lain dan berkata,”Ada apa-ada apa?” Kenapa Yesus begitu marah. Tetapi dari sini kita bisa melihat intinya bahwa “bait Allah perlu kembali disucikan, kalau tidak bait Allah akan kehilangan arti yg sebenarnya, bait Allah akan kehilangan makna dan tujuan yg sebenarnya.” Untuk apa bait Allah itu ada? Jawabnya untuk menjadi Rumah Doa dan rumah kesembuhan bagi umat.

Jemaat terkasih, Bait Allah ada 3 gambaran tentang bait Allah:
a. Bait Allah adalah tempat di mana Allah ada.
b. Gereja adalah bait Allah : Karena gereja adalah tempat di mana Allah berdiam, Kepala gereja adalah Yesus sendiri. Yang menjadi kepala dalam gereja bukanlah Pendeta atau penatua. Tetapi Allahlah yg harus mengatur. Kalau orang yg paling banyak menyumbang kepada gereja, kemudian dialah yg mengatur gereja, Kalaulah ada orang yg paling berjasa di dalam gereja, kemudian dialah yg mengatur gereja, maka gereja sudah kehilangan arti yg sebenarnya.
Gereja harus kembali, tempat dimana Allah yg mengatur. Pendeta dan penatua harus diatur oleh Tuhan, sehingga gereja dapat dipenuhi oleh damai sejahtera.
Gereja yg sebenarnya adalah tempat dimana Allah berdiam, tempat dimana Allah mengatur, Allah menguasai, dan jemaat pelayan Tuhan adalah orang-orang yg melayani Tuhan. Orang yg diatur oleh Tuhan. Ini, adalah orang-orang yg perlu untuk disucikan.

c. Tubuh kita juga merupakan bait Allah.

Untuk apa Bait Allah dibangun? Yesus katakan,”Rumahku ini harus disebut Rumah Doa, dan tidak boleh dijadikan sarang penyamun. Pertanyaan relevansi, bagaimana dengan Gereja sebagai Bait Allah dan kita secara pribadi sebagai mahluk “Bait Allah”. Apakah Gereja tetap menjadi rumah doa atau justru sarang penyamun. Jangan pernah terjadi Bait Allah menjadi tempat mencari keuntungan dengan cara duniawi. Rumah Ibadah, Tubuh sebagai ciptaan Tuhan jangan dijadikan menjadi tempat “mencari rezeki”. Tuhan mau agar kita tdk hanya mencari keuntungan dlm beriman pada Tuhan, tp kebalikkannya, Tuhan mau agar kita berkorban dalam ibadah, baik berkorban waktu, pikiran, maupun tenaga, bahkan berkorban harta. TUhan tdk mau ibadah kita hanya untuk mencari untung/dijadikan bisnis saja atau kita berprinsip datang ibadah itu hanya untuk diberkati.

Untuk apa tubuh kita ini? Kita telah ditebus oleh darah Yesus. Seringkali tubuh kita ini hanya dipakai untuk kepentingan diri kita sendiri, tubuh kita hanya dipakai untuk kesenangan dosa, sehingga jatuh dalam berbagai cobaan.
Saya kuatir, banyak orang yg mengaku mengasihi Tuhan, tetapi kehilangan Visi. Dia mengasihi Tuhan sejauh Tuhan menyembuhkan fisiknya, sejauh Tuhan masih memberkati dia, sejauh Tuhan masih mendengar doanya. Tetapi, saat dia menghadapi badai dan masa-masa yg sukar, Ia berkata,”Tuhan, saya engga kuat kalau saya harus begini terus.” Tetapi bila ia memiliki visi untuk menyenangkan hati Tuhan, maka meskipun cobaan dan tantangan datang, ia akan tegar menghadapinya.

Bait Allah dapat disucikan dengan kasih yg sejati. Ini terlihat diayat selanjutnya : Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. Kenapa Yesus mengusir pedagang merpati? Supaya, kesembuhan dapat kembali mengalir di bait Allah. Orang-orang yang diabaikan selama ini di Bait Allah yaitu mereka yang buta dan timpang kembali dating ke Bait Allah yang telah disucikan, dan ketika itulah mereka menemukan kesembuhan. Memang ketika Gereja hanya mencari keuntungan baik oleh oknum atau institusi, maka banyak orang yang terabaikan, Gereja tidak lagi menjadi tempat kesembuha, tempat berkat. Karna itu perlu tetap penyucian Gereja baik secara institusi atau pribadi agar berkat Tuhan mengalir.
Ketika semua hal yang salah telah diusir dari Bait Allah maka berkat Tuhan akan mengalir. Sesudah menyucikan, Tuhan mengadakan pemulihan, dengan mengadakan mujizat, orang buta dicelikkan. Ini bisa kita relevansikan, bisa saja kitalah orang yang “buta” yg perlu dicelikkan. Kita memang tdk buta secara jasmani, tp Tuhan mau mencelikkan mata rohani kita ini agar lbh mengerti lg tentang rahasia Firman. Tuhan jg memulihkan orang timpang, bagi kita Tuhan mau memulihkan agar kita tdk timpang secara rohani, agar kita ini bs berdiri teguh atas Firman Tuhan,,tdk goyah menghadapi apapun jg.

2. Namun ada yg jengkel ketika Tuhan mengadakan mujizat dan penyucian. Itulah orang Farisi dan imam kepala. Jgn sampai kita bersifat seperti mereka. Mungkin kita tdk membenci, tp perasaan hati yg jengkel thd orang-orang yg melakukan pelayanan, kebaikan, itu tdk dpt dibenarkan di hadapan Tuhan. Kemudian, dalah hal pelayanan memang tidak mudah, banyak karya pelayanan baik dari jemaat dan parhalado sering dianggap miring dan dicerca oknum lain, karena itu bersabarlah dan tetap berkiblat pada teladan Yesus.

3. Bagian berikutnya kita baca dalam Nats bahwa dalam perjalanan Yesus berikutnya, Yesus melihat pohon ara dipinggir jalan dan Yesus mendekatinya dengan tujuan untuk mengambil buah pohon ara. Yesus juga merasa lapar, Yesus lapar karena begitu pagi dia berangkat keluar kota dan bermalam di Betania + 3 km dari Yerusalem (Yoh : 18) jarak yang lumayan jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Kemanusiaan Yesus merasa lapar. Tapi Yesus sangat terkejut saat mengetahui bahwa pohon ara tersebut tidak berbuah, sehingga Yesus mengutuk pohon ara tidak akan berbuah selamanya.
Penekanan tindakan Yesus ini adalah agar setiap umat percaya semakin berbuah oleh imannya. Akan tetapi sering sekali seseorang sudah lama menjadi Kristen, Gereja yang telah berumu puluhan tahun, sering kurang menampakkan buahnya. Begitu banyak orang yang berharap mendapat buah-buah kebaikan tetapi tidak memberi diri untuk topangan buah yang baik.
Upacara-upacara keagamaan tidak lagi jaminan apakah hatinya berbuah baik dan berkwalitas.Upah dosa adalah kematian, memang itulah yang sedang terjadi. Tidak bisa tawar menawar. Sebab Tuhan bukan barang yang bisa ditawar menawar. Karena itu ketika masih ada kehidupan, masih ada waktu mari semakin bertumbuh dan berbuah kepada Kristus, jangan sampai kita kemudian dikutuk Allah untuk “kering” dan tidak akan pernah berbuah lagi.

4. Allah tidak ingin jika kita hanya menjadi “pengunjung” gereja yang rajin dan setia, tetapi Ia mau menjadikan kita sebagai rumah doa-Nya! Dimana hidup kita menjadi tempat diaman Allah akan mencurahkan isi hati-Nya dan rencana-Nya. Menjadi orang yang berdoa bagi orang lain! Berdoa adalah nafas orang percaya merupakan kalimat yang tidak asing lagi bagi kita semua. Yesus sendiri. “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yak 5:16.
Alkitab jelas berkata kepada kita,”Jika Allah di pihak kita, tidak ada yg dapat melawan kita.” Kenapa kita tidak perlu takut untuk apapun karena apapun yg terjadi, Tuhan sediakan kebaikan buat kita. Tuhan biarkan sesuatu terjadi untuk melatih dan mendewasakan kita dan membawa kita agar lebih dekat pada Tuhan.
Tuhan Yesus berkata, bahwa Orang percaya disediakan segala-galanya oleh Tuhan. Dan kuasa yg kita perlukan dalam hidup kita adalah :Iman : Bila engkau minta tanpa iman, maka engkau tidak akan meraihnya (baca Yak. 1 : 1-8).

Penutup : Kaitan Nats dengan Minggu ini adalah minggu Kantate = pujilah Allah dalam kehidupan kita tidak hanya melalui mulut kita tapi perbuatan kita.

20 Mei 2011, Pdt. Happy Pakpahan
HKI Resort Bandar Lampung

17
May
11

VISITORS

free counters

15
May
11

2011 : TAHUN PENGEMBANGAN HKI



15
May
11

SEJARAH HURIA KRISTEN INDONESIA (HKI)

HURIA KRISTEN INDONESIA (HKI)

The Indonesian Christian Church

Forward
The Batak people are one of the largest ethnic in Indonesia. According to legend, the Batak people spread out beginning from Samosir Island (in the middle of Lake Toba in North Sumatra). The Batak ethnic group consists of 5 sub-groups: the Toba Batak, the Simalungun, the Karo, the Pakpak-Dairi, and the Angkola-Mandailing. For many centuries, the Batak people lived in the darkness before the coming of the Christian Gospel. By the grace of God in Jesus Christ, at a certain time, God sent his servants to make known the Gospel of Life into the midst of the Batak people who sat in darkness. The American Baptist Church was the first (in 1824) to send missionaries, Richard Burton and Nathaniel Ward, to the Batak lands. However, these two missionaries were not able to succeed in spreading the Gospel in the Batak lands. Ten years later, in 1834, the Boston-based “American Board of Commissioners for Foreign Missions” sent two people as Evangelizers to the Bataks, Henry Lyman and Samuel Munson. However, these two missionaries were rejected and killed by the residents of a place called Si Sangkak Lobu Pining (about ten kilometers from Tarutung and Sibolga) on 28 June 1834.

Later on, the mission board “Nederlands Zendings Genootschap” sent a missionary named Van Asselt. On 7 October 1861, the mission board “Rheinishe Missions Geselleschaft” delegated the missionaries Heiny and Klammer to the Batak lands. They worked in Sipirok, the region of the Angkola-Mandailing. On 14 May 1862, the RMG mission-board sent I.L. Nommensen to spread the gospel in the Batak lands. He at last was able to succeed and thus we give him the name, “The Apostle to the Bataks.”

The Birth of the “Hoeria Christen Batak” (H.Ch.B.) Which Became the “Huria Kristen Indonesia” (HKI)

 

The Movement for Church Independence

In order to raise living standards, many Batak Christians migrated to the East coast of the island of Sumatra. Most of those who moved were simple farmers, only a few of them working in the colonial plantation industry. We do not know for certain when this migration began. We can note that since 1907 these migrants were establishing churches themselves in the cities in the eastern parts of North Sumatra. The churches resulting from this migration were unceasing in their expectation of the independence of the church from the RMG. H.Ch.B. (which became the HKI) was the First Independent Church (May 1st , 1927). Since 1907 there had been a congregation founded by the RMG in Pematangsiantar. This church became the center for RMG missionaries in the eastern region of North Sumatra. The members of this church were spread out around the edge of the city of Pematangsiantar, for example in the village of Pantoan.

Considering the difficulties in reaching the church by foot, Frederik Sutan Malu Panggabean (which had graduated from the RMG Seminary in Sipoholan in 1909) urged that there be a new congregation founded in Pantoan. Pastor Panggabean’s suggestion was rejected by the RMG missionary in Pematangsiantar, R. Schneider. This moment in history was also marked by the birth of Indonesian nationalism (still under the colonial rule of the Netherlands). The date of 20 May 1908 is remembered as the Day of National Resurgence in connection with the establishment of the nationalist movement Budi Oetomo. With this historical context in mind, the RMG missionary Schneider’s rejection of the establishment of a church in Pantoan became one reason for the establishment of a new church in Pantoan which was to be named, “Hoeria Christen Batak” which was to become the HKI. According to Pastor Panggabean, the reason for setting up this new church was on account of God’s Word found in the Epistle of James 1: 22: “But be ye doers of the word, and not hearers only, deceiving your own selves.”

Beginning Developments

The response of the people around Pematangsiantar to the development of the H. Ch.B. was extraordinary. In the time frame of only three years, that is, between 1927-1930, there were 5 more congregations founded with 220 new families added. In the year 1933, there were 47 congregations; in 1935, 170 congregations. From Pantoan in Pematangsiantar, the HKI spread out to the other regions of Deli Serdang, Tapanuli (Humbang, Sipahutar, Pangaribuan, Silindung, Patane Porsea, Toba Hasundutan) and Medan. Church buildings were built, even though they were simple, to function as elementary schools as well.

The Permission and Right to Serve the Sacraments

People who did not like the H.Ch.B. used to accuse the H.Ch.B. of being a political party subverting the Dutch colonial rule. The people of the H.Ch.B. suffered much as a result of this. The H.Ch.B. was not recognized as a Church by the Dutch government and was not authorized to serve the sacraments (Baptism and the Lord’s Supper). The request for recognition as a Church and the authorization to serve the Christian sacraments was many times conveyed to the Dutch government but never accepted. With limited facilities, Pastor F. Sutan Malu Panggabean went to face the Dutch Governor General in Buitenzorg (today Bogor) on the island of Java. On May  27, 1938, the permission for the H.Ch.B. was granted. Since then, the H.Ch.B. was allowed to celebrate the Christian sacraments.

The Expansion of the Name H.Ch.B. to Become HKI

With the realization of the expansion of the mission of the church and with the understanding that the church was not only for Bataks, the Synod (the governing assembly) of the H.Ch.B. on November 16-17, 1946 broadened the name, making it the “Huria Kristen Indonesia.” This same assembly chose Pastor T. J. Sitorus as the “Voorsitter.” Regrettably, several congregations disagreed with this name change and remained the “H.Ch.B.” Later changing their name to “Gereja Kristen Batak,” on 26 August 1976, the Synod assembly of the GKB, having lost many church members to other churches, declared themselves reconciled with the HKI.

Ecumenical Activities

Isolated for 40 years

As mentioned above, the RMG did not recognize the H.Ch.B as a church. This attitude did not change when the H.Ch.B. became the HKI. The same attitude was present in the “Huria Kristen Batak Protestan” (the HKBP) until 1967. On the basis of this, the HKI was prevented from joining the ecumenical bodies in Indonesia and internationally for 40 years. The H.Ch.B. and later the HKI suffered greatly from this isolation. All higher theological education was closed to students from the H.Ch.B/HKI. For these 40 years, H.Ch.B/HKI stood alone in all financial and staffing matters.
For these 40 years, the H.Ch.B/HKI has noted 4 important critical stages in its internal development: 1934-1942, 1946, 1959-1964 and 1986. But by the grace of our Lord the King, the H.Ch.B/HKI has worked itself through all its internal conflicts.
Received into the Ecumenical Movement

After wrestling in prayer and through tireless approaches, the Indonesian Council of Churches (the “Persekutan Gereja-Gereja,” or PGI) finally accepted the HKI into membership on 29 October 1967 at their meeting in the city of Ujung Pandang (Makassar).  Since the reception of the HKI into membership of the PGI, the door was opened for the HKI enter into the world ecumenical community. Today, the HKI is a member of the CCA, the LWF, the WCC, UEM and maintains good relations with other churches in Indonesia and many other countries such as the Lutheran Church of Australia, the Evangelical Lutheran Church in America, the churches of Rheinland, Westphalia and especially with K.K. Hamm.

The Contemporary Situation

The HKI today has spread in many provinces, regions, cities and islands in Indonesia, especially the islands of Sumatra, Batam and Java.  In this year of 2011, the members of the HKI number about 355,000, spread out between 745 Congregations, 128 Parishes, 9 Districts. The HKI is served by an Ephorus, a Secretary General and 9 District heads, 169 Pastors (both men and women), 732 Teacher-preachers (82 full-time and 650 part-time), 8 “Bibelvrouwen,” 4 Evangelists, 5,020 Elders, 27 staff members in the central office and at the Panti Asuhan Zarfat orphanage, among other places.

SEJARAH HURIA KRISTEN INDONESIA (HKI)

“ Aku akan mengutus dari antara mereka ke pulau-pulau yang jauh yang belum pernah mendengar kabar tentang Aku dan yang belum pernah melihat kemuliaanKu” ( Yes. 66 : 10 ).

I.          Pendahuluan.

Suku Batak adalah salah satu suku yang cukup besar di Indonesia. Karena kebesarannya, orang Batak selalu menyebut “Bangso Batak”. Menurut SejarahNya, suku Batak menyebar dari Pulau Samosir ke daerah-daerah lainnya di Indonesia. Suku Batak terdiri dari lima etnis, yaitu : Toba, Simalungun, Karo, Pakpak Dairi, Angkola – Mandailing. Berabad-abad lamanya, suku Batak berada dalam “kegelapan”. Oleh Anugerah Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, setelah tiba waktunya, Allah mengutus hamba-hambaNya memberitakan Injil kehidupan ke tengah-tengah suku Batak yang masih berada dalam kegelapan itu.

Bangsa Belanda yang sudah + 226 menjajah Indonesia, senantiasa berusaha memajukan usaha dagangnya ( VOC ). Dalam waktu yang bersamaan, mereka  melihat bahwa penduduk di Indonesia  masih lebih banyak yang belum beragama, selain agama suku. Keadaan ini mereka beritakan kepada Gereja-Gereja di Negeri Belanda. Atas dasar berita ini, Gereja Belanda melalui Badan Zending  NZG (Nederlanche Zending Genoschap) mulai mengutus Penginjil ke Indonesia. Mereka memula Penginjilan itu dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan oleh militer Belanda karena dianggap lebih aman. Mereka memulai pekerjaan itu dari Batavia ( Jakarta sekarang ).

Disamping Gereja Belanda, Gereja Babtis Amerika Serikat juga mengutus dua orang Misionaris untuk bekerja di Indonesia. Akan tetapi hingga akhir pelayanannya kedua misionaris itu belum berhasil menyebarkan Injil ke Tanah Batak. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1834, Gereja Boston Amerika Serikat mengutus dua orang lagi Penginjil untuk bekerja di Tanah Baatak, mereka adalah Tuan Munson dan Tuan Lyman. Setelah menempuh jarak kira-kira 100 km dari suatu daerah yang benama Barus dengan berjalan kaki melewati rawa-rawa , gunung-gunung batu terjal, dan hutan belukar, mereka sampai di Sisangkak Lobupining kira-kira 10 km dari Tarutung ke arah Sibolga. Kedua orang Misionaris ini ditolak dan dibunuh oleh penduduk setempat tanggal 28 juni 1834.

Setelah beberapa tahun Badan Zending Belanda NZG bekerja di Batavia, merekapun mulai melakukan penginjilan ke tanah Batak dengan mengutus seorang Misioanaris bernama Pdt. Van Asselt. Mereka memulainya dari arah selatan  ( Sipirok ). Van asselt disusul oleh dua orang Misioanaris  dari Badan Zending Jerman “Reinsche Mission Gesellschaft (RMG)”, yaitu Pdt. Heiny dan Pdt. Klammer ke Sipirok. Sebelumnya kedua Misionars ini pertama kali diutus oleh Badan Zending RMG bekerja ke Borneo (Kalimantan), akan tetapi, mereka ditolak disana kemudian kembali ke Batavia lalu diutus ke Tanah batak ( Sipirok ).

Setelah kedua misionars RMG ini sampai di sipirok, pada tanggal 07 Oktober 1861 tugas penginjilan selanjutnya di Tanah Batak diserahkan oleh NZG (Van Asselt ) kepada RMG ( Pdt. Heyni dan Pdt. Klammer ). Tanggal serah terima inilah yang dicatat sebagai permulaan keKristenan ditanah Batak.

Satu Tahun kemudian, RMG mengutus seorang misionaris , yaitu Pdt. I.L Nommensen, yang akhirnya kita sebut sebagai Rasul Orang Batak. Beliau sampai di Barus pada tanggal 14 Mei 1862 dan terus ke Sipirok bergabung dengan misionaris Pdt. Heyni dan Pdt. Klammer. Setelah berdiskusi dengan kedua Misioanaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nomensen akan bekerja di Silindung. Kunjungan Pertama ke Tarutung dilakukan oleh Nomensen pada Tanggal 11 November 1863. Pada Kunjungan pertama ini, Nomensen diterima oleh Ompu Pasang ( Ompu Tunggul ) kemudian tinggal dirumahnya yang daerahnya masuk dalam kekuasaan Raja Pontas LumbanTobing. Dari sini Nomensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya.

Pada pertengahan tahun berikutnya, 1864, Nomensen dengan membawa semua perlengkapannya berangkat kembali ke Tarutung, dan tiba di Tarutung pada tanggal 07 Mei 1864. Nomensen kembali kerumah Ompu Pasang (Ompu Tunggul ), tetapi dia ditolak. Di Onan Sitahuru, Nomensen duduk dan merenung dibawah sebatang pohon beringin ( hariara) untuk memikirkan apa yang akan dia perbuat. Nomensen lalu pergi kedesa lain dan sampai ke di desa Raja Aman Dari LumbanTobing. Nomensen berharap Raja Aman Dari Lumbantobing dapat mengijinkannya tinggal diatas lumbung padinya.   Akan tetapi raja Aman Lumbantobing sedang pergi kedesa lain membawa isterinya yang sedang sakit keras. Melalui seorang utusan, Nomensen menyampaikan niatnya ini kepada Raja Aman Lumbantobing, akan tetapi Raja Aman Lumbantobing menolak. Nommensen kemudian meminta utusannya ini untuk kembali menemui Raja Aman Lumbantobing untuk kedua kalinya dengan pesan, “bahwa sekembalinya Raja Aman kedesanya, penyakit istrinya akan hilang”. Raja Aman kemudian berkata, apabila perkataan Nomensen itu benar, maka dia akan mengizinkan Nomensen tinggal dirumahnya. Oleh kuasa Tuhan pemilik Gereja, apa yg dikatakan oleh Nomensen terbukti. Penyakit istri Raja Aman sembuh. Raja Aman Lumbantobing kemudian menginjinkan Nomensen tinggal dirumahnya.

Akan tetapi, pada mulanya Raja Pontas LumbanTobing tidak mau menerima Nomensen. Dia berusaha mempengaruhi Raja-Raja di Silindung supaya menolak Nomensen. Sebaliknya, Raja Aman Dari LumbanTobing, juga berusaha mempengaruhi Raja-Raja di Silindung untuk menerimanya. Sehingga masyarakat di sekitar Silindung terbagi dua dalam hal penerimaan terhadap Nomensen. Walaupun masyarakat Silindung terbagi dua (ada yang menerima dan ada yang menolak Nomensen), Nomensen tetap berada di Tarutung dan memulai pelayanannya mengabarkan Injil.

Oleh Kuasa Tuhan, satu Tahun kemudian, 27 Agustus 1865, Nomensen dapat melakukan pembabtisan pertama kepada satu orang Batak. Bahkan di Kemudian hari, Raja Pontas Lumban Tobing yang dulunya menolak Nommensen, meminta supaya dia dan keluarganya dibabtiskan. Pada saat itu juga Raja Pontas meminta supaya Nomensen pindah dari Huta Dame ke Pearaja. Setelah Raja Pontas dan keluarganya masuk Kristen, masyarakat Silindung makin banyak masuk Kristen.

Sejalan dengan pertumbuhan Gereja di Silindung, Nomensen membuka Sekolah Guru di Pansur Napitu. Lulusan sekolah ini dijadikan menjadi guru Injil dan Guru Sekolah. Dikemudian hari, sekolah ini dipindahkan ke Sipaholon. Kemudian, Nomensen membuka Pos Penginjilan baru di Sigumpar. Dari sanalah beliau menyebarkan Injil bersama para pembantunya ke seluruh Toba Holbung dan Samosir.

Nomensen meninggal pada pada tanggal 22 Mei 1918 dan dikebumikan pada tanggal 24 Mei 1918 di Sigumpar, disamping makam istrinya tercinta yang telah mendahuluinya.

I.          GERAKAN KEMANDRIAN GEREJA BATAK

Untuk meningkatkan taraf hidup, banyak orang Batak Kristen yang merantau ke Pesisir Timur Pulau Sumatera dan Jawa. Kebanyakan dari mereka yang pindah adalah Petani yang bersahaja, hanya sedikit dari antara mereka yang bekerja di perkebunan. Kita tidak mengetahui secara pasti kapan mulai terjadi. Yang dapat kita catat adalah bahwa sejak tahun 1907 para perantau ini sudah mendirikan gereja-gerejanya sendiri disekitar perkebunan Tapanuli, kota-kota pesisir Sumatera Timur hingga pada Tahun 1920 di Jakarta yang dikaitkan dengan tradisi Gereja Batak di Tapanuli dan dengan RMG.

Gereja-Gereja di Perantauan ini makin gencar menuntut kemandirian Gerejanya dari RMG. Mereka makin mendorong usaha kemandirian yang telah dilakukan melalui pendirian “Pardonganon Kongsi Mission Batak (PMB)” pada tanggal 02 November 1909 di Tarutung dan “Hadomuan Kristen Batak” ( HKB) pada tanggal 28 September 1917 di Balige.

III.       HOERIA CHRISTEN BATAK ( H.Ch.B ) adalah Gereja Mandiri yang pertama.

1.          Berdiri 01 Mei 1927

Sejak Tahun 1907 sudah ada jemaat yang dirikan oleh RMG di Pematang Siantar ( Jalan Gereja sekarang ), dan jemaat ini menjadi pusat utama para Misioner RMG di Sumatera Timur. Akan tetapi, warga Jemaatnya banyak yang tersebar disekitar pinggiran kota Pematang Siantar yang jaraknya kurang lebih 04 km dari gereja ini dan F.Sutan Malu Panggabean adalah salah seorang dari antaranya.

Mempertimbangkan sulitnya menjangkau Gereja di Pematang Siantar dengan Jalan kaki, maka F. Sutan Malu Panggabean ( yang adalah lulusan Sekolah Guru Seminari Sipaholon tahun 1909) mengusulkan agar didirikan satu jemaat baru di Pantoan. Usul ini ditolak oleh Pdt. R. Scheneider ( Missionari RMG) di Gereja Pematang Siantar.

Sejalan dengan lahirnya hari kebangkitan Nasional melalui pendirian Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan didorong oleh keinginan kemandirian Gereja dari RMG, serta penolakan mendirikan Jemaat Baru di Pantoan oleh Misionaris RMG di Pematang Siantar, adalah menjadi salah satu alasan untuk mendirikan satu gereja baru di Pantoan yang kemudian disebut Hoeria Christen Batak ( H.Ch.B).

Sebenarnya, sejak tahun 1927, F.P.Sutan Malu sudah mulai melakukan kebaktian Minggu dirumahnya di daerah Pantoan Pematang Siantar. Akan tetapi, baru pada tanggal 01 April 1927 membuat surat pemberitahuan resmi kepada pemerintahan. Alasan utama mendirikan Gereja ini ( disamping alasan yang disebut diatas ) dinyatakan oleh F. Sutan Malu Panggabean pada waktu beliau ditanyai oleh Pejabat Pemerintah Simalungun, adalah Firman Tuhan yang tertulis dalam Yakobus 1 : 22 : “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”. Dari alasan yang dikemukakan ini nampak dengan jelas bahwa pendirian Gereja HChB yang memperluas namanya menjadi HKI adalah untuk menyelenggarakan Pekabaran Injil ( Marturia), persekutuan ( Koinonia), dan Pelayanan Kasih ( Diakonia ).

2.         Perkembangan Mula-mula

Sambutan masyarakat Kristen Batak terhadap H.Ch.B di Pematang Siantar dan sekitarnya sangat luar biasa. Dalam kurun waktu yang relative singkat (8 Tahun), yaitu pada masa 1927-1930 terdapat 5 Jemaat dengan 220 Kepala Keluarga, dan pada masa 1931-1933 jumlahnya bertambah menjadi 47 Jemaat dan pada masa 1933-1935 jumlahnya sudah mencapai lebih dari 170 Jemaat. Dari daerah Pematang Siantar dan sekitarnya, pada masa 1931-1942, Gereja HChB sudah menyebar sampai ke Daerah Deli Serdang, Tapanuli didaerah Humbang, Sipahutar, Pangaribuan, Silindung sekitarnya, Patane Porsea atau Toba Holbung sekitarnya, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sidikalang, atau Dairi sekitarnya, Tanah Alas dan sekitarnya. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa gerakan kemandirian Gereja itu tidak hanya terjadi diPematang Siantar dan sekitarnya, tetapi juga di Medan. Demikianlah pada tanggal 5 Agustus 1928 oleh 123 orang warga jemaat RMG mendirikan satah satu Jemaat baru di Medan yang disebut “Hoeria Christen Batak Medan Parjolo” ( HChB Medan I ). Karena banyak yang tidak senang atas pendirian Gereja Baru ini, maka kelompok yang tidak senang ini menamai mereka “Partai 123”. Sebutan ini dimaksud untuk mendiskreditkan Gereja Baru ini sebagai partai politik bukan Gereja. Jermaat inilah yang menjadi jemaat HKI jalan Dahlia Medan sekarang. Semua jemaat-jemaat diharuskan menyelenggarakan Pendidikan kepada anak-anak setingkat sekolah dasar.

2.         RECHTPERSON DAN HAK MENYELENGGARAKAN SAKRAMENT.

H.Ch.B yang disebut-sebut oleh orang-0rang yang tidak menyukainya sebagai kumpulan Partai Politik sangat menderita. Karena HChB tidak diakui sebagai Gereja, maka tidak diberi hak melayankan sacrament ( Babtisan dan Perjamuan Kudus ) oleh pemerintahan Belanda. Atas dasar ini maka Pimpinan HChB Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean dan Secretaris I.M Titoes Lumban Gaol memohon Rechtperson dan izin melayankan sacrament kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta pada tanggal 09 September 1929 dan disusul tanggal 01 Agustus 1931. Akan tetapi jawaban dari Pemerintah Belanda tidak kunjung tiba.

Karena permohonan-permohonan tidak ditanggapi, maka diputuskan untuk mengutus Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean langsung menghadap  Gebernur Jenderal di Jakarta. Biaya yang dibutuhkan f.250 ( sama dengan harga 310 kaleng beras). Untuk mengusahakan biaya ini ditugaskan pengurus HChB Pantoan dan Dolok Merangir. Akan tetapi, mereka gagal untuk mencarinya.

Seluruh jemaat-jemaat di Pematang Siantar dan sekitarnya berdatangan ke Pantoan untuk mendoakan kepergian Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean Pimpinan Gereja mereka agar Tuhan menyediakan biaya yang dibutuhkan dan beliau dituntun, diperlengkapi, dikuatkan serta dipelihara oleh Tuhan dalam perjalanannya. Mereka bernyanyi dan berdoa dengan deraian air mata.

Atas dasar keyakinan, Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean berangkat ke Dolok Merangir dan besok paginya direncanakan berangkat ke Belawan. Beliau sampai disana pukul 22.30 (malam). Sekretaris I M.T LumbanGaol menginformasikan bahwa biaya yang dibutuhkan ke Batavia belum diperoleh.

Dengan lebih dulu bernyanyi dan berdoa diiringi dengan isakan tangis , dalam kegelapan malam Bapak M.T Lumban Gaol berangkat lagi untuk mengusahakannya. Beliau kembali pada pukul 01.30 (pagi) dengan membawa sejumlah uang yg dibutuhkan. seorang yang bukan warga gereja berkenan meminjamkannya kepada bapak M.T Lumban Gaol. Inilah yang memungkinkan keberangkatan  Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean langsung menghadap  Gebernur Jenderal di Jakarta. Dengan diiringi doa dan air mata, seluruh warga Jemaat melambaikan tangan untuk memberangkatkan Pimpinan Gereja nya ke Batavia.

Di Batavia, melalui bantuan seorang pengacara yang bernama Mr. Hanif, Voorzitter F.P Sutan Malu Panggabean dapat menemui Gubernur Jenderal Belanda di Bustenzorg ( Bogor sekarang ). Setelah dilakukan rapat oleh pemerintah Belanda maka pada tanggal 27 Mei 1933 ( dua hari berikutnya ) Rechtperson diberikan. Dan sepuluh hari berikutnya, izin melayankan Sakrament juga diberikan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Menyadari pentingnya pelayan untuk melayankan Sakrament maka pata tahun 1933 Voorzitter F.P Sutan Malu Panggabean ditahbiskan menjadi Pendeta.

3.         PERLUASAN NAMA HChB MENJADI HKI

Atas kesadaran perluasan misi Gereja dan atas kesadaran bahwa HChB bukan hanya untuk berada di Tanah Batak Saja, maka pada Synode tanggal 16-17 November 1946 nama HChB ( Huria Christen Batak ) diperluas menjadi HKI ( Huria Kristen Indonesia ). Dalam Synode ini juga dipilih Voorzitter ( Ketua Pucuk Pimpinan yang baru ) Pdt. T.J Sitorus. Beliau inilah yang memimpin HKI sampai Juli tahun 1978 ( 32 Tahun ).

Akan tetapi sangat disayangkan, setelah selesai Synode, ada beberapa Jemaat dan Pendeta yang menyatakan ketidaksetujuan nya pada perluasan nama ini. Mereka terpisah dari HKI dan tetap memakai nama HChB, yang kemudian diubah menjadi “Gereja Batak Kristen ( GKB ). Baru pada tanggal 26 Agustus 1976 Synode GKB menyatakan diri bergabung kembali dengan HKI.

4.         KEGIATAN OIKUMENIS

a. Terisolasi selama 40 Tahun

Seperti disebutkan diatas, bahwa Badan Zendng RMG tidak mengakui HChB (HKI) sebagai Gereja. Oleh sebab itu, selain dari mempengaruhi Pemerintahan Hindia Belanda untuk mempersulit Gereja HChB memperoleh Rechtperson dan izin melayankan sacrament, juga menghambat HChB ( HKI ) memasuki Badan-Badan Oikumenis di Indonesia dan Internasional selama 40 Tahun. Selama 40 Tahun ini HChB ( HKI ) sangat menderita. Semua Perguruan Teologia di Indonesia tertutup untuk HChB ( HKI ). Dengan kemampuannya yang terbatas, HChB ( HKI ) mendidik para Pelayannya ( Pendeta, Guru Jemaat, Bibelvrow dan Evangelis) selama 40 Tahun. HKI juga tidak menerima bantuan apapun dari gereja-Gereja dalam dan Luar Negeri. Gereja HKI benar-benar berdiri sendiri dalam daya, dana dan teologia.

Selama 40 tahun ini juga, HChB ( HKI )  mencatat tiga kali kemelut Internal ( masa 1934-1942; 1946; 1959-1964). Akan tetapi oleh anugerah Tuhan pemilik Gereja itu dan dilandasi oleh semangat kemandirian Gereja HChB ( HKI ) dapat menyelesaikan sendiri masalah internalnya.

B.        DITERIMA DALAM KEGIATAN OIKUMENIS.

Setelah bergumul didalam doa dan melalui pendekatan-pendekatan yang sangat melelahkan, maka pada Sidang Dewan Gereja-Gereja Indonesia ( DGI ) tanggal 29 Oktober 1967 di Makasar (Ujung Pandang ) HKI diterima menjadi Anggota DGI.

Sejak HKI diterima menjadi Anggota PGI, terbukalah pintu bagi HKI untuk Persekutuan Gereja-Gereja Internasional. Sekarang HKI adalah salah satu Gereja Anggota di CCA, LWF, WCC, UEM dan memiliki hubungan yang baik dengan Gereja-Gereja di Indonesia dan dengan gereja –Gereja di Indonesia dan dengan Gereja-Gereja Manca Negara misalnya ELCA ( AMerika), LCA ( Australia), Gereja Rheinland dan Wesfalia di Jerman, dan secara khusus memiliki hubungan Partnership dengan K.K Hamm Jerman.

5.         KEADAAN SEKARANG

Dalam umurnya yang ke 79 tahun ini, HKI sudah tersebar di persada nusantara ini terutama di Sumatera dan Jawa. Warga jemaatnya kurang lebih 355.000 jiwa dan tersebar di 745 Jemaat, 128 Resort, dan 9 Distrik/ Daerah. Dilayani oleh 169 orang Pendeta, 78 Orang Guru Jemaat penuh waktu dan 596 orang Guru Jemaat paruh waktu, 8 orang bibelvrow, 4 Orang Diakones.

IV.       PENUTUP

Melihat kesetiaan Tuhan menuntun HChB yang memperluas nama nya menjadi HKI selama 84 Tahun ini, maka kita patut beryukur kepada Tuhan serta mengevaluasi secara jujur dihadapan Tuhan sudah sejauh mana kemaksimalan pelayanan kita selama ini di HKI. Untuk kemudian bersama membangun pelayanan di HKI ini. Ingatlah bahwa motivasi dan dasar mendirikan HChB atau HKI ini seperti yang tertulis di Yakobus 1 :22 yang menatakan : “Tetapi hendaklah kamu menajdi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demian, kamu menipu diri sendiri”.

Disarikan Oleh Pucuk Pimpinan HKI

PERIODE 2005-2010




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.