KEGIATAN SERMON :

1. SERMON RESORT : SETIAP MINGGU I/BULAN : DI RUMAH DINAS PENDETA RESORT JAM 16.00 WIB

2. SERMON HKI KEDATON : SETIAP JUMAT JAM 21.00 WIB (USAI KOOR PA)

3. SERMON GSM : SETIAP MINGGU KE II/BULAN JAM 16.00 WIB.

 

BAHAN SERMON AGUSTUS 2011

KHOTBAH MINGGU VIII SETELAH TRINITATIS TANGGAL 14 AGUSTUS 2011

NATS EVANGGELIUM : Yesaya 2:1-5

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

 I.   PENGANTAR

Yesaya hadir sebagai nabi pada th 740 Seb.Masehi di ibukota kerajaan Yehuda, yaitu Yerusalem. Yesaya menjadi Nabi pada situasi dan kondisi dimana kemerosotan moral (1:16), ketidak-adilan, pemerasan dari pihak kalangan atas terhadap rakyat kecil merajalela (1:16-17), kemunafikan dalam kehidupan beragama (1:11-15). Kuasa politik yang menguasai pada saat itu ialah Kerajaan Asyur dengan ibukotanya Niniwe di bawah pimpinan raja Tiglat-Pileser.

Tujuan dari kitab ini dipaparkan di Pasal 1 bahwa Tuhan Allah sebagai Yang Maha Kudus (1: 4) akan memberikan pengampunan serta berkat jasmani (1:8-9) apabila umatNya melakukan pertobatan, namun bila mereka tidak berpaling kembali kepada Tuhan Allah maka Tuhan Allah Israel akan memusnahkan umatNya itu (1:20). Kitab Yesaya mulai dari pasal 1-12 adalah berupa seruan yang ditujukan kepada umat Allah di Yehuda, sedangkan  pasal 13-23 tertuju kepada berbagai bangsa yang memusuhi umat Tuhan, dan pasal 24-35 isi nubuatan nabi Yesaya berupa janji bagi umat yang mengalami kemalangan/penderitaan, akan ada masa depan, juga masa terakhir, di mana Tuhan Allah Israel akan nyata-nyata berkuasa. Nabi Yesaya juga dikenal sebagai nabi pengharapan, ini terlihat ketika nabi berbicara bahwa Tuhan tetap setia terhadap janji-janjiNya kepada Yehuda, bahwa meskipun raja-raja Yehuda yang sebelumnya sangat mengecewakan (7: 14; 9:1-6; 11:1-9) akan tetapi dari keturunan Daud akan tampil seorang raja yang menyelamatkan. Khusus perikop di minggu ini, yaitu pasal 2:1-5, nabi Yesaya mewartakan nubuatan tentang Yerusalem, yang disebut kota Sion, yang kelak akan menjadi kota Allah bagi semua bangsa, namun ini akan terjadi pada hari-hari terakhir. Untuk sampai pada masa pemulihan itu, umat Israel harus menjalani masa penghakiman yang maha adil dari Tuhan Allah atas semua kejahatan, kesombongan yang dilakukan umat Israel di Yehuda.

 

II.   PENJELASAN NATS & RELEVANSI

Pasal 2:1 ini berisi Firman Tuhan Allah berupa nubuatan di mana melalui keturunan Yakub (2: 5) Tuhan Allah Israel akan datang sebagai pembawa damai dan terang bagi bangsa-bangsa melalui Israel. Itu akan terjadi pada hari-hari terakhir, Gunung Sion akan menjadi Rumah Tuhan yang berdiri tegak dan semua bangsa akan berduyun-duyun datang kesana.

Nubuatan nabi Yesaya memberikan gambaran-gambaran letak geografis kota Yerusalem dengan kata-kata gunung-gunung – bukit-bukit. Keberadaan Yerusalem terletak menjulang tinggi di punggung bukit pegunungan Yehuda kira-kira 50 km dari Laut Tengah dan kira-kira 30 km sebelah barat ujung utara Laut Mati. Menuju kota Yerusalem ada 3 lembah, di sebelah timur Lembah Kidron, sebelah barat Lembah Hinom dan sebuah lembah lagi, Lembah Tiropuon. Bukit-bukit  menjulang di kiri kanan Lembah Tiropuon yang membagi dua kota , sebelah Timur dan sebelah  barat. Sedangkan bukit-bukit pun terbagi dua, sebelah utara dan sebelah selatan. Selama berabad-abad secara berkala ditimpa bencana alam yang menyebabkan timbunan puing-puing dan reruntuhan yang berlapis-lapis, sehingga menggunung dibeberapa bagian Yerusalem yang tingginya lebih 30 m. Kata gunung tempat rumah Tuhan,  mengingatkan pada hakekat kota Yerusalem yang di pandang sebagai kota suci sejak ia ada  yaitu pada th 3 seb M. Sebagai kota suci dalam arti kota itu merupakan tempat beribadah, tempat di mana Tuhan Allah hadir dan bersemayam, itulah sebabnya kata gunung dikaitkan dengan kata rumah. Dahulunya, Sion merupakan daerah bagian selatan dari bukit timur yang direbut Daud, sehingga dikenal dengan kota Daud (2 Sam 5:7), kemudian di sebelah utaranya, Salomo membangun Bait Allah sehingga dikemudian hari seluruh daerah tersebut dinamai Sion. Pemberitahuan posisi yang jelas ini adalah agar tidak terjadi perbedaan penafsiran/perdebatan mengenai tempat yang dikabarkan.

Dari kota  Sion ini akan datang pengajaran (tora = Ibr) dan dari Yerusalem akan datang firman (davar = Ibr). Keduanya, torah dan davar merupakan bentuk karya Tuhan Allah sendiri yang bersumber pada Tuhan Allah, bukan dari manusia. Dengan demikian maka benarlah yang  dikatakan dan dinubuatkan oleh nabi Yesaya, bahwa kedatangan banyak orang ke Yerusalem,khususnya Bukit Sion, Kota Allah yang sempat ditinggalkan “putera-puterinya” akan ramai kembali, banyak orang dari segala bangsa akan berduyun-duyun berpaling kembali kepada Tuhan Allah, dalam ibadah yang benar karena Dia adalah Allah Yang Maha Kudus. Sion, Kota Allah akan berfungsi sebagai tempat pengajaran dan pemberitaan firman dari Tuhan Allah sendiri akan menjadi Pusat Kerajaan damai.

Dari sini bisa kita relevansikan, bahwa Bait Allah akan ditinggal oleh “putera-puterinya” dalam arti jemaatNya, jika Torah dan Davar (pengajaran dan firman TUHAN) tidak murni lagi terdengar lagi dengan murni baik melalui kata (pewartaan Firman) maupun karena perilaku oknum. Dan sebaliknya, jika Torah dan Davar benar-benar terberita lagi dengan murni dan adanya karakter yang benar dari para pengelola/pelayan Bait Allah, maka Bait Allah akan ramai kembali layaknya Sion pada nats kita. Orang-orang yang dulunya telah “meninggalkan Bait Allah” akan kembali beribadah dan bersekutu di Gereja dan setiap kegiatannya. Firman Allah lah yang harus di perdengarkan, dibahas, di sermonkan, dan di lakukan oleh orang-orang yang percaya pada Kristus, Alkitab adalah acuannya. Ciri jemaat yang dibina oleh Torah dan Davar adalah Galatia 5:22, tetapi jika Gereja telah kehilangan Torah dan Davar maka ciri Jemaatnya adalah tampak pada Galatia 5:19-21.

Ayat 4, Sebutan kata hakim dan wasit menunjukkan keberadaan Tuhan Allah, menyatakan bahwa memang hanya Dialah satu-satuNya yang akan menjadi Hakim yang maha adil dan maha benar. Dan layaknya wasit yang berada dilapangan pertandingan, Ia tidak berpihak tetapi selalu mengawasi dengan penuh seksama, sehingga pertandingan itu berjalan baik dan menurut aturan yang benar. Demikianlah nabi memposisikan eksistensi Tuhan Allah sedemikian, sebagai  Hakim dan Wasit baik bagi umatNya sendiri maupun bagi bangsa-bangsa lainnya. Berkaitan dengan eksistensi Tuhan Allah sebagai hakim dan wasit itu, di mana perkara ini akan terjadi dan digenapi pada hari-hari terakhir, bahkan hal inipun dikatakan juga  oleh nabi Mikha (Mi 4:1-3). Bunyi nats Yesaya 2 :2-4  hampir sama bentuknya dengan Mikha 4: 1-3, maksud dari nubuatan nabi itu adalah hendak menyatakan apa yang akan terjadi kelak bagi umat Tuhan di Yerusalem  dalam waktu-waktu terakhir. Waktu-waktu terakhir dimana Tuhan Allah sebagai hakim dan wasit akan melakukan suatu perubahan yang amat penting dalam kehidupan umat ke depan yakni bahwa umat Tuhan yang setia dan yang bertobat kepadaNya akan mengalami kehidupan yang damai sedangkan manusia yang tetap dalam dosa, akan menerima penghukuman. Dari ayat ini juga bisa kita relevansikan bahwa semua manusia adalah berdosa, dan tidak ada seorang manusiapun dapat menghakimi sesamanya, karena itu adalah hak Allah. Tugas manusia adalah dipakai Allah mendampingi orang yang dianggap berdosa dan sesat agar menyadari kesalahannya dan bertobat kepada Allah. Jika setiap orang mengambil posisi sebagai hakim atas sesamanya maka akan ada perseteruan dan akhirnya merusak keutuhan jemaat dan keadaan damai sejahtera akan sulit tercapai.

Suasana damai mengacu kepada suatu masa ketika pedang-pedang tidak lagi di tempah untuk senjata berperang melainkan  ditempah menjadi mata bajak untuk mengolah tanah, dan tombak-tombakpun di tempa menjadi pisau pemangkas, yang dipakai untuk memotong pohon-pohon besar. Situasi damai juga  akan ditandai dengan tidak adanya lagi peperangan antar bangsa, bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang (2:4), kehidupan yang baru akan terwujud bagi umat Tuhan yang didalamnya penuh dengan kedamaian. Saat ini bukan saja senjata yang tidak perlu lagi ditempah untuk berperang, tetapi hati dan pikiran manusia pun harus semakin ditempah untuk merancang hal-hal yang baik. Karena sering sekali perseteruan terjadi bukan hanya secara terbuka tetapi secara tertutup. Ini diawali oleh rasa cemburu dan iri hati sehingga ada kemarahan. Mari bertanya kepada diri kita disini, apakah kedamaian sudah ada diantara kita, di Punguan kita, di Gereja kita, kedamaian yang dimaksud bukan hanya tidak adanya pertengkaran dan perseteruan terbuka, melainkan juga tidak ada kecemburuan, iri hati dan dengki yang terus berperang di dalam hati secara tertutup serta hati yang damai antar manusia.

Ayat 5, Kalimat dalam ayat ini merupakan himbauan untuk berjalan di dalam terang Tuhan. Kata terang di sini dikaitkan dengan eksistensi Tuhan Allah sebagai Yang Maha Kudus, yang menyatakan hal ini akan terjadi pada hari-hari terakhir, di mana umat Tuhan,  keturunan Yakub akan berjalan sebagai umat yang kudus, yang sudah ditebus dan dibenarkan oleh Tuhan Allah sendiri. Setiap orang yang dating ke Sion untuk beribadah akan menjadi terang menghalau kegelapan di bangsa Israel maupun bagi bangsa-bangsa lain.

 

III. PENUTUP

Jemaat terkasih, nubuat tentang Sion dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus. Kristus Tuhan datang untuk menghidupkan kembali peranan dan fungsi Sion dalam sejarah penyelamatan. Dia bukan hanya mengajarkan tetapi memberitakan tentang damai sejahtera Allah ke atas Israel dan bangsa-bangsa lainnya. Kedatangan-Nya menyatakan  dan memastikan bahwa pemerintahan Allah, yang dulu sudah ada, sedang dan akan terus berlangsung. Kristus yang dinantikan juga akan melaksanakan penghakiman-Nya. Ia akan membenarkan banyak orang yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, marilah kita dalam sikap hidup beriman senantiasa bersyukur sebab Allah sedang mengunjungi kita dan akan menggenapi janji-Nya. Allah akan tampil sebagai Hakim dan Wasit yang membawa keadilan, kebenaran dan menghapus segala kebencian, dendam (peperangan) serta  menciptakan damai sejahtera, kehidupan yang lebih dinamis, kreatif (seperti dinyatakan dalam ayat 4). Dan Allah akan menjadi sumber penerang, yang senantiasa menunjukkan jalan kehidupan menuju kepada kebahagiaan yang kekal di tengah pergumulan hidup umat-Nya. Dan ini semua berlaku juga bagi kita di HKI Resort Bandar Lampung. Amin.


EPISTEL MINGGU 14 AGUSTUS

NATS : EFESUS 5 : 8-14

“BEJANA DARI TANAH LIAT”

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

 I.      PENGANTAR

Yeremia 18:1-23 menuliskan mengenai tukang periuk yang sedang membuat periuk atau bejana dari tanah liat. Hal ini menggambarkan Tuhan sebagai yang akan membentuk hidup kita yang berasal dari tanah liat ini menjadi bejana yang berguna di dalam tanganNya (bnk.II Kor 4:7). Kita adalah bejana dari tanah liat. Di dalam membentuk atau menangani kita Tuhan tidak pernah menyerah. Pada saat dilihatNya hidup kita tidak tepat Ia selalu membentuknya menjadi sesuatu yang lain supaya dipakaiNya. Kita adalah bejana dari tanah liat dengan potensi tanpa batas. Pada saat kita meleset Ia akan memungut kita kembali dan membentuk seluruhnya lagi. Inilah salah satu tema pembahasan pada perikop minggu ini, Surat Penggembalaan yang di tulis Paulus kepada Jemaat Efesus.

 

II.   PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

Jemaat terkasih, Nats diawali kalimat “memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (ayat 8). Semua manusia adalah berdosa, akan tetapi walaupun demikian Allah telah menebus dosa setiap manusia dan membawa terang bagi manusia. Bukan hanya itu, ketika Tuhan Yesus hendak naik ke surga, Tuhan Yesus menugaskan manusia melaksanakan Amanah Agung yaitu mewartakan Injil kepada semua mahluk. Allah mau memakai manusia yang mau bertobat untuk menjadi DutaNya mewartakan Injil. Kita melihat Abram. Dahulu dia seorang kafir.Yos 24:2 “Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.” Tetapi Allah melihat dia adalah bejana tanah liat yang akan bisa dipakai Nya. Dan akhirnya Allah mengikat perjanjianNya dengan Abraham dan keturunanNya.

Kita melihat lagi Musa : Dia adalah anak seorang lbrani yang dibuang ke sungai Nil. Dia dipungut anak oleh Putri Firaun. Dia menjadi Pangeran Mesi~, satu kerajaan yang tidak mengenal Allah Abraham. Dia pernah menjadi seorang pembunuh. Dia menyembunyikan mayat orang tersebut di dalam pasir. Dia melarikan diri di Midian. Dia menjadi gembala domba mertuanya yang sedikit jumlahnya; Tetapi Allah membentuknya kembali menjadi alat yang berguna di tangan Tuhan.

Kita akan melihat lagi Daud : Daud kita kenal kepahlawanannya. Dia adalah gembala yang pernah membunuh singa dan beruang dengan tangan telanjang. Bahkan sebelum menjadi prajurit sekalipun, dia sudah pernah membunuh Goliat, raksasa pendekar Filistin. Tetapi di dalam masa jabatannya yang tinggi sebagai raja, dia berubah menjadi pembunuh Uria prajuritnya dan mengambil Betsyeba isteri uria menjadi isterinya. Ini kejatuhan yang sangat fatal. Tetapi Tuhan tidak putus asa mengenai Daud. Dia membentuk Daud kembali sehingga dia dapat mengarang Mazmur yang sangat memberkati pembaca-pembacanya. Mengapa demikian? Karena dia mau bertobat dalam pembentukan Tuhan.

Kita akan melihat Saulus dari Tarsus : Bukankah dia seorang pembunuh. Dia adalah pembunuh berdarah dingin yang mengejar orang-orang tidak berdosa dan membunuh mereka karena semangat agamawi yang salah. Tetapi Tuhan melihat dia sebagai bejana yang penuh potensi. Tuhan Yesus khusus menjumpainya dalam perjalanan ke Damsyik. Kis. 9 : 4 “ Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya :” Saulus, saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”. Tetapi pembunuh berdarah dingin ini dibentuk kembali oleh Tuhan menjadi seorang Rasul Paulus dan akhirnya Allah memakai Paulus hingga akhir hayatnya untuk pengembangan pelayanan dan pertumbuhan Kekristenan.

Kita akan melihat Petrus yang menyangkal Yesus : Baru saja dia mengaku bahwa Yesus adalah Kristus Anak Allah yang hidup. Tetapi tidak lama kemudian imannya goncang dan dia menyangkal Yesus bahkan sampai tiga kali. Tetapi tatkala sadar dia menangis. Tuhan membentuknya kembali menjadi bejana yang sangat berguna di tangan Tuhan. Dia menjadi penuai jiwa- jiwa yang pelayanannya disertai dengan tanda heran dan mujizat dan menjadi orang yang tidak takut menjadi martir.

Tetapi mengapa Tuhan tidak membuat Yudas menjadi bejana yang baru? : Sebab Yudas tidak membuka diri bagi pengampunan. Yudas menggantung diri. Janganlah anda mengeraskan hati terhadap pembentukanNya. Apabila penjunan itu sudah membentuk anda kembali Iblis tidak bisa menuntut anda kembali. Itulah sebabnya teruslah menyerahkan dirimu kepada Tuhan di dalam kegagalan-kegagalan. Jangan berputus asa.

 

Jemaat terkasih, apa yang bisa kita pelajari dari hal diatas? Firman Tuhan dalam Matius 28 : 19-20 dan 1 Petrus 2 : 9 berisikan Amanah Agung untuk berpekabaran Injil baik melalui perkataan, perbuatan maupun doa dan ini adalah tugas kita semua. Ini artinya, kita semua adalah bejana yang terpilih untuk dipakai di tangan Tuhan.

Nats ini dituliskan Paulus kepada jemaat di Efesus. Jemaat di Efesus dahulunya adalah penyembah dewa-dewa dan melalui penginjilan Paulus mereka akhirnya menjadi pengikut Kristus. Dengan menyampaikan ayat ini Paulus menekankan perbedaan kehidupan yang sedang dan akan mereka jalani. Bahwa dahulu mereka berada dalam kegelapan, kini mereka didalam terang Tuhan. Mereka menjadi tanah liat yang siap dibentuk oleh Tuhan. Untuk itu, sebagai anak terang mereka harus :

  1. Berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran
  2. Menguji apa yang berkenan kepada Tuhan
  3. Jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan, yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya, telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Ayat 13 berkata bahwa segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi Nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
  4. Ayat 14 menegaskan “…bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu”. Akhir perikop Epistel minggu ini mengatakan “Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (ayat 15).

Nats ini sampai kepada kita saat ini, kita adalah generasi/orang yang dipilih Tuhan. Sama seperti jemaat di Efesus, demikian juga dengan kita walaupun latar belakang kita tidak baik, Allah dapat membuat kita menjadi baru sama sekali. Dia dapat membentuk kita ulang seluruhnya. Seberapa burukpun masa lalu kita kita bisa dibentuk TUHAN dengan lebih baik. Karena tidak ada orang yang terlalu jahat yang tidak bisa diubah didalam TUHAN. Untuk itu perlu kerendahan hati dan pertobatan agar Tuhan dapat membentuk kita kembali menjadi “alat yang indah” di tanganNya. Untuk itu kita harus percaya terhadap potensi dalam diri kita, memiliki hati sebagai seorang hamba. Orang yang berhati hamba selalu siap untuk menjalankan perintah tuannya. Seorang berhati hamba memiliki kerendahan hati. Jauhkan segala kesombongan dalam bentuk kecil apapun juga. Pada saat hamba melakukan perintah tuannya dia tidak perlu kuatir karena tuannya akan memperlengkapinya.

 

Hidup sebagai orang percaya merupakan suatu pergumulan, perjuangan dan peperangan. Ketika kita sudah memilih hidup bagi Kristus, maka kita menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Peperangan melawan godaan dan tekanan iblis, kedagingan dan cara hidup manusia lama kita. Diperlukan proses untuk menjadi manusia baru. Minimal ada tiga prinsip kebenaran Alkitab sebagai langkah yang harus ditempuh, yaitu:

  1. Tanggalkan manusia lama. Kalau kita sudah menjadi orang Kristen, tetapi masih hidup sebagai manusia lama, apa yang harus kita perbuat? Bagaimana caranya kita menanggalkan segala bentuk kehidupan lama kita? Kekuatan yang bagaimana yang memberikan kita sanggup menanggalkannya? Tuhan tidak pernah mengubah kehidupan seseorang kalau orang itu tidak mau berubah. Dengan mendengar Firman Allah dan mau menyadari akan kekurangan yang ada padanya dan mohon Roh Kudus memberikan kekuatan, maka orang itu memiliki kemampuan untuk menanggalkan hidup manusia lama. Hanya dengan pekerjaan Firman Allah dan Roh Kudus, seseorang dapat diubah wataknya.
  2. Kenakanlah manusia baru. Kenakanlah manusia baru menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan. Jangan berkata dusta, tetapi berkatalah jujur dan benar. Kenakanlah manusia baru di dalam Kristus, yaitu hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, sabar, lemah lembut, baik hati, sederhana, berbudi luhur, berpengetahuan, saleh, murah hati, berpikir positif dan penguasaan diri. Dan jika semuanya itu ada pada diri kita, maka semakin nyatalah kemuliaan Allah melalui hidup kita, sehingga kita menjadi berkat bagi semua orang.
  3. Berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Hanya melalui hidup yang dipimpin Roh Kudus, kita mampu menjaga dan memelihara kehidupan kita agar tidak jatuh kembali ke hidup manusia lama. Dan dengan hidup takut akan Tuhan, di dalam kekudusanNya, maka melalui FirmanNya kita hidup dan berjalan dalam pimpinan Tuhan dan Roh KudusNya. Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi, dan menyatakan rahasia Allah. Janganlah kita mendukakan Roh Kudus. Di dalam Efesus 4:23, tertulis bahwa “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu”. Istilah lain dari kelahiran kembali adalah lahir baru. Paulus berkata bahwa karena kita lahir baru berarti menjadi yang ciptaan baru. Jadi waktu kita dilahirkan kembali berarti kita diperbaharui. Allah mau mencurahkan segala sesuatu yang baru dalam kehidupan kita, oleh karena itu, hidup kita harus diperbaharui. Tanpa Roh Kudus tidak ada sesuatupun yang bisa kita lakukan.

 

PENUTUP

Tuhan tidak memilih kepandaian atau kehebatan untuk dapat memakai kita sebagai alat-Nya. Tuhan juga tidak menjadikan masa lalu kita sebagai ukuran masa depan kita. Tuhan menginginkan orang yang konsisten, tidak mudah menyerah dan tidak gampang patah semangat walau apapun yang terjadi. Untuk itu mari tetap menjadi baru didalam Allah. Biarlah Allah kemudian memperlengkapi kita menjadi pembawa terang dimana kita berada. Ditengah tantangan menghadirkan terang, mari tetap konsisten, lihatlah maka campur tangan Tuhan menguatkan akan jelas terlihat. Amin.

 

KHOTBAH MINGGU IX SETELAH TRINITATIS TANGGAL 21 AUGUSTUS 2011

NATS EVANGGELIUM: Matius 7: 24 – 27

TOPIK MINGGU : FIRMAN TUHAN MENUNTUT PERBUATAN YANG BIJAKSANA (HATA NI JAHOWA MANGHORHON PANGULAON NA TAMA )

Pdt. HAPPY PAKPAHAN (HKI RESORT BANDAR LAMPUNG)

 

I.   PENGANTAR

Injil Matius mau menyampaikan kepada dunia bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah “Anak Daud” (Mat. 1:1 ; 9:27 ; 12:23 ; 15:22; 20:30–31 ; 21:9, 15 dan 22:42 ) dan Dialah yang menyelamatkan umatNya dari dosa. (Mat. 1:21). Kerajaan Allah itu terbuka melalui Tuhan Yesus Kristus, dan telah dinyatakan oleh Allah kepada dunia ini, bukan sekedar janji. Tuhan Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan Dialah “Mesias” yang telah diwartakan para nabi di dalam perjanjian lama. Matius ingin menyatakan, bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menggenapi pengharapan orang Israel (Mat. 1:22), dan perananNya sebagai “hamba Allah” (Yom Yahweh), supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya (Mat. 12:17-18, Mat. 13:34–35).

 

II. PEMBAHASAN DAN RELEVANSI.

Melalui Nats ini, Matius ingin menyampaikan : Standar kebenaran dari kerajaan Allah yang menyangkut sikap hidup yang perlu diteladani oleh setiap orang Kristen. Dalam hubungan ini, Tuhan Yesus melalui ajaranNya menyampaikan dalam bentuk perumpamaan yang menjadi Nats Minggu ini. Ada dua alternatif hal yang menyangkut dengan pola hidup manusia yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan ini, dan salah satu dari antaranya dapat menjadi pedoman hidup dari setiap orang Kristen, yaitu:

1. Hikmat

Allah adalah sumber dari segala sesuatu yang ada (Kej. 1), termasuk hikmat, pengetahuan, kebijakan manusia (2 Taw. 1:7–12). Pada waktu pesta hari raya orang Yahudi, Salomo pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban persembahannya kepada Allah, sekaligus dia berdoa memuji dan memuliakan nama Tuhan. Hal itu adalah baik dalam penglihatan dari Allah. Sehingga pada malam itu juga Allah menampakkan diriNya pada Salomo dan berfirman kepadanya : “Mintalah apa yang hendak kuberikan kepadamu !” Lalu berkatalah Salomo kepada Allah : “Berilah kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini.”

Hubungannya dengan konteks ini, sebagaimana Salomo yang mau dengar-dengaran terhadap firman Allah, dan dia juga melakukan segala kebajikan di dalam penglihatan Allah, atau Allah berkenan atas apa yang dilakukan oleh Salomo itu, maka hal yang seperti inilah yang diinginkan oleh Allah dari manusia ciptaanNya saat ini. Orang tersebut dinilai sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Di dalam pengertian, bahwa hujan dan banjir itu diterjemahkan sebagai gambaran dari berbagai bentuk kesulitan yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan menerpa kehidupan manusia itu. Tantangan bisa datang sewaktu-waktu, dipicu oleh hal yg terkadang diluar dugaan, dan melibatkan orang-orang yang tidak diprediksi sebelumnya (bahkan sering orang-orang terdekat menjadi “lawan” bersoal). Tetapi walaupun demikian, kehidupan badani, jiwa dan rohnya tidak akan dapat tergoyahkan oleh kekuatan apapun juga, karena dia telah berdiri di atas batu alas yang teguh dan kuat melalui imannya kepada Allah. Setiap anak, keluarga, usaha, tohonan, dll yang dibangun atas prinsip ini akan kuat dan menjadi berkat buat semua orang. Karena imannya mengakar dan berbuah mengalahkan tantangan yang hadir.

 

2. Kebodohan

Sebaliknya, perumpamaan tentang orang yang bodoh, melalui firman ini Tuhan Yesus mau  mengisyaratkan dan menyebutkan bahwa setiap orang yang mendengarkan firman Allah ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh. Sama artinya, bahwa orang itu mempunyai telinga tetapi tidak mendengar atau mempunyai mata tetapi tidak melihat. Dalam pengertian yang lebih dalam, : dia tidak mau peduli, atau sengaja tidak mau peduli sama sekali, dan dia beribadah tetapi tidak mau melakukan firman Allah. Hatinya sudah tertutup kepada hal-hal kebajikan dalam penglihatan Allah. Hatinya hanya terbuka kepada hal yang bersifat duniawi, dan dia hanya menyukai tingkah laku kedengkian, caci maki kesombongan dan tinggi hati, munafik, hanya memikirkan egonya sendiri. Dia diibaratkan, dan atau sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Disebutkan, kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan menjadi rusak yang sangat berat.

Setiap anak, keluarga, usaha yang dibangun atas dasar ini akan mudah sekali hancur. Demikian juga kerohanian manusia akan bersifat dangkal, jika tidak dibangun diatas iman yang kuat. Sehingga dari manusia seperti ini kita akan melihat karakter “bermain-main” dalam beragama, mudah goyah atas kuasa duniawi, tidak bertanggung jawab, munafik, mudah dilanda kekhawatiran dll. Orang demikian akan menjadi lelah dalam hidupnya dan segala yang dibangunnya akan mudah hancur berantakan.

II.     PENUTUP

Jemaat terkasih, kehidupan ini singkat tetapi harus dibangun untuk jangka panjang. Untuk itu perlu dasar yang teguh yaitu Firman Tuhan. Membangun kehidupan diatas materi, kesenangan semata, dan kebijakan manusiawi adalah suatu kebodohan. Orang yang membangun kehidupan dirinya, kehidupan rohaninya, kehidupan keluarganya di dasar yang lemah maka ketika akan ada tantangan/badai akan perpuruk dan hancur. Oleh karena itu, Allah senantiasa mengharapkan kiranya orang Kristen beriman dapat menjauhkan dirinya dari kebodohan itu, agar ianya akan dapat terhindar dari malapetaka yang mematikan itu. Karena itu mari membangun kehidupan ini didasar Firman Tuhan dan Takut akan Tuhan, mari membesarkan anak-anak, membangun rumah tangga, membangun usaha/karir, melayani di Gereja dengan dasar yang kuat. Sehingga tahan atas segala tantangan, mampu bertahan atas segala perpecahan dan kuat menghadapi keberhasilan atau kegagalan, suka atau duka didalam kehidupan ini. Amin.

 

EPISTEL MINGGU IX SETELAH TRINITATIS TANGGAL 21 AUGUSTUS 2011

NATS : Mazmur 40 : 9 – 12

Beritakanlah perbuatan-perbuatan Allah yang sungguh benar itu

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung).

 

I.   PENGANTAR

Musik dan nyanyian ini sangat berperan penting dalam Ibadah bangsa Israel (1 Tawarikh 15 : 16 – 22; band. Maz. 149 : 1 s/d 150 : 6). Oleh karena itu kitab Mazmur sangat berguna sekali, sebagai bagian peribadatan bangsa Israel yang fungsinya merupakan nyanyian untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Judul Ibrani untuk kitab Mazmur ini adalah “Tehillim” yang artinya : puji-pujian. Di dalam Septuaginta judulnya ialah “Psalmoi”, yang artinya : Nyanyian yang diiringi oleh musik gesek dan atau petik. Perlu kita ketahui, bahwa sebagian besar dari Kitab Mazmur ini dituliskan pada abad ke-10 Seb. M, semasa zaman keemasan puisi dari bangsa Israel.

Tujuan dari Kitab Mazmur ini ialah : sebagai suatu doa dan ucapan syukur serta pujian yang disampaikan kepada Allah, untuk mengungkapkan perasaan hati yang terdalam dari bangsa Israel di dalam persekutuannya melalui ibadah yang mereka laksanakan. Mazmur ini adalah ritus doa yang disampaikan bangsa Israel, dan sebagai suatu pertanda kesetiaan mereka terhadap Allah untuk menunjukkan :

  1. Kepercayaan, kasih, penyembahan ucapan syukur, pujian, kesetiaan, kepatuhan, rasa hormat dan kerinduan dalam hubungannya dengan Allah dan sesamanya.
  2. Kekecewaan, kesesakan hidup, ketakutan, kekhawatiran, penghiburan dan seruan kepada Allah untuk pembebasan atau penyelamatanNya, kesembuhan dan pembenaran.

 

II. URAIAN NATS & RELEVANSI.

1. Nats ini adalah hal yang berkaitan dengan (butir 1) tersebut di atas. Nats ini adalah doa dan ucapan syukur dari Pemazmur, yang berisikan pengakuan dan komitmen Pemazmur atas seluruh berkat yang diterimanya dari Allah, yaitu :

a. Aku suka melakukan kehendakMu, ya Allahku.

b. TauratMu ada dalam dadaku

c. Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar

d. KesetiaanMu dan keselamatan dari padaMu kubicarakan

e. KasihMu dan kebenaranMu tidak kudiamkan kepada Jemaah yang besar

f. Pada ayat 12, Pemazmur juga bermohon kepada Allah kiranya Tuhan janganlah menahan rahmat, kasih dan kebenaranNya, kiranya tetap menjaga dirinya dari segala bentuk malapetaka yang sewaktu-waktu datang dan mengepung dirinya.

 

Bertitik tolak dari pemaparan tersebut di atas, kita jelas melihat adanya komunikasi timbal balik antara Pemazmur dengan Allah, dan sebaliknya. Penyertaan Allah terhadap diri Pemazmur adalah dampak dari kesetiaannya terhadap Allah dengan segenap hati. Pemazmur sungguh menyadari akan perbuatan-perbuatan Allah yang besar dalam hidupnya, sehingga dia berjanji di hadapan Allah, bahwa dia akan tetap membuat Taurat Allah dalam dadanya dan akan senantiasa melakukan kehendak Allah. Pemazmur juga menyadari, bahwa kehidupannya adalah bersumber dari pemberian Allah, oleh karena itu dia tidak akan pernah untuk meninggalkan dan melupakan Allah dan akan tetap melayaniNya, dengan melalui bibirnya sendiri akan setia memberitakan seluruh perbuatan Allah yang besar itu bagi dan untuk Allah.

Jemaat Kristus, ketika pemazmur berbicara tentang berkat bukan berarti pemazmur berbicara bahwa hidupnya selama ini tidak ada tantangan dan hidup di depannya tidak ada masalah dan tekanan. Tetapi ketika berbicara tentang berkat ini pemazmur ingin menjelaskan bahwa ditengah tantangan, masalah dan pergumulan yang berat sekalipun, Allah tidak pernah bergoyang dan kasih setiaNya tetap memberkati orang yang berharap kepadaNya. Dimana tantangan semakin besar maka disitu akan terjadi penuaian besar-besaran. Di tengah tantangan dan tekanan, justru Allah tempatkan kita untuk menjadi kesaksian yang besar bagi dunia ini, oleh karena itu jangan lemah sebab orang yang berharap kepada Tuhan akan ditopang. Ini harus kita teladani di HKI Resort Bandar Lampung terutama dalam pembangunan Bait Allah. Ingat peristiwa Daniel, ketika muncul larangan berdoa/menyembah Allah, Daniel tetap berdoa seperti yang biasa diakukannya dan Alkitab berkata bahwa pada saat dia dibuang ke lubang singa, justru menjadi sebuah kesaksian. Ia selamat karena Allah memberkati dia. Kita punya Allah yang hidup. Allah kita bukan hanya Allah yang bertahta di Surga tetapi Allah kita adalah Allah yang hidup dan Maha Hadir. Kita tidak perlu takut dan khawatir. Diharapkan bagi bagi kita, kiranya dapat mengikuti pola hidup dari Pemazmur ini agar tetap memelihara hubungannya kepada Allah ditengah kekhawatiran, ketakutan dan masalah besar yang akan melanda.

1. Kita harus hidup di jalan kebenaran. Banyak orang berjalan di jalan kesenangan tetapi yang Tuhan inginkan kita harus berjalan di jalan kebenaran. Jalan kesenangan belum tentu benar, tetapi sebaliknya apa yang kita anggap jalan kebenaran itu juga belum tentu menyenangkan. Kadangkala berjalan di jalan kebenaran harus menghadapi tantangan yang besar. Termasuk ketika kita “tidak menyembunyikan keadilan didalam hati, tetapi menegakkannya (bnk ay.11). Banyak orang tahu kebenaran dan keadilan baik di Kantor, Keluarga, dll, akan tetapi takut untuk menegakkannya karena takut akan efek yang diakibatkan. Mengabarkan dan melakukan keadilan dan kebenaran Allah, memang bisa saja tidak selalu menyenangkan dan mengalami kendala. Kalau kita pelajari tokoh Alkitab, Saulus, seorang yang berjalan di jalan kesenangan karena dia menyakiti dan membunuh orang-orang yang percaya kepada Kristus. Dan justru di jalan itu dia didukung penuh oleh pemerintah dan penguasa pada waktu itu. Tetapi ketika dia pindah dari jalan kesenangan ke jalan kebenaran justru dia harus menghadapi lebih banyak tantangan. Dia mengalami karam kapal, dicambuk, menghadapi situasi yang sukar, menghadapi bayang maut sepanjang hari, dipenjara tetapi dia berani berkata aku kenal kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan segala sesuatunya yang sudah dipercayakan kepadaku. Jalan kebenaran tidak selalu menyenangkan tetapi di jalan kebenaran kita dapat bersyukur kepada Allah karena kebenaran itulah yang akan memerdekakan hidup kita.

2. Alasan Allah memberkati kita bukan supaya kita menjadi sombong, tetapi supaya jalanNya dikenal di bumi (bnk. Mat.28:16-20). Berkat Allah bagi kita pasti jika kita berjalan dalam tuntunan Allah (ayat 4 & 5). Di taman Getsemani, Yesus mengajarkan pelajaran yang sangat luar biasa, Yesus berdoa dan berkata “Bapa biar bukan kehendakKu yang jadi melainkan kehendakMu-lah yang terjadi”. Disini Yesus mengajarkan agar kita berjalan dalam tuntunan Allah. Orang-orang yang berjalan dalam tuntunan Allah pasti akan melihat Firman Allah digenapi dalam hidupnya.  Jika Saudara belum melihat dan mengalami berkat dan mujizat Allah, periksalah jalanmu, jangan-jangan engkau sedang tidak berjalan dalam tuntunan Allah. Sebab saya percaya janji Allah itu Ya dan Amin. Jangan marah kepada Tuhan karena Tuhan tidak pernah berbuat salah, tetapi kalau Saudara berjalan dalam tuntunan Tuhan maka Saudara akan melihat pertolonganNya.

Berjalan dalam tuntunan Tuhan berarti kita berani menundukkan diri. Persoalan banyak orang bukannya menundukkan diri tetapi “menandukkan” diri!  Dunia ini penuh dengan orang-orang yang egois dan emosional, yang mau menang sendiri dan keras kepala. Banyak rumah tangga yang sudah tidak bisa bicara baik lagi, penuh dengan kata-kata keras dan emosional. Dunia ini membutuhkan orang-orang Kristen yang mau belajar menundukkan diri, yang mau belajar maksud Tuhan sekalipun dalam masa sukar dan tidak bersungut-sungut.  Kalau kita mau menundukkan diri dalam segala perkara maka Allah-lah yang akan mengangkat kita dan memuliakan namaNya dalam hidup kita. Orang yang belajar menundukkan diri hatinya tidak mudah panas, tidak mudah kecewa dan tidak mudah memberontak. Kalau kita pelajari tentang Musa, Alkitab mengatakan tidak ada seorangpun di muka bumi yang hatinya lembut seperti Musa. Ketika Allah menghukum saudaranya, Harun dan Miriam, dialah yang datang dan berdoa kepada Allah memohon pengampunan untuk mereka dan Alkitab berkata maka kemudian Allah memberkati Musa. Ini mengajarkan kepada kita, bahwa orang-orang yang berjalan dalam tuntunan Allah hatinya selalu dapat bersyukur dan bersukacita dalam segala perkara,  tidak perlu bersungut-sungut karena dia percaya Allah tidak akan memberikan batu kepada anak-anakNya yang meminta roti, bahkan seutas rambutpun tidak akan jatuh tanpa seijin Allah.

 

PENUTUP

Tuhan menginginkan agar kita menjadi DutaNya mewartakan kebenaran Injil dan keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus, sehingga semua orang dapat diselamatkan. Akan tetapi banyak diantara kita dengan berbagai alasan menolak panggilan ini. Pemazmur ingin kita dengan mengingat kasih dan kesetiaan Allah mau bangkit melaksanakan amanah Tuhan. Ini adalah ajakan buat kita. Bersama Tuhan kita juga akan merasakan bahwa Berkat Allah untuk kita tidak tergantung pada situasi dan kondisi yang ada.  Ini sudah terbukti di banyak peristiwa yang sudah kita alami sebagai orang percaya, di tahun-tahun yang lalu, gejolak muncul dimana-mana termasuk krisis ekonomi, tetapi Allah sendiri yang mencukupkan segala kebutuhan kita sehingga kita bisa bertahan saat ini. Untuk itu jangan pernah mengandalkan kekuatan sendiri yang membuat kita semakin goyah, melainkan andalkanlah rahmat Tuhan dan tetap berjalan dalam jalan kebenaran. Amin.

 

KHOTBAH MINGGU X SETELAH TRINITATIS TANGGAL 28 AUGUSTUS 2011

NATS EVANGELIUM: Yohannes 2 : 13-22

“Sebab RumahKu Akan Disebut Rumah Doa Bagi Segala Bangsa”

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung).

 

I.   PENGANTAR

DIDALAM ALKITAB, KETIKA KAPAN TERTULIS TUHAN YESUS MARAH?, Berikut diantaranya:

Yesus marah karena Petrus hanya memikirkan hal-hal duniawi/manusiawi (Mat. 16:21-23).

Yesus berbicara tentang rencana sempurna Allah yang kadangkala berbicara tentang airmata dan tantangan. Namun, kadangkala ada banyak dari kita menolak tantangan. Masalah itu kadangkala adalah ujian dari Tuhan supaya kita lebih maju. Fokus Yesus adalah bagaimana kita maju, tetapi fokus kita kadangkala bagaimana supaya enak. Inilah yg membuat Tuhan Yesus marah pada Petrus.

 

Yesus marah ketika melihat kemunafikan (Mat. 23:27-28).

Petrus mengkhianati Yesus ketika ditanya orang ”kamu pasti muridNya” dan Petrus menjawab ”aku tidak mengenal Dia”. Tetapi Yesus tidak marah karena penyangkalan Petrus tersebut. Tetapi Yesus marah kepada orang Farisi karena munafik. Kalau kita mau melihat hidup menjadi tahun berkat, kita harus bertobat, minta Tuhan menjamah kehidupan kita dan jangan munafik. Pelayanan adalah tempat untuk disempurnakan. Karena di dalam pelayanan kita harus hidup suci dan kudus di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, ujilah hati dan kehidupan kita, apakah kita sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan atau tidak jangan bersandiwara, tidak ada yg bisa ditutupi dari Allah.

 

Yesus marah ketika kita menjadi penghalang dari pekabaran Injil (Mark. 10:13-16).

Walaupun untuk anak-anak sekalipun, kita tidak boleh menghalang-halangi mereka untuk mengenal Tuhan. Inilah yang membuat Tuhan Yesus marah kepada murid-muridNya yang mencoba menghalangi anak-anak datang padaNya. Injil adalah hak semua orang termasuk anak-anak. Saat ini banyak cara yang tidak disadari orang tua menghalangi anaknya bertemu dengan Tuhan, misalnya ketidak teladanan, program Gereja yang tidak peka terhadap kebutuhan anak dan remaja/pemuda, dll. Jangan sampai Tuhan Yesus kemudian kembali marah kepada kita para pelayanNya dengan salah mengelola Gereja dan menghalangi orang lain dalam bertemu dengan Tuhan.

 

Yesus marah ketika umat menyalahgunakan bait Suci (Mat. 21:13, Yoh 2 : 13-22).

Roh jaman yang materialistis membuat Yesus sangat marah di Bait Suci sebagai pemilik Rumah Suci karena banyak orang telah kehilangan makna ibadah yang sesungguhnya. Yesus bertindak sendiri untuk menyucikan bait Allah yang sudah rusak dan yang sudah hancur.

Berikut ini kita akan membahas Nats dimana Tuhan Yesus masuk ke Bait Suci dan membalikkan meja-meja para pedagang yang ada disana. Apa penyebabnya dan apa makna dan tujuan dari kejadian ini, kita akan bahas.

 

PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

1. Bila kita membaca Perikop ini secara keseluruhan, saya percaya ketika hal ini terjadi, tentu peristiwa ini sangat mengejutkan bagi murid-muridNYA. Karena, mereka tahu betul Yesus adalah pribadi yg lembut, Yesus adalah pribadi yg baik, Yesus adalah pribadi yg menolong dan memberkati banyak orang. Orang buta disembuhkannya, orang lumpuh disuruhnya berjalan, Ibu yg anaknya mati di pintu kota Naim dibangkitkannya, orang-orang yg lapar diberinya makan. Tetapi suatu hari, Yesus naik ke Yerusalem pada waktu menjelang Paskah, Yesus mendapati bait Suci dipenuhi oleh pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Tiba-tiba terjadi peristiwa yang tidak seperti biasanya. Yesus yang biasanya Yesus masuk bait Allah untuk mengajar dan berdoa, kini justru membuat cambuk dari tali dan membalikkan meja-meja yang dipakai para pedagang dan membuang semua uang yang ada diatasnya serta mengusir para pedagang. Tuhan Yesus marah, dan berkata,”Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”. (bnk: Matius 21:12-13 : “Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”). Saudaraku yg kekasih dalam Tuhan, saya bisa bayangkan apa yg ada di dalam pikiran murid-murid pada waktu itu. Murid-murid mungkin terkejut dan berkata, satu sama lain dan berkata,”Ada apa-ada apa?”  Kenapa Yesus begitu marah. Tetapi dari sini kita bisa melihat intinya bahwa Tuhan Yesus melakukan itu semua agar bait Allah kembali disucikan, kalau tidak bait Allah akan kehilangan arti yg sebenarnya. Untuk apa bait Allah itu ada? Jawabnya untuk menjadi Rumah Doa dan rumah kesembuhan bagi umat, bukan tempat berjualan dan mencari keuntungan materil.

2. Jemaat terkasih, Gereja/Bait Allah adalah tempat di mana Allah ada. Gereja tempat beribadah, bukan tempat berjual beli/ajang transaksi mencari keuntungan materi. Adalah sangat penting mencari harta yang akan menyenangkan hati dan mencukupkan kebutuhan kita dan keluarga akan tetapi janganlah kita lupa untuk baribadah di bait Suci. Persekutuan dengan Tuhan akan membawa kita kepada hati yang baru, pikiran yang tunduk kepada Tuhan. Ketika Tuhan Yesus mengusir para pedagang, bukan berarti Tuhan Yesus anti aktifitas ekonomi. Setiap umat Tuhan wajib bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya (termasuk berdagang), akan tetapi tempatnya bukan di Bait Allah dan aktifitas ekonomi mempunyai waktunya sendiri. Ada waktu beribadah dan ada waktu bekerja. Memenuhi kebutuhan hidup duniawi jangan berada diatas kebutuhan untuk beribadah. Dan hendaklah dalam mencari rejeki juga dipahami adalah bagian dari ibadah sehingga kita mencari dalam takut akan Tuhan.

3. Tubuh kita juga merupakan bait Allah. Artinya tubuh kita harus digerakkan dan diarahkan sebagai bentuk ibadah kita kepada Tuhan. Semua perbuatan kita adalah dalam rangka melakukan kehendakNya. Untuk apa Bait Allah dibangun? Yesus berkata,”Rumahku ini harus disebut Rumah Doa, dan tidak boleh dijadikan sarang penyamun”. Untuk apa tubuh kita ini? Kita telah ditebus oleh darah Yesus. Seringkali tubuh kita ini hanya dipakai untuk kepentingan diri kita sendiri, tubuh kita hanya dipakai untuk kesenangan dosa, sehingga jatuh dalam berbagai cobaan. Jangan sampai terjadi, banyak orang yg mengaku mengasihi Tuhan, tetapi kehilangan arti beriman. Seperti mengasihi Tuhan sejauh Tuhan menyembuhkan fisiknya, sejauh Tuhan masih memberkati dia, sejauh Tuhan masih mendengar doanya. Tetapi, saat dia menghadapi badai dan masa-masa yg sukar ia menyangkal Tuhan. Tetapi bila ia memiliki hidup untuk menyenangkan hati Tuhan, dan dirinya telah menjadi rumah doa, maka meskipun cobaan dan tantangan datang, ia akan tegar menghadapinya.

4. Namun ada yg jengkel ketika Tuhan mengadakan penyucian Bait Suci. Pada ayat 18 dikatakan : orang-orang Yahudi menentang Yesus, katanya tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian”. Walaupun sudah kedapatan berbuat salah mempergunakan Bait Suci, akan tetapi kebebalan hati orang Yahudi membuat mereka memperdebatkan perbuatan Tuhan Yesus. Sering sekali perbuatan salah membuat seseorang membela diri dan akhirnya menyerang Pihak yang menegur dan mendapati kesalahan kita. Kita mempertanyakan otoritas orang yang menegur kita dan mengabaikan substansi kesalah kita. Ini bisa kita relevansikan saat ini bahwa Pelayanan memang tidak mudah, banyak karya pelayanan baik dari jemaat dan parhalado sering dianggap miring dan dicerca oknum lain, karena itu bersabarlah dan tetap berkiblat pada teladan Yesus. Jangan urung menegur orang lain yang salah karena itu tugas kita sebagai bagian dari suara kenabian kita.

5. Menjawab pertanyaaan orang Yahudi, Tuhan Yesus berkata : “…Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”. Mendengar perkataan ini orang Yahudi berkata “… Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?”. Orang Yahudi memang tidak memahami dan mengimani bahwa yang dimaksud Tuhan Yesus adalah bukan dalam bentuk fisik, akan tetapi tentang tubuhNya sendiri. Bahwa Tuhan Yesus akan mati disalibkan dan pada hari yang ketika akan bangkit kembali dan naik ke surga. Tuhan Yesus adalah Bait Allah yang dimaksud sebagai bukti kebangkitan dan kemenangan manusia dari maut dan dosa. Sedangkan bagi murid-murid Tuhan Yesus, mereka mengingat bahwa hal itu telah pernah dikatakan Tuhan Yesus kepada mereka, dan mereka mempercayai apa yang diucapkan Tuhan Yesus dan yang di sampaikan Kitab Suci. Ayat 22 mengatakan bahwa tindakan clan kata-kata Yesus tidak dapat dipahami oleh orang Yahudi selama la hidup. Tetapi semua itu hanya dapat dimengerti melalui sinar kebangkitan Yesus.Dari sini kita relevansikan bahwa orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yesus akan sulit memahami makna Injil dan keselamatan yang dihadirkan Tuhan Yesus. Mereka masih mengandalkan cara berpikir manusia yang sangat terbatas dan akhirnya sulit memahami. Bandingkan bagaimana banyak orang dari agama lain tidak dapat memahami bahwa Yesus adalah Anak Allah, tidak memahami kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah cara Allah menyelamatkan manusia, dll.

 

PENUTUP

Diakhir Nats kita Minggu ini, dipaparkan bahwa selama masa paskah di Yerusalem, banyak orang percaya akan apa yang Tuhan Yesus ajarkan karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakanNya (23). Akan tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diriNya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua. Manusia bisa saja berubah-ubah, percaya hari ini, tetapi kemudian menyangkal kemudian hari. Bandingkan keadaan kemudian hari dimana ketika hari raya pondok daun Tuhan Yesus memasuki Yerusalem dan orang banyak menyambutnya dan memujanya, tetapi tidak lama kemudian orang banyak jugalah yang menyerukan agar Tuhan Yesus di salibkan. Itulah hati manusia. Dan untuk hal ini di ayat 25 dikatakan “dan karena tidak perlu seorangpun memberikan kesaksian kepadaNya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.

Allah adalah Maha Tahu, Dia tahu karakter asli kita sehingga tidak ada yang bisa di sembunyikan dalam hidup kita. Untuk itu, mari jaga kemurnian iman kita didalam hidup, tetaplah berintegritas didalam Kristus, maka Dialah yang akan terus mensucikan dan memberkati hidup kita.

 

 

EPISTEL MINGGU 28 AGUSTUS 2011

NATS : ROMA 11 : 25-32

TOPIK MINGGU : MEMELIHARA KEKUDUSAN BAIT ALLAH (MANGARAMOTI HABADIAON NI JORO NI DEBATA) JOHANES 2:21

 

I. PENGANTAR

Nats kita ini diawali sapaan sebagai saudara-saudara, Paulus sebagai penulis ingin semakin ada kedekatan antara dia dan jemaat di Roma yang telah dipersatukan oleh kasih Kristus. Bahwa di dalam Kristus, walaupun dibedakan oleh kewarganegaraan, jarak dan latar belakang, kita adalah saudara. Sebagai saudara, tugas kita untuk saling mengingatkan, memperhatikan dan saling menopang, untuk itulah Paulus walaupun berada didalam Penjara, dia masih memberikan waktunya untuk melayani Jemaat-Jemaat Tuhan dan mengajar mereka. Dari sikap Paulus ini bisa kita relevansikan bahwa setiap orang yang berbeda-beda suku, marga, kewarganegaraan, dapat dipersatukan dalam Kristus. Sayang sekali jika ada keluarga, sedarah, semarga, satu Gereja, satu Agama, satu Bangsa, yang kemudian justru mengalami perpecahan dan pertengkaran yang hebat. Karena itu Surat Paulus dari dalam Penjara ini adalah Khotbah yang hidup bagi kita untuk membina kesehatian dan persaudaraan di dalam Kristus. Sebesar apapun tantangan, perbedaan dalam hidup kita, tetaplah berada didalam kasih Kristus. Jika semua hidup dalam kasih persaudaraan dalam Kristus maka beban berat sekalipun akan bisa diatasi dalam saling topang menopang dan menguatkan dan Kristus pasti akan memberikan berkatNya (bnk Roma 8 : 28-29).

 

II. PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

Diawal Nats Paulus mengatakan “Sebab saudara-saudara supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini : Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk, dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan”.

Mengapa Paulus mengatakan supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai? Apa yang salah dari kepandaian? Ternyata bukan kepandaian itu yang salah, tetapi jika Jemaat “menganggap dirinya pandai”. Jika ada orang menganggap dirinya pandai berarti ditengah keterbatasannya dalam hal memahami segala sesuatu, kemudian dia mengandalkan keterbatasannya itu dalam memahami ketidak terbatasan Allah maka akhirnya akan ada kesalahan memahami. Yang dihindari Paulus adalah ketika kepandaian diandalkan memahami Kemahakuasaan Allah maka maknanya akan terdegradasi. Memahami kemahakuasaan Allah harus mengandalkan iman bukan pikiran.

Tuhan tidak memilih kepandaian atau kehebatan untuk dapat memakai kita sebagai alat-Nya. Tuhan juga tidak melihat berdasarkan banyaknya jumlah orang yang menyertai kita tetapi Tuhan menginginkan orang yang konsisten, tidak mudah menyerah dan tidak gampang patah semangat walau apapun yang terjadi.

Kemudian di ayat 16 dikatakan : “Dengan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis, “Dari Sion akan datang Penebus…”. Ayat ini menghunjuk kepada kehadiran Tuhan Yesus. Yang telah menebus dosa manusia dan menyingkirkan kefasikan daripada Yakub. Ini adalah bagian dari perjanjian Allah dengan Bapa Leluhur Israel. Seperti yang dipaparkan 28 “…mengenai Injil mereka seteru Allah…” karena perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, walaupun demikian bangsa Israel adalah kekasih Allah yang selalu konsisten dengan perjanjianNya dengan nenek moyang Israel. Allah adalah maha Kasih yang mau menebus dosa manusia dan memberkati kehidupan semua orang yang mau datang kepadaNya, dan Allah tidak pernah menyesali kasih karuniaNya (bnk. Ayat 29). Allah mengasihi tanpa pamrih. Dan kasih Allah itu tidak terbatas bagi orang Israel saja, melainkan kepada semua bangsa termasuk Jemaat di bangsa Roma. Walaupun dahulu Jemaat tidak taat dan tidak berada dalam kasih Allah tetapi Allah tetap memberikan pintu pengampunan dan berkatNya kepada Jemaat di Roma. Jadi seberapa buruk masa lalu seseorang, didalam Allah masa depannya “masih suci” dan terbuka untuk perubahan.

Pada ayat 32 dikatakan: “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidak taatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua”. Ayat ini artinya bahwa terkadang cara Allah untuk membimbing manusia diluar perhitungan. Ketika manusia hidup hanya menurut keinginan dagingnya, tidak taat kepada Allah, justru Allah mengurung, membiarkan ketidaktaatan itu terjadi. Tetapi ini bukan pembiaran, ketika manusia berada dalam ketidaktaatannya, Allah menunjukkan kemurahanNya. Manusia yang seharusnya di hukum, justru Allah menegur dalam kemurahanNya. Pintu maaf dan berkatNya tetap terbuka lebar menunggu pertobatan umatNya. Bandingkan dalam kehidupan sehari-hari, jika dalam pemerintahan, orang yg tidak taat, melanggar hukum akan di adili dan menerima hukuman, maka didalam Kerajaan Allah, hal ini tidak berlaku, Allah dengan bebas dapat menggunakan kasihNya untuk tetap mengasihi manusia. Karena itulah di ayat 33 dikatakan :” O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya”.

Jemaat terkasih, kasih Allah juga ada bagi kita di HKI Resort Bandar Lampung. Walaupun sering sekali kedagingan kita membuat kita jatuh kedalam dosa dan terkadang kita punya begitu banyak perhitungan untuk mendekat kepada Tuhan, tetapi Allah tidak pernah menyesali KasihNya. Ia masih memberkati kita. Tidaklah cukup hanya memiliki iman dan mengasihi Tuhan tetapi Tuhan merindukan agar setiap anak-anakNya mengalami pertumbuhan rohani yang sehat dengan menjalani panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Setiap orang memiliki panggilan untuk melayani Tuhan, jadi bukan hanya tugas Pendeta, penetua atau tenaga fulltimer gereja saja serta menjadi duta-duta kasih Allah, tugas kita semua adalah sebagai Duta Allah mewartakan keselamatan melalui doa, perbuatan dan kata kepada orang-orang disekitar kita dan bagi semua orang yang membutuhkan. Ingatlah, Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman (2 Timothius 1:9).

 

III.  PENUTUP

Tidak banyak dari kita mau meresponi panggilan Allah dalam hidupnya. Sebuah pepatah cina klasik berbunyi: jien li she ie ik puu : artikan perjalanan seribu mil dimulai dengan langlah pertama. Pesan moral dari kata kata mutiara pendek ini adalah tindakan. Memang benar tindakan adalah kekuatan ! Action is power! Jika kita ingin bertobat, jangan ditunda, mulai langkah pertama diiringi langkah berikutnya didalam Tuhan Yesus. Demikian juga jika kita mungkin punya sebongkah impian indah, segudang rencana, setumpuk ide cemerlang yang baik, tetapi semua itu  tidak akan menghasilkan apapun, jika kita tidak berani memulai dengan langkah pertama. Hal ini mengingatkan saya pada ciri2 manusia yang menurut saya ada 4 type terkait tentang teori dan praktek.

 

Tipe pertama , yaitu orang yang tidak punya teori sekaligus tidak praktek, Orang seperti ini tidak memiliki semangat dan tidak mau belajar. Kehidupannya tanpa tujuan, tanpa gairah.hidup hanya dijalani ala kadarnya, Inilah pilihan orang–orang gagal. Mungkin tipe ini menjadi bagian terbesar dari sebuah masyarakat yang tertinggal.

 

Tipe kedua,  orang yang punya teori tetapi tidak praktek. Inilah tipe orang yang senang mengumpulkan serta menyerap berbagai macam teori, namun  Sayang, segudang teori yang dimilikinya, tidak mampu dipraktekan  dengan tindakan  nyata.  Jadi, yang ada hanya teori kosong alias nato, not action theori only.

 

Tipe ketiga ,Yaitu orang yang tidak punya teori  tetapi mampu praktek.mampu menjalankan  seperti yang diteorikan orang lain, Inilah tipe orang yang berorientasi pada tindakan, mau belajar dari pengalaman, teori, maupun kebijaksanaan orang lain, tipe orang ketiga ini mungkin pada awal melangkah akan mengalami berbagai macam gangguan, kesulitan, bahkan kegagalan, namun dia menyadari semua itu harus dihadapi sebagai pembelajaran dan pematangan mental, Di sinilah letak para otodidak sejati yang belajar melalui keberanian tindakan.

 

Tipe keempat,  orang yang punya teori sekaligus mampu memprakteknya. sudah pasti tipe ini adalah orang yang mantap dan matang mentalnya, karena tertempa oleh banyaknya problem kehidupan yang mampu dikendalikan dan diatasi, Inilah tipe orang sukses yang paling ideal. Tipe orang yang optimis, punya visi, sekaligus berani melangkah.

 

Ingin menjadi type yang manakah anda? semua pilihan tergantung ditangan anda. Life is not theory, life is action ! hidup bukanlah teori, hidup adalah aksi! Tindakan adalah kekuatan !!! Sekali lagi jien li she ie ie puu. Seribu langkah dimulai dengan langkah pertama untuk merespon Penebus yaitu Tuhan Yesus Kristus. Mari memulai dan melanjutkannya dalam doa pada Kristus Yesus. Amin.

 

BAHAN SERMON JULI 2011

KHOTBAH MINGGU III SETELAH TRINITATIS

TANGGAL 10 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Lukas 15: 11-32

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

Topik Minggu : Mangasahon Johowa, marolopolop do angka na unjur marroha (Psalmen 33:1) – Karena Tuhan, orang-orang jujur bersorak-sorai dan menyanyi-nyanyi.

 

I.    Pendahuluan

Injil Lukas ditulis oleh Lukas, seorang tabib/dokter, berpendidikan dan menjadi kawan seperjalanan Rasul Paulus (Kis 16:10-17; 20:5; 21:18; 27:1-28:16). Dari permulaan sampai akhir Lukas memusatkan perhatian kepada Yesus, yang datang “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 9:10). Injil menurut Lukas ini adalah proklamasi dari Yesus Kristus sebagai Anak Allah, yang mempunyai kekuatan dan kuasa untuk menyelamatkan orang berdosa. Penyataan diri Yesus sebagai Juruselamat dan Anak Allah yang Mahakuasa merupakan tema pokok Injil Lukas.Ciri khas/kesitimewaan Injil ini a.l: Lukas memberi tempat yang penting bagi perumpamaan-perumpamaan Yesus, yang di dalamnya kasih Allah yang menebus dijelaskan. Salah satunya adalah perumpamaan tentang anak yang hilang yang menjadi perikop khotbah minggu ini.

Perumpamaan tentang “anak yang hilang”, walaupun inti ceritanya mempunyai kesamaan dengan kedua perumpamaan sebelumnya, yaitu tentang domba yang hilang (Luk. 15:1-7) dan uang yang hilang (Luk 15 :8-10), dapat juga dilihat adanya perbedaan yang nyata, antara lain:Domba yang sesat dan uang yang hilang dicari oleh pemiliknya sampai dapat, dan sesudah menemukannya pemiliknya mengajak tetangga-tetangganya bergembira bersama dia. Dalam cerita ini “anak yang hilang” tidak dicari, tetapi kembali ke rumah bapanya atas kesadarannya sendiri. Sembilan puluh Sembilan ekor domba, demikian juga Sembilan uang logam yang tidak hilang; tidak terpengaruh oleh domba atau uang logam yang ditemukan. Tetapi dalam cerita ini ketika “anak yang hilang” kembali, anak sulung yang tinggal bersama bapanya marah (15:28). Jadi, selain kegembiraan atas kembalinya si anak hilang, kemarahan anak sulung juga menjadi bagian penting dalam cerita ini.

 

II.  Penjelasan

Harta warisan sewajarnya diperoleh ahli waris jika yang mewariskannya sudah meninggal. Adalah tidak lazim jika seorang anak menuntut harta warisan yang menjadi bagiannya kepada orangtuanya yang masih hidup, seperti yang dilakukan oleh anak bungsu dari dua orang bersaudara dalam cerita ini. Hal ini boleh diartikan, dengan menuntut harta yang menjadi bagiannya dalam warisan orangtua, si anak bungsu sudah tidak menghormati orangtuanya atau bahkan telah menganggapnya mati. Dengan berat hati si bapak terpaksa membagi-bagikan hartanya. Dalam hal ini, orangtua tersebut juga harus bertindak adil; bahwa jika bagian si anak bungsu sudah diberi maka demikian juga halnya dengan si anak sulung.

Tentu sekali bahwa orangtua berharap anak-anaknya dapat hidup lebih baik dengan harta warisan yang sudah dibagikannya. Yang terjadi adalah si anak bungsu menjual harta bagiannya lalu pergi meninggalkan rumah orangtuanya. Dan diceritakan selanjutnya si anak bungsu hidup boros dan berfoya-foya. Boros dalam arti menghambur-hamburkan, menghabiskan atau menyia-nyiakan uangnya. Berfoya-foya dalam arti hidup tanpa berpikir, tidak teratur dan bebas tanpa memikirkan hari esok. Dapat ditebak selanjutnya si anak bungsu jatuh miskin karena uangnya telah habis.

“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula” adalah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan hidup si anak bungsu dalam cerita ini. Uang yang habis tentu menimbulkan persoalan tersendiri baginya, ditambah lagi bencana kelaparan yang parah yang menimpa negeri di mana ia tinggal, maka anak bungsu tersebut hidup melarat. Dalam kekurangan yang dideritanya maka si anak bungsu berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu soal makanan dengan menggantungkan hidupnya kepada seorang penduduk negeri itu dengan bekerja menjaga kawanan ternak babinya di ladang. Begitu laparnya si anak tersebut sehingga ia ingin mengisi perutnya dengan dengan memakan makanan ternak babi yang dijaganya. Hal itu terpaksa ia lakukan karena tidak seorang pun yang mau memberi ia makan. Perlu dijelaskan bahwa makanan babi yang disebut dalam cerita ini dalam bahasa Yunani berarti “kacang polong” yang biasa diberi menjadi makanan ternak, tapi terkadang juga dimakan oleh orang-orang miskin. Dapat dibayangkan, si anak yang terbiasa makan dengan makanan yang enak, kini dia berhadapan dengan makanan babi.

Demikian menderitanya dia, si anak bungsu kemudian tersadar. Ia kembali teringat bagaimana ia hidup dulu sewaktu tinggal di rumah orangtuanya. Dia tahu pasti bahwa orang-orang upahan ayahnya lebih layak dan berlimpah makanan daripada dia dalam kondisi saat itu. Kalimat “Aku akan bangkit”, ini menunjukkan suatu tekad baru untuk mengubah keadaan hidupnya. Meskipun dia sadar betul posisinya adalah anak yang telah berdosa dan tidak layak kembali karena ia sudah menerima bagiannya. Si anak bungsu cukup tahu diri akan keberdosaannya. Namun oleh tekad yang kuat ia memilih pulang ke rumah orangtuanya meskipun nantinya ia mendapat penolakan, paling tidak ia dapat menjadi orang upaan ayahnya, ia rela.

Adalah wajar sekiranya ayahnya tidak berbuat apa-apa atau bersikap biasa saja kepada si anak bungsu, karena ia telah kehilangan haknya di rumah itu dengan menuntut hak warisannya. Namun disebutkan justru si anak bungsu mendapat sambutan yang cukup hangat dari ayahnya. Meski si anak bungsu masih jauh dari rumah, ayahnya yang melihatnya langsung berdiri dan berlari menyongsong, merangkul dan menciumnya. Hal ini berarti bahwa orangtua tersebut juga selalu menunggu-nunggu kedatangan/kepulangan anak bungsunya itu. Rangkulan dan ciuman pada pipi merupakan sambutan yang hangat terhadap orang lain; ketika menyambut tamu atau bertemu keluarga atau sahabat. Kemudian si anak bungsu dipakaikan jubah yang terbaik, juga dikenakan cincin yang melambangkan kuasa atau kedudukan dan sepatu pada kakinya yang mengartikan bahwa si anak bungsu diterima bukan sebagai hamba (sebab hamba tidak memakai sandal/sepatu) tapi sebagai anak, serta baginya disembelih anak lembu tambun sebagai tanda betapa sukacitanya orangtua itu atas kepulangan anak bungsunya; “anak yang telah mati hidup kembali, anak yang hilang di dapat kembali” bagitu orangtua itu memaknainya.

Sementara itu, sejak harta warisan dibagikan dan selama kepergian adiknya bahkan sampai kembalinya, si anak sulung tetap bekerja, setia melaksanakan tugasnya di ladang. Saat itu, sepulang dari ladang belum bagitu jauh dari rumah si anak sulung mendengar suara musik dan keramaian yang berasal dari rumah orangtuanya. Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan, “ada apa gerangan?”. Pertanyaan yang disampaikan kepada salah seorang hamba ayahnya dijawab bahwa “kepulangan adiknyalah” yang menyebabkan suasana ramai di rumah tersebut. Manusiawi sekali ketika si anak sulung marah dan “ngambek” tidak mau masuk ke rumah. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh orangtuanya. Mengapa adiknya yang telah menuntut hak warisnya dan meninggalkan rumah; meninggalkan tugas-tugasnya sebagai anak, ketika ia kembali disambut dengan meriah, sementara ia yang tetap setia tinggal dan melaksanakan tugas-tugasnya tidak pernah diperlkaukan demikian.

Ayah dari kedua anak tersebut dalam cerita ini cukup mengerti dengan kemarahan putera sulungnya. Sebutan “anakku” dalam bahasan Yunani yang dipakai di sini menunjukkan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. “Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu”, kalimat ini hendak mempertegas bahwa semua yang ada saat ini adalah bagian si anak sulung sebab si anak bungsu sudah meminta bagiannya. Dan dengan baik si ayah memberikan pengertian bahwa kembalinya si anak bungsu, yang adalah adiknya sendiri, merupakan suka cita besar. Berpesta dan bergembira adalah hal yang sepantasnya dengan kembalinya “anak yang hilang”.

 

III.   Penutup

Yesus Kristus adalah ahli waris (Mrk 12:7), yang sebagai ahli waris Allah menerima warisan yang diberikan kepada-Nya berdasarkan hubungan-Nya dengan Allah. Yesus telah ditetapkan sebagai ahli waris segala sesuatu (Ibr 1:2). Orang Kristen mewarisi dari Adam kehidupan yang sia-sia yang dikuasai dosa (1 Ptr 1:18). Tapi di dalam Yesus Kristus mewarisi janji-janji Allah yang pertama diberikan kepada bapa-bapa leluhur Israel dan kepada bangsa Israel , dan karena orang Kristen diterima sebagai anak maka ia juga disebut ahli waris (Rm 8:17; Kis 3:25; Ef 1:6). Warisan/bagian pengikut Kristus ini dijamin oleh Roh Kudus (Ef 1:14) dan disimpan di Sorga untuk mereka (1 Ptr 1:4). Tapi berkat-berkat dari warisan ini dapat dinikmati “lebih dahulu” pada saat sekarang ini. Hanya mereka yang suci yang menerima Kerajaan Allah (Mat 25:34; 1 Kor 6:9-10; 15:50; Gal 5:21; Ef 5:5; Yak 2:5). Mereka memperoleh keselamatan (Ibr 1:14), berkat (1 Ptr 3:9), kemuliaan (Rm 8:17-18), tubuh yang tidak dapat binasa (1 Kor 15:50) dan hidup yang kekal (Mat 19:29).

Perumpamaan ini menggambarkan sikap Allah yang menebus. Anak yang hilang adalah analogi dari hidup orang percaya yang mewarisi Kerajaan Sorga tapi tidak mampu meletakkan “warisan” itu dengan baik dan benar. Ketika dunia menjadi orientasi hidup, maka orang percaya akan terjatuh ke dalam banyak persoalan dan kesesakan serta keberdosaan. Orang yang sadar akan keberdosaannya, seperti anak bungsu dalam perumpamaan ini, harus mengembalikan orientasi hidupnya kepada kehidupan sorgawi (Mat 6:33). Kembali ke rumah bapa adalah tekad yang harus dijalankan dengan satu pengharapan bahwa Allah itu baik; Dia tetap setia menunggu kita kembali dan berbalik kepada jalan-Nya (Yes 42:22; Yeh 33:11). Dan bagi orang-orang percaya yang tetap setia kepada Allah; berdirilah teguh, jangan goyah, hendaklah semangatmu menyala-nyala, layanilah Tuhan, sebab segala pekerjaan dalam Tuhan tidak akan sia-sia. Harta sorgawi adalah warisanmu (1 Kor 15:58)! Amin.

 

EPISTEL MINGGU III SETELAH TRINITATIS TANGGAL 10 JULI 2011

NATS : Mazmur 107:1-22

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

“Bersyukurlah Atas Kebaikan dan KAsih Setia Tuhan”

 

I.    Pendahuluan

Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani diberi judul “tehilim” yang berarti “nyanyian-nyanyian pujian” atau “puji-pujian”. Mazmur adalah syair, dan syair yang dimaksudkan adalah untuk dinyanyikan; bukan risalah ajaran atau doktrin. Mazmur mengungkapkan pengalaman-pengalaman keagamaan yang mencerminkan idealisme keagamaan yang saleh dan persekutuan dengan Allah, penyesalan karena dosa, ketaatan kepada Hukum Taurat Allah, penghormatan terhadap Firman Allah, kepercayaan yang teguh kendati kejahatan merajalela dan berjaya, serta ketenangan di tengah-tengah kebalauan. Kitab Mazmur terdiri dari 5 (lima) jilid (pembagian ini bermula pada LXX/Septuaginta, yang telah ada sejak 300 sM), dan nats bacaan/epistle minggu ini terdapat pada jilid ke-5 (Mzm 107-150), yang dikelompokkan kepada “nyanyian-nyanyian ziarah” atau kepada mazmur-mazmur hikmat yang memberikan kesaksian tentang pemeliharaan, kuasa dan pemerintahan Allah dalam sejarah.

 

II.   Penjelasan

Nats bacaan (epistel) minggu ini diawali dengan seruan dari pemazmur: “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”. Seruan ini disampaikan oleh pemazmur kepada orang-orang yang telah ditebus dari kuasa yang menyesakkan dan yang dikumpulkan dari negeri-negeri. Seruan ini menekankan bahwa Allah dalam kebaikan dan kasih setia-Nya bertindak memelihara hidup dan kehidupan mereka dan menjawab segala persoalan hidup, jasmani dan rohani. Dan pemazmur bersaksi bahwa Allah dalam pemeliharaan-Nya selalu berbuat dengan tepat dan benar.

Dalam ayat 4-22 nats bacaan minggu ini, pemazmur menyebutkan bagaimana Allah bertindak melepaskan dan menyelamatkan orang-orang yang mengembara, yang duduk dalam gelap dan kelam serta yang sakit. Orang-orang tersebut dengan persoalannya sendiri-sendiri dijawab oleh Allah dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Pengembara yang tidak menemukan kota/pemukiman, dalam kelietihan karena tidak makan dan minum, Tuhan bertindak dengan mengarahkan jalannya hingga sampai ke kota/pemukiman. Orang-orang yang duduk dalam gelap dan kelam karena pemberontakannya terhadap perintah-perintah Allah sehingga mereka terkurung dalam sengsara dan besi serta mengalami kesusahan, Allah oleh kebaikan dan kasih setia-Nya mengangkat dan membawa mereka keluar dari kesesakan mereka serta membebaskan mereka dengan memutuskan belenggu-belenggu mereka.Orang-orang yang sakit karena keberdosaannya dan tersiksa karena kesalahannya sehingga mengalami kemuakan dan berada di pintu gerbang maut/kematian; bagi mereka Allah bertindak melepaskan mereka dari kecemasan dengan menyematkan kesembuhan dan meluputkan mereka dari maut. Demikian Allah bertindak secara tepat dan benar diimani dan diamini pemazmur dalam pengalaman keagamaannya.

Tindakan Allah oleh kebaikan dan kasih setia-Nya yang memelihara tidak terlepas dari iman orang-orang yang ditebus-Nya. Pemazmur menyebutkan bahwa pemeliharaan Allah itu adalah tindakan Allah yang responsive karena mereka, dalam kesesakannya masing-masing,  berseru-seru kepada Allah. Artinya, pemeliharaan Allah nyata ketika manusia itu hidup dengan berorientasi kepada kebaikan dan kasih setia Allah serta memutlakkan diri (hati, pikiran dan jiwa) tunduk kepada otoritas Allah (Mzm 37:5; 1 Ptr 5:7).

Secara tersirat, pemazmur juga hendak mempertegas agar manusia tidak bersandar kepada dirinya sendiri, sebab ada saat dimana otak dan otot tidak berjaya melepaskan manusia dari persoalan dan kesesakan dalam hidupnya (Ams 3:5). Kata “berseru-seru” menghunjuk kepada perubahan mendasar pola keberimanan orang-orang yang disebutkan oleh pemazmur. Perubahan yang dimaksudkan adalah “pertobatan” mereka dari yang mengandalkan diri sendiri berbalik dan kembali hanya mengandalkan Allah (Yeh 18: 23, 32; 33:11).

Pemeliharaan Allah, oleh pemazmur dalam seruannya disebut sebagai dasar bersyukur. Adalah wajar jika kebaikan dan kasih setia Allah yang telah diterima diikuti oleh perbuatan-perbuatan syukur, yaitu dengan mempersembahkan korban syukur dan menceritakan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib itu. Hal mempersembahkan syukur dan bersaksi atas perbuatan Allah, inilah yang menjadi esensi dari seruan pemazmur pada ayat 1 nats bacaan ini. Bagaimana dengan kita di HKI Resort Bandar Lampung? Apakah kita masih melihat didalam perjalanan hidup kita Allah juga turut campur tangan menyelamatkan dan memberkati kita? Seperti isi Mazmur ini, kita juga adalah para Pengembara yang menemui banyak kesulitan dalam hidup ini. Renungkanlah awal mula perjalanan hidup kita, awal perantauan kita. Mungkin kita sangat memiliki keterbatasan waktu itu, dan kini ingatlah suka duka yang kita lalui dan bagaimana keadaan kita sekarang. Apakah kita masih mengimani bahwa apa yang kita miliki sekarang ini adalah berkat Allah? Karena itu, apakah kita sudah menjadi manusia yang semakin mampu bersyukur kepada Allah?. Nats Epistel ini mengajak kita untuk tetap mengucap syukur kepada Allah, bukan hanya dengan kata, melainkan juga dengan hati dan perbuatan.

 

III.  Penutup

Karya terbesar Allah dalam sejarah umat manusia adalah dengan menganugerahkan Putera-Nya Yesus Kristus untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa yang menyesakkan. Artinya, Yesus Kristus adalah bukti pemeliharaan Allah terhadap hidup kita, yang didorong oleh kebaikan dan kasih setia-Nya (Yoh 3:16). Dan jika kita berdiri dan tegar hingga saat ini, Firman Allah berkata bahwa itu bukanlah karena kekuatan dan kuasa kita melainkan semata-mata hanya oleh karena “cinta” Allah kepada kita. Dan agar senantiasa menerima pemeliharaan Allah, Firman Tuhan menegaskan agar orang-orang percaya tetap setia seperti Allah yang tetap setia dalam kasih dan anugerah-Nya (Why 2:10). Bagi yang menyadari keberdosaannya, Firman Tuhan mengingatkan, “bertobatlah” dan berbalik kembali kepada jalan Allah. Marilah mempersembahkan “korban syukur” dan mau memberitakan (bersaksi) tentang perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib sepanjang hidup kita. Amin

KHOTBAH MINGGU IV SETELAH TRINITATIS TANGGAL 17 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Kejadian 50: 15 – 21

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

“MENGAMPUNI & DIAMPUNI”

 

I.        Pendahuluan

Jika berbicara tentang pengampunan, rasanya tidak bisa dipisahkan dari tokoh yang bernama Yusuf, karena memang ia hidup benar tetapi keadaan hidup yang ia jalani sebelum meraih kesuksesan sungguh sangat memprihatinkan. Ia ditolak dan dijual oleh kakak-kakaknya sendiri, ia difitnah, lalu dipenjara. Semua penderitaan itu ia alami bukan karena ia berbuat jahat tetapi karena perbuatan jahat saudaranya sendiri. Perlakuan yang tidak manusiawi terhadap dirinya itu sudah sepantasnyalah jika membuat Yusuf menjadi dendam, tetapi karena ia hidup benar, ia tidak dendam kepada siapapun termasuk kepada saudara-saudaranya sendiri.

Manusia berencana Tuhanlah yg menentukan. Jika saudara Yusuf sebelumnya menginginkan agar Yusuf semakin sengsara maka yg terjadi adalah sebaliknya. Ditengah-tengah pengalaman pahit yang dialami Yusuf, Allah bertindak, dimana Yusuf dimampukan Allah menerangkan arti mimpi Firaun tentang masa kelimpahan dan masa kelaparan yang bakal terjadi masing-masing selama tujuh tahun. Diberitahukan juga mengenai apa yang hendak dilakukan mengatasi masa kelaparan itu. Dengan berita pemberitahuan itu, Firaun melihat Yusuf seorang yang penuh dengan Roh Allah. Sehingga Firaun bersaksi bahwa tidak ada orang yang demikian berakal budi dan bijak sana seperti Yusuf. Atas dasar itu Firaun melantik Yusuf menjadi seorang penguasa atas istana Kej 41:38-43. Yusuf semakin sukses dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang – bukan hanya keluarga – bangsanya tetapi secara internasional, yaitu melalui kepemimpinannya.

Dari jalan panjang perjalanan hidup Yusuf, kita bisa berefleksi bahwa ditengah pengalaman Pahit, Allah masih tetap menyertai umat yg taat kepadaNya. Tiap jemaat tentu bisa berefleksi, bahwa ditengah pahit manisnya kehidupan, TUHAN dengan caraNya tetap memberikan berkat bagi kita. Dan dari kisah hidup Yusuf inilah, akan kita jumpai pelajaran penting terutama dalam hal pengampunan. Nah, berikut ini adalah sepenggal kisah dari perjalanan hidup Yusuf, ada banyak makna lain yang bisa kita pelajari dalam rangka membangun kerohanian kita melalui karya Roh Kudus. Kita mulai.

 

II.       Pembahasan Nats & Relevansi

  1. Ayat 15 : Karena di Israel teradi kelaparan, maka saudara-saudra Yusuf pergi ke mesir. Mereka menghadap dan sujud di hadapan Yusuf. Kesalahan yg disadari sering membawa kita pada Rasa bersalah dan rasa takut. Dan sering kali ini bisa merusak. Kita menduga-duga segala kemungkinan. Sama seperti saudara-saudara Yusuf. Melihat apa yg telah mereka lakukan yaitu : menjerumuskan Yusuf pada sumur, menjualnya sebagai budak Potifar, membuang Yusuf dari ayah-ibu yg sangat mengasihi dia, mencuri masa remajanya, dll. Maka melihat kenyataan akan keberadaan Yusuf kini, dan keberadaan mereka kini, mereka menduga-duga “boleh jadi Yusuf akan mendendam ……”. Mereka menyadari potensi Yusuf untuk membalas dendam sangat besar. Dari saudara Yusuf ini kita bisa berefleksi bahwa ketika kita berdosa thd orang lain, kita bisa saja terus berprasangka-prasangka yg jahat terhadap ybs, yg dapat membuat hubungan kita atau keadaan semakin buruk. Tapi ingatlah, bagi orang yg takut akan TUHAN, Allah mengendalikan nya untuk rekaan-rekaan yg baik.
  2. Ayat 16. Ketakutan saudara Yusuf ternyata menghasilkan suatu strategi mengantisipasi. Sehingga mereka menyuruh orang untuk menyampaikan pesan “rekayasa” agar Yusuf mengampuni saudara-saudaranya. Satu hal yg menarik disini adalah bahwa Saudara Yusuf mengetahui bahwa Yusuf menghormati ayah mereka. Mereka bijak memakai potensi ini. Sebab itu mereka menyuruh orang lain untuk menyampaikan pesan ayah mereka sebelum mati, yaitu mengampuni kesalahan dan dosa saudara-saudaranya. Sebagai seorang korban kejahatan, Yusuf mempunyai alasan yang kuat untuk menolak permohonan dan pengampunan saudam-saudaranya yang disampaikan melalui utusan atau orang lain. la mempunyai alasan yang kuat untuk meminta supaya saudara-saudaranya sendiri yang datang dan memohon pengampunan. Begitu juga ketika saudara-saudaranya sendiri datang dan sujud didepannya serta menyatakan siap menjadi budaknya, Yusuf sebenarnya bisa saja dendam dan meminta syarat pemulihan hubungan. Tapi apa reaksi Yusuf yg sudah pernah terluka terhadap orang yg membuat luka tersebut ?? Yang dilakukan justru sebaliknya, ketika suruhan saudara-saudaranya menyampaikan pesan ayahnya, Yusuf menangis. Dan ketika saudara-saudaranya sendiri datang dan sujud didepannya serta menyatakan siap menjadi budaknya,Yusuf malah menghibur mereka agar tidak takut, Yusuf menenangkan hati mereka serta mengampuni kesalahan dan dosa saudara-saudaranya.
  3. Saudara-saudara Yusuf memiliki sisi positif lain yaitu menyadari kesalahan. Tidak semua manusia menyadari kesalahannya. Sering orang membela diri, melogikakan, menyudutkan orang lain, mencari kambing hitam, dll. Tetapi saudara-saudara Yusuf sadar akan kesalahan mereka. Mereka insyaf dan bersedia menerima hukuman. Meminta maaf pada adik sendiri, mau dihukum oleh adik sendiri bahkan menjadi budak saudara sendiri  artinya mereka bersedia melakukan apapun yg diperintahkan tuannya, adalah suatu perbuatan langka. Sering kali perseteruan antar anggota keluarga, karena persoalan warisan, pembagian tanah, sakit hati karena perkataan, baik dalam keluarga kandung, saompu, dll makin parah karena tidak ada pihak yg mau mengalah, rendah hati, mengampuni. Semua dibawa-bawa ke hasangaponnya. Sehingga ketinggian hati dipakai iblis membuat kita jauh dari Allah dan merusak kekerabatan. Buktinya ada beberapa keluarga yg tidak berkomunikasi seolah perseteruan yg diwariskan.
  4. Manusia mempunyai tabiat mendendam, memang dengan berbagai pertimbangan, boleh jadi sikorban untuk sementara menahan diri dan mengengkang amarahnya tetapi tetap mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan niatnya. Dan juga di kalangan bersaudara, faktor orang tua sering menjadi pertimbangan. Orang tua masih hidup, bila bersaudara ribut pikiran orang tua menjadi kalut, oleh karna itu yang bersangkutan menunggu orang tua meningggal. Mengapa Yusuf tidak mendendam dan mengadakan pembalasan? dan mengapa ia mengampuni saudara-saudaranya? Penulis kitab Kejadian menuliskan bahwa Yusuf adalah seorang yang takut melakukan kejahatan dan perbuat dosa terhadap Allah (Kej 39:7–10). Memang begitulah sesungguhnya orang yang takut akan Tuhan mengetahui bahwa hak Allah-lah dendam dan pembalasan, Ul. 32:25. Tidak seorangpun dapat bertindak sebagai Allah, atau mengantikan Allah mendendam dan mengadakan pembalasan. Tidak juga Yusuf, ia berkata “Jangan takut, sebab aku inikah pengganti Allah?” Yusuf menegaskan bahwa ia tidak dapat bertindak sebagai Allah atau menggantikan Allah. Yusuf tidak mendendam sama sekali. Dari sini bisa kita relevansikan bahwa Orang yg datang merasa bersalah jangan ditambah bebannya, tetapi difasilitasi menyadari akan kehidupan yg lebih baik. Ini artinya sangat diperlukan PENGAMPUNAN yg memang sangat baik untuk pemulihan luka pribadi dan hubungan dengan orang lain. (bnk. Ul. 32 : 25 ; Matius 5 : 23-24 ; Yeremia 24 : 11-12).
  5. Pada jaman ini juga banyak pergumulan dan tantangan yang di hadapi oleh keluarga orang kristen khususnya dalam hal memaafkan. Sehingga yang sering timbul adalah amarah, dendam, & balas dendam. Keadaan ini mem-perparah kehidupan manusia, dendam membuat banyak orang yang bertindak dengan kekerasan, pembunuhan, pelecehan, pemerkosaan, moral. Mengapa mengampuni itu sulit? Jawabnya :
  6. Karena belum bertobat dengan sungguh-sungguh. Artinya Roh Kudus belum ada dalam hidupnya, pikirannya masih dibutakan oleh ilah zaman.
  7. Karena merasa diri benar dan baik. Yusuf merendahkan diri sampai ia berkata, “Aku inikah pengganti Allah”, artinya ia hendak berkata aku juga bukanlah orang yang sempurna, ia melupakan segala kesalahan saudaranya. Orang yang merasa diri benar cenderung akan jadi pendendam.
  8. Karena tidak menyadari bahwa kedendaman itu merusak.
  9. Karena tidak dewasa, untuk mengenal kehendak Allah (Band. Roma 8:28 & Roma 12: 20 : harus mengampuni dan tetap berbuat baik terhadap semua orang sebab pembalasan adalah hak Tuhan.
  10. Karena tertipu iblis, yang memang ingin agar kita tetap hidup dalam kedendaman. Sebab seorang yang tetap dendam, iblis akan berkuasa atas hidupnya, sehingga tindakannya selalu sesuai dengan keinginan iblis.

 

6. Yusuf mampu menerima, memaafkan dan melupakan kesalahan saudara-saudaranya. (Hal pengampunan ini dapat kita lihat juga dalam Ayub 42:10. Setelah Ayub memaafkan serta berdoa buat sahabat-sahabat yang menyakiti hatinya, keadaannya dipulihkan Tuhan.) Jadi, pengampunan akan membuka jalan untuk kita dapat meraih berkat-berkat Tuhan. Salah satu penghambat berkat yaitu kebencian dan kedendaman, hal ini dapat kita bandingkan dengan Matius 5:23-24, selama kita masih menyimpan rasa dendam terhadap orang lain, maka segala perbuatan baik kita akan menjadi sia-sia dan tidak berarti sama sekali di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya sebelum kita menghadap Tuhan, kita harus berdamai atau saling mengampuni, karena yang Tuhan lihat bukan sesuatu yang kita persembahan, tetapi keberadaan hati kita. Juga kita lihat dalam Roma 12:17-18, ditegaskan “janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!”.

 

PENUTUP

Jika kita ingin melihat berkat-berkat Tuhan mengalir  dalam hidup kita, maka siaplah untuk selalu hidup dalam pengampunan. Sadari bahwa benci dan dendam adalah ikatan iblis. Kadangkala setan memang gagal membuat kita marah dan bersungut-sungut pada Tuhan atau membuat kita undur dari Tuhan, tetapi dia manaruh rasa dendam di hati kita kepada sesama. Betapa malangnya orang yang masih hidup dalam kedendaman dan kebencian, karena ketidaksiapan mengampuni membuat kita tidak dapat diampuni oleh Allah. Jadi sesungguhnya tidak ada alasan untuk kita tidak dapat mengampuni. Sebab di dalam Matius 6: 14-15, jika kita tidak mengampuni kesalahan orang lain maka Bapa di Sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Ketidaksiapan mengampuni juga membut kita menderita (Mazmur 6:8), ilmu psikologi juga mengatakan Seorang yang pendendam akan mudah menderita penyakit, tidak tenang hidupnya dan kehilangan damai.  Untuk itu marilah buang segala kedendaman dan kebencian dan hiduplah dalam pengampunan, maka perkara-perkara dahsyat akan dinyatakan Tuhan dalam hidup kita. Amin.

EPISTEL MINGGU TANGGAL 17 JULI 2011

NATS : KISAH PARA RASUL 19 : 1-7

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

“SATU BABTISAN”

 

I.    PENGANTAR

Tidak dapat disangkal bahwa baptisan adalah sebuah topik penting Alkitab. Baptisan secara langsung disebutkan kira-kira 100 kali di dalam 12 kitab dalam Perjanjian Baru. Yesus membicarakan baptisan setelah Dia bangkit dari antara orang mati, sambil mengatakan kepada rasulNya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Ini adalah kehendak Kristus supaya pengikut-pengikutNya pergi dan mengajar (menjadikan murid) segala bangsa, membaptiskan mereka yang percaya dan menerima pengajaranNya.

 

II.   PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

  1. Pada waktu itu, Paulus melakukan perjalanan Misinya, mengabarkan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Paulus yg masa lalunya adalah orang yang mengejar-ngejar orang percaya lalu menghukum mereka, kini setelah bertemu dengan Allah hidupnya berubah. Dia menjadi Rasul Tuhan Yesus. Dari perubahan hidup Paulus ini bisa kita teladani bahwa orang yang telah bertemu dengan Tuhan pasti hidupnya berubah. Orientasinya adalah Firman Tuhan. Cara hidupnya adalah sesuai dengan kehendak Allah. Bagaimana dengan kita? Apakah hidup kita sudah berorientasi pada Tuhan atau masih berorientasi pada kedagingan? Apakah kehidupan kita juga diisi dengan terberitanya injil melalui doa, perkataan atau perbuatan kita? Atau orang disekita kita justru tidak merasakan hal itu?
  2. Pada perjalanannya Paulus bertemu dengan umat percaya yang sebelumnya telah dibabtis oleh Yohanes. Dimana orang yang percaya kepada Tuhan Yesus bertemu, pasti karya Tuhan lah yang dipercakapkan bukan hal lain. Paulus mengabarkan tentang Roh Kudus. Dan ternyata, orang banyak itu berkata belum pernah mendengar tentang Roh Kudus. Paulus bertanya : Kalau begitu dengan babtisan manakah kamu telah dibabtis?. Karena pada waktu itu ada dua jenis babtisan yang dikenal, yaitu babtisan Yohanes. Babtisan Yohanes memang telah lebih dahulu banyak dilakukan, bahwa Yesus juga pernah dibabtis oleh Yohanes. Babtisan Yohanes lebih kepada babtisan pertobatan. Kini setelah Tuhan Yesus telah mati disalibkan, bangkit dan naik ke surga, maka Babtisan dalam Nama Yesus adalah Babtisan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat. Dan akhirnya, ke 12 orang itu memberi dirinya dibabtis dalam nama Tuhan Yesus.
  3. Dan ketika Paulus menumpangkan tangannya di atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh. Ingat : ke dua belas orang itu tidak berhenti dalam aktifitas berbahasa roh saja, melainkan mereka juga bernubuat. Berbahasa roh dan bernubuat adalah satu kesatuan yang terkait. Ini mengingatkan kita, seiring dengan banyaknya Gereja-gereja yang mengaku berbahasa Roh akan tetapi tidak satupun diantara mereka yang mengerti apa yang diucapkan, bahkan mereka berbahasa roh dan sampai dengan berakhirnya ibadah tidak ada seorangpun diantara mereka yang menafsirkannya dan mengajarkan apa arti kata-kata yang mereka ucapkan. Sehingga aktifitas yang mereka akui sebagai berbahasa roh itu akhirnya membuat bingung orang yang hadir, sia-sia diucapkan diudara. Kita kembali diingatkan apa yang disampaikan Paulus pada 1 Korintus 14.
  4. Mengapa Kita Perlu Dibaptis dalam nama Tuhan Yesus? Bolehkah orang Kristen menolak untuk dibaptis? Biasanya pertanyaan semacam itu diajukan oleh dua macam orang, yaitu orang yang belum percaya atau orang yang tidak tahu mengapa seorang Kristen perlu dibaptis. Berikut ini akan dikemukakan empat alasan mengapa kita perlu dibaptis:
  • Pertama, kita perlu dibaptis karena Tuhan Yesus memerintahkannya (Matius 28:19). Kita perlu dibaptis sebagai tindakan ketaatan kita terhadap perintah Tuhan Yesus tersebut. Bila seseorang tidak rela untuk mentaati perintah Yesus Kristus, patut diragukan apakah dia benar-benar percaya kepadaNya (Bandingkan dengan Yohanes 14:15, 21, 23, 24).
  • Kedua, kita perlu dibaptis sebagai pengakuan kepada dunia bahwa manusia lama kita telah mati dan dikuburkan bersama dengan kematian Kristus; dan sekarang kita hidup dalarn kehidupan baru yang dihasilkan oleh kebangkitan Kristus (Roma 6:1-4, 2 Korintus 5:17; Galatia 2:19-20). Reaksi yang menyadari akan cinta kasih Tuhan yang besar yang telah menebus kita maka kita pasti akan menunjukkan aksi kita, yaitu ingin membalas cinta Tuhan tersebut dengan berbuat kasih pada orang lain.
  • Ketiga, kita perlu dibaptis karena itulah respons yang wajar dari orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus. Kisah Para Rasul memuat banyak contoh praktek baptisan yang dilakukan terhadap orang-orang yang percaya setelah mendengar berita lnjil. Sekitar tiga ribu orang dibaptis setelah mendengar berita lnjil pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2). Orang-orang Samaria (dan juga Sidasida dari Etiopia) dibaptis setelah mendengar berita lnjil yang disampaikan oleh Filipus (Kisah Para Rasul 8). Kornelius dan orang-orang yang berkumpul di rumahnya dibaptis setelah mendengar berita lnjil yang disampaikan oleh Rasul Petrus (Kisah Para Rasul 10). Di samping itu, kita juga bisa membaca tentang pembaptisan terhadap Paulus atau Saulus (Kisah Para Rasul 9), Lidia dan seisi rumahnya serta kepala penjara Filipi dan keluarganya (Kisah Para Rasul 1 6), dan banyak kisah lain.
  • Keempat : Dalam surat Roma 6:5 disebutkan bahwa baptisan itu ialah persekutuan orang yang dibabtis dengan kematian Kristus dan sebagai akibatnya ialah hidup baru dalam Kristus. Dalam Titus 3 : 5 rasul Paulus menggunakan istilah ‘pemandian kelahiran kembali’ yang dapat kita bandingkan dengan perkataan Yesus sendiri tentang kelahiran dari air dan Roh, Yoh. 3 : 5. Dengan kata lain baptisan bermakna pembaharuan dan kelahiran kembali. Pembabtisan yang dengan tegas dikaitkan dengan keselamatan kita dengar dalam perkataan Yesus sendiri : “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mark. 16 : 16). Yang memegang peranan penting dalam perkataan Yesus ini ialalah hal percaya atau beriman. Tanpa iman-percaya baptisan yang diterima tidak akan bermakna apa-apa dalam perolehan keselamatan, karena Yesus sendiri mengatakan selanjutnya:“tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”.

5. Bolehkah di Baptis Ulang? Padahal waktu kecil sudah diBabtis dalam Dalam Nama Allah TRITUNGGAL.  Baptisan air’ hanyalah lambang dan yang penting ‘apa yang dilambangkannya’, dan Perjanjian Baru tidak menjelaskan harus dipercik, masuk air kemudian di guyur air atau diselam, jadi bisa dengan cara apapun (basuh, percik, guyur, selam)  khususnya jika ‘air’lah yang digunakan. Yang terpenting dalam upacara itu benar-benar ada ‘iman, kesadaran akan dosa dan mengakuinya, bertobat dan disertai pengharapan akan kebangkitan dalam Kristus baik oleh yang bersangkutan atau orang tua yang membawa anaknya untuk dibabtis.

Lantas bagaimana pandangan kita tentang banyaknya orang yang dibaptis ulang? Baptisan ulang lebih banyak dilakukan oleh aliran-aliran yang menekankan selam. Jika demikian, mereka lebih menekankan lambang lebih dari yang dilambangkan yaitu ‘kepercayaan kepada Tuhan Yesus dan pengharapan akan kebangkitan dalam Kristus’ dan telah dilakukan dalam nama Allah ‘Bapa, Putra dan Roh Kudus’. Maka ‘mengulang baptisan’ berarti melecehkan ‘pengakuan dan sakramen dalam nama Allah tritunggal’ yang telah dilakukan sebelumnya. Kita perlu berhati-hati untuk tidak lebih menekankan lambang daripada yang dilambangkan, soalnya di kalangan yang menekankan baptisan selam pun banyak terjadi penafsiran yang keliru. Ada yang telah dibaptiskan selam ketika pindah gereja harus dibaptiskan ulang lagi karena berbagai alasan, ada yang menyebut karena belum dibaptiskan ‘oleh hamba Tuhan yang diurapi’, ada yang menyebut karena airnya harus ‘mengalir jadi tidak absah kalau di dalam kolam dalam gedung gereja yang airnya diam’, bahkan ada yang lebih lagi menyebut bahwa ‘baptisan baru sah bila diselam di sungai Yordan di tanah suci’ seperti Yesus dan para Rasul. Lebih melecehkan lagi kalau baptisan itu dilakukan ‘berulang-ulang’. Banyak yang mengikuti ‘holy land tour’ kemudian dibaptiskan ulang lagi di sungai Yordan dengan tambahan biaya US$.5 (kata sebuah brosur) dan diberi sertifikat baptisan ‘dalam bahasa Ibrani.’ Orang yang melakukan demikian jelas tidak mengerti arti makna baptisan itu sendiri dan arti baptisan air sebagai lambang dan apa yang dilambangkannya. Orang yang dibaptiskan ulang atau melakukannya berulang-ulang itu bisa diibaratkan orang yang tidak sadar bahwa pertobatan dan imannya yang diakuinya dalam baptisan pertama tidak sah atau ‘murtad’ lagi dan perlu mengulangnya dan kembali mengaku ‘dosa dan iman’ lagi, ini merupakan pelecehan rohani. BACA Ibr.5:12-6:6.

PENUTUP – Apa Pandangan HKI tentang Babtisan Ulang ?

Memang ada ditemukan pelaksanaan babtisan ulang dalam Kis 19 : 1-6 . tatapi hal ini dilakukan karena yg bersangkutan waktu itu pernah dibabtiskan oleh Yohanes Pembabtis tidak dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh kudus. Karna itu perlu di babtis kembali.  Jadi bukan karena ada istilah babtisan ulang dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dan menganggap babtisan anak/ bayi dulu tidak sah. Babtisan adalah tanda masuk menjadi umat kerajaan Allah. Babtisan telah memberikan memateraikan bahwa kita adalah anak-anak Allah, Babtisan menandakan kita telah menjadi milik Allah, mulai dari bayi hingga sepanjang hidup kita. Dengan memahami ini semua, dapat kita simpulkan bahwa seseorang dibabtiskan hanya satu kali saja.

Jadi tidak ada istilah Babtisan Ulang. Organisasi gereja manapun tidak berhak menyatakan syah atau tidaknya suatu babtisan oleh Gereja lain jika dilakukan dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Semua Babtisan apakah dilakukan waktu bayi atau sudah dewasa adalah benar jika dilakukan dalam Nama Allah Tritunggal itu. Jika ada orang yg dibabtiskan ulang : yg walaupun waktu kecil ia sudah dibabtiskan di Gereja dihadapan seluruh jemaat dan dihadapan Allah dalam Tritunggal. Bararti ia sudah tidak meyakini iman ayah dan ibunya berbuat yg terbaik baginya sejak kecil dan menghantarnya ke katekisasi sidi (marguru malua). Babtisan dewasa boleh dilakukan jika yang bersangkutan menerima Yesus, menjadi orang percaya (masuk Kristen) ketika ia sudah dewasa. Jadi bukan mengulangi babtisan waktu kecil dulu. Puluhan kalipun orang dibabtis, dengan berbagai carapun baik dipercik, dibasuh, sampai diselamkan, tetapi jika ia tidak beriman dan hidupnya penuh dengan buah Roh maka semua adalah sia-sia. Karena inilah maka Siasat Hukum Gereja HKI Pasal 5 : bagian H menetapkan bahwa Orang yg menerima dan megakui babtisan ulang : akan dikenakan Siasat Hukum Gereja , dan perlu mendapatkan penggembalaan.

 

KHOTBAH MINGGU V SETELAH TRINITATIS TANGGAL 24 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Yohanes 1:35-42

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

TOPIK MINGGU : ASA MOLO DIBAGASAN KRISTUS HALAK, NA TINOMPA NA IMBARU MA I (2 KORINT 5 : 17). JADI SIAPA YANG ADA DI DALAM KRISTUS IA ADALAH CIPTAAN BARU.

 

I.        PENGANTAR

Tujuan Yohanes menulis kitab Injil Yohanes adalah agar orang-orang yg membacanya percaya bahwa Yesus adalah Mesias (Yoh.20 : 31). Yohanes Pembabtis adalah seorang Nabi yang luar biasa pada zamannya. Jika biasanya banyak orang yang mengaku ‘Nabi’ pada waktu itu pergi keliling kota mencari dan mengumpulkan pendengar suara kenabiannya, maka bagi Yohanes, justru orang banyaklah yg datang ke gurun untuk mendengarkan kotbahnya. Hal ini berkaitan dengan konteks Nats yaitu sekitar tahun 400an dimana keadaan masyarakat waktu itu chaos, penjajah Roma menindas rakyat Yahudi dan diantara sesama rakyat Yahudi juga saling tindas, ketika itu tidak ada nabi yg berbicara sebagai perantara Tuhan, tetapi banyak yang mengaku nabi. Ditengah keadaan itulah Johanes pembabtis hadir, seorang  nabi yg pemberani, seorang pengemban penderitaan rakyat, kata-katanya pedas dan mengoreksi bentuk kehidupan orang-orang yg “mengaku beragama” tetapi tidak perduli  terhadap sesamanya, supaya mereka sadar akan dosanya dan bertobat ( Lih. Lukas 3 ). Ditengah ke”populeritasan”nya, Johanes adalah seorang figur yg sederhana. Ia hidup dengan pola yg berbeda dari pola masyarakat pada waktu itu. Yohanes tinggal di gurun pasir, makanannya belalang dan madu hutan. Jubahnya terbuat dari bulu onta yg amat kesat (menggambarkan kualitas bahan pakaian yg amat sederhana) dan ikat pinggangnya dari kulit. Ia benar-benar serahkan hidupnya untuk mengikuti panggilan Allah ( Markus 1 : 6 ).

Pada waktu itu tumbuh dan berkembang paham Yudaisme yg didasari semangat Nasionalis keYahudian. Rakyat merindukan zaman baru, zaman yg memulihkan Kerajaan Israel seperti masa Daud, yg dibawa oleh seorang figur pemimpin revolusi keturunan Daud yang dikenal sebagai Mesias. Pengharapan yg demikian yg selalu mereka harapkan untuk terwujud. Oleh karena itu rakyat selalu peka terhadap sesuatu hal yg baru. Sehingga, pada waktu itu, berita tentang Johanes pembabtis cepat tersebar dan membuat banyak orang yg tertarik dengan suara kenabiannya. Dan Karena suara kenabiannya, pada saat itu banyak asumsi tentang Yohanes Pembabtis. Ada yang mengatakan dia adalah Elia, nabi, bahkan ada yg mengatakan bahwa Yohanes adalah Mesias ( Lih. Lukas 3 : 15 ).

 

II.       PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

Dalam Perikop ini, adalah membicarakan bagaimana Yohanes sebagai nabi Allah benar-benar mempersiapkan jalan untuk Tuhan Yesus. Dia dalam pemberitaannya hanya menonjolkan Yesus, dia tidak mau terjebak oleh egoisme dan ambisi pribadi supaya terkenal sebagai seorang nabi bahkan lebih dari itu dianggap sebagai Yesaya bahkan Mesias. Tetapi penduduk Yerusalem menganganggap seruan Yohanes adalah aneh, sehingga dianggap perlu mencari tahu siapa dia sebenarnya. Ketika orang Yahudi dari Yerusalem yang termasuk didalammnya adalah orang Farisi, mengadakan penyidikan tentang kesiapaan Yohanes. Dia menjawab secara blak-blakan bahwa dia bukan Yesaya dan juga bukan Mesias. Penyidikan itu terjadi di Betania yang diseberang sungai Yordan, dimana Yohanes membaptis (Baca Yoh.1:19-28). Dua hari setelah kejadian ini, itulah yang akan kita bahas dalam perikop berikut ini.

Dalam teks ini kita temukan bahwa Yohanes Pembaptis sangat jujur dan terus terang memberitahukan kesiapaan Yesus Kristus. la tentu tahu bahwa membicarakan Yesus bersama murid-muridnya dengan cara seperti itu sama dengan menyuruh muridnya meninggalkan dirinya; mengalihkan kesetiaan para muridnya kepada guru baru yang jauh melebihinya bahkan tiada taranya. Tetapi memang untuk itulah Yohanes hadir dalam pentas dunia. Dari padang gurun dia berseru-seru, supaya setiap orang bertobat sebab Kerajaan Allah sudah dekat; persiapkanlah jalan bagi Tuhan dan luruskan jalan bagiNya. Semua itu dilakukannya bukan untuk menarik perhatian orang tertuju kepadanya, melainkan agar mereka lekat kepada Kristus. Kalau kita pikirkan dengan logis; dari sudut pandang kita sesungguhnya adalah sangat sulit untuk menyerahkan tempat dan pekerjaan yang sangat kita nikmati kepada orang lain, lalu mengambil tempat kedua sebagai gantinya. Tetapi itulah yang Yohanes lakukan setelah Yesus muncul, tanpa pikir panjang dan membuat perhitungan dia langsung menyerahkan orang-orang miliknya kepada Yesus. Terbukti dua orang murid dekat Yohanes meninggalkannya lalu mengikut Yesus.

Semula kedua murid itu merasa malu dan canggung untuk segera mendekati Yesus, sehingga mereka hanya mengikutinya dengan rasa hormat dari kejauhan. Tetapi Yesus tahu itu dan tidak membiarkan kejanggalan seperti itu berlangsung lama. Segera la melakukan hal yang khas: Yesus menoleh kepada mereka dan mengajak mereka berbicara. Itu berarti Yesus menerima dan menampung serta memberikan kemudahan bagi mereka. Yesus membukakan pintu hingga mereka lebih mudah masuk. Apa yang Yesus lakukan membuktikan bahwa inisyatif dan langkah pertama selalu dari Allah untuk manusia boleh dekat kepadaNya. Ketika pikiran manusia mulai mencari dan hatinya mulai merasa rindu, Allah datang bukan hanya untuk menolong serta memberikan tumpangan tetapi bahkan menerima dan menampung sepenuhnya. Ketika manusia mencari dan rindu kepadanya, Allah datang menemuinya. Kalau kita mencari Allah sebenarnya kita pergi mencari Dia yang sedang menantikan kita; bahkan ketika seperti itu Tuhan lebih dahulu mengambil inisyatif melangkah untuk menemui kita di tengah perjalanan kita.

Yohanes menyebut Yesus dengan sebutan: Anak Domba Allah. Kemungkinan besar Yohanes ingat akan Anak Domba Paskah. Waktu itu hari raya Paskah belum lama berlangsung (Yoh 2:13). Demikian juga mungkin teringat tentang anak domba yang disembelih melindungi rumah-rumah orang Israel pada malam hari waktu mereka meninggalkan Mesir (Kel 12:11-13). Yohanes adalah anak seorang imam, ia tentu tahu tentang upacara keagamaan di Bait Allah dengan segala korban-korbannya. Setiap pagi dan petang ada anak domba yang dikorbankan di bait Allah untuk dosa-dosa umat Israel (Kel 29:38:42). Anak domba merupakan simbol penakluk yang besar. Anak domba melambangkan orang kuat Allah. Yesus adalah orang kuat Allah yang berperang melawan dosa.

Ketika dua orang murid Yohanes itu datang kepada Yesus, la memulai percakapan dengan menanyakan hal yang sangat dasariah di dalam hidup: “Apakah yang kamu cari?”. Pada jaman Yesus di Palestina, adalah merupakan hal yang sangat relevan untk menanyakan hal tersebut. Oleh karena waktu itu memang banyak orang yang suka mencari hal-hal yang dianggap mereka penting. Banyak para peminat Hukum Taurat yang mencari hal yang halus yang tersembunyi dan mendalam dari pokk-pokok rumit Hukum Taurat. seperti yang dilakukan ahli taurat dan Farisi. Banyak juga orang mencari kesempatan untuk memperoleh kedudukan dan kuasa seperti yang dilakukan orang-orang Saduki. Banyak juga para nasionalis Yahudi mencari tokoh politis ilahi pemimpin militer yang mampu menghancurkan kekuatan penjajah Romawi seperti yang dilakkan para Zealot. Banyak juga dengan rendah hati mencari Allah serta kehendakNya seperti dilakukan oleh para perenung. Banyak juga orang kebingungan oleh karena terjerat dosa, lalu mencari terang serta pengampunan Allah di jalan hidupnya. Mungkin sekali Yesus ingin menguatkan motivasi kedua murid Yohanes yang baru datang kepadaNya. Tentunya adalah sangat mendasar dan menarik jika kita mencoba mengarahkan pertayaan Yesus ini kepada diri kita…dan mari kita menjawab dengan sejujurnya. Apa yang kamu cari dalam berTuhan : Apakah ketenteraman degan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, kedudukan yang aman, tempatsantai, harta benda? Ataukah kamu sedang mencari dan mengusahakan karier, kuasa, ketermukaan dan gengsi? Atau kamu sedang mencari semacam kedamaian, yaitu suatu hal yang memungkinkan hidup damai dengan dirinya, dengan sesama dan Allah?

Dari jawaban murid Yohanes kepada Yesus adalah: Rabi (guru) dimanakah kamu tinggal? Dengan jelas bahwa mereka ingin mengetahui tempat tinggal Yesus. Mereka menyebut Yesus sebagai sebutan Rabbi, yaitu suatu kata Ibrani yang secara hurufiah berarti `Orang besarku’. Mereka ingin bergaul lebih lama dengan Yesus serta membicarakan persoalan dan kesulitan mereka. Orang yang mau jadi murid Yesus tidak akan puas dengan pembicaraan yang singkat denganNya. Disini terlihat niat mereka ingin bertemu Yesus bukan kenalan sambil lalu, melainkan sebagai kawan akrab di tempat tinggal Yesus. Yesus mengetahui apa yang mereka pikirkan; sehingga dengan begitu resfons Dia menjawab: Marilah dan kamu akan melihatnya. Dengan jawaban ini la mengajak murid Yohanes tadi bukan hanya untuk datang dan berbicara, tetapi juga untuk datang dan menemukan hal-hal yang hanya Yesus saja yang bisa menunjukkannya kepada mereka.

Ketika Andreas membawa Petrus kepada Yesus, la memandang Petrus. Kata ibrani yang dipakai untuk memandang adalah embleipein. Kata ini mengandung arti memandang secara cermat, terus menerus dan mendalam. Sehingga tidak hanya melihat hal-hal yang tampak saja tetapi menembus masuk ke dalam hati orang yang dipandang. Ketika Yesus memandang Simon, la berkat kepadanya:”Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (batu) (artinya: Petrus). Kefas adalah bahasa Aram sementara Petrus adalah bahasa Yunani yang artinya adalah sama-sama batu. Dan kemudian hari, jalan hidup Simon benar-benar menjadi sebuah batu yang kuat menghadapi segala bentuk tantangan dalam Pekabaran Injil yang dilakukannya. Jemaat terkasih, Tuhan juga sedang memandang kita saat ini, bukan hanya sekedar memandang, Ia juga selalu memberkati kita. Untuk itu sudah selayaknya kita membawa diri kita dan membawa orang lain termasuk keluarga kita kepada Tuhan Yesus, maka percayalah hidup kita akan diubahkan Tuhan Yesus. Mari bersekutu bersama Tuhan Yesus dalam doa, persekutuan ibadah, pembacaan dan perenungan FirmanNya dan dalam tiap langkah kita. Kita akan merasakan perlindunganNya yang luar biasa dan berkatNya selalu baru setiap hari.

 

III.      PENUTUP

Hal yang sangat menarik dalam cerita ini ialah tentang bagaimana Yesus memandang orang,  la tidak hanya memandang keadaan manusia itu, tetapi juga melihat bahwa manusia itu bisa berubah menjadi manusia yang baru. Untuk itu, mari datang kepada Tuhan Yesus dan menjalani kehidupan ini bersama dengan Dia. Amin.

 

KHOTBAH MINGGU V SETELAH TRINITATIS TANGGAL 24 JULI 2011

NATS EPISTEL: Pilipi 1:1-6

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

CIRI KHAS JEMAAT YANG DEWASA

I.        Pendahuluan

Gereja di Filipi didirikan oleh Paulus dan teman-teman sekerjanya (Silas, Timotius, Lukas) pada perjalanan misi yang kedua sebagai tanggapan terhadap penglihatan yang Allah berikan di Troas (Kis 16:9-40). Dua kali Paulus mengunjungi gereja ini pada perjalanan misinya yang ketiga (Kis 20:1,3,6).

Paulus menjalin hubungan yang baik dengan jemaat Pilipi, hal ini terlihat dari bantuan dan kesediaan mereka mencukupkan kebutuhan Rasul Paulus ketika berada di Makedonia (2 Kor 11:9, Pil 4: 15-16) dan dengan bermurah hati memberi persembahan yang dikumpulkan untuk orang Kristen yang berkekurangan di Yerusalem (bd. 2Kor 8:1–9:15).

Surat ini dikirimkan ketika Paulus dalam penjara di kota Roma (Kis. 28:16-31) sebagai ucapan terimakasih dan sebagai wujud rasa syukurnya atas segala kebaikan yang jemaat Pilipi lakukan baginya (Fili 4:14-19).

Kemudian dia juga menasehatkan kiranya jemaat ini semakin menunjukkan kasih dalarn persekutuan, rendah hati dan selalu berdamai dalam Kristus. Surat ini memusatkan perhatian pada Kristus Yesus sebagai tujuan hidup dan pengharapan orang percaya akan hidup kekal.

 

Saudara terkasih, Nats ditulis Paulus ketika dia dalam penjara. Reaksi orang saat itu terhadap pemenjaraan Paulus tidak sama. Ada yang sedih dan prihatin. Itu adalah reaksi wajar, sebab dipenjara berarti dibatasi ruang gerak kebebasannya. Mereka kuatir bahwa pemenjaraan Paulus akan berakibat buruk pada kelangsungan pewartaan Injil (ayat 12-13).

Tetapi di dalam penjara Paulus tetap bebas bicara menyaksikan Injil (ayat 12).

Kedua karena menjadi jelas bahwa ia dipenjara karena Injil bukan karena kesalahan (ayat 13).

Ketiga, karena keterpenjaraan Paulus malah menyemangatkan Kristen untuk berani bersaksi bagi Yesus (ayat 14).

 

Seperti biasanya Paulus tidak pernah lupa mengawali setiap suratnya dengan ucapan berkat dan sekaligus doanya untuk setiap jemaat yang disapa dan dilayaninya dengan: ”Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu”. Paulus selalu bersyukur kepada Tuhan ketika mengingat jemaat Pilipi. Alangkah indahnya bila kekompakan sedemikian kita alami juga dalam tim pelayan dan jemaat kita kini.

 

Manusia dikaruniakan Tuhan ingatan. Sayangnya ingatan kita tentang orang lain, atau ingatan tentang diri kita yang kita tinggalkan pada orang lain sering tidak positif. Ingatan Paulus tentang jemaat di Filipi membuatnya mengucap syukur dan bersukacita (ayat 3-4). Itu tidak dibuat-buat, sebab jemaat itu terlibat aktif dalam pelayanan misi Paulus. Sukacita Rasul menjadi bertambah-tambah karena begitu jelas kelihatan buah dari pelayanan Injil yang dia beritakan ke Pilipi. Hal ini terlihat dari kehidupan persekutuan jemaat yang penuh kasih, kesatuan dan keteguhan iman. Walaupun Paulus tidak lagi bersama-sama dengan mereka karena pekerjaan Pelayanan Injil ke tempat yang lain, namun Paulus selalu menyebut mereka dalam doanya sebagai mana dalam teks ini. Bagi paulus mengingat Jemaat Pilipi berarti mengingat hal-hal yang membahagiakan yang membuatnya bersukacita.

 

Berdoa dan mengucap syukur, dimana doa dan permohonannya bukan hanya untuk dirinya sendiri; adalah sikap yang harus kita teladani. Walaupun Paulus hidup ditengah kekangan dalam penjara tetapi dari balik jeruji tersebut Injil tetap bisa tersiar. Dalam keterkekangan dia tetap dipakai Tuhan membebaskan jiwa jiwa yang terbelenggu. Paulus hidup selalu optimis, bersemangat serta berpengharapan. Dia percaya bahwa Roh Kudus akan selalu bekerja menolong jemaatnya untuk melakukan hal-hal yang baik sebagaimana kehendak Tuhan. Sebagaimana Yesus telah berjanji bahwa dia akan menyertai hamba-hambaNya sampai maranata. Bagi Paulus, pelayanan Injil adalah pekerjaan Tuhan. Setiap Injil diberitakan itu berarti Tuhan hadir dan ada didalamnya.

3. Nats ini sangat kuat berbicara tentang Persekutuan dalam penginjilan. Kualitas apa dalam gereja kita membuat kita bersyukur? Karena warganya banyak? Karena gedung dan fasilitasnya megah dan lengkap? Karena programnya OK dan partisipasi jemaatnya tinggi? Apakah ukuran Anda akan kesuksesan sebuah gereja? Perhatikan hal-hal dalam gereja di Filipi yang membuat Paulus bersyukur (ayat 3)! Paulus mengenal gereja itu sebab ia sendiri yang mendirikannya (Kis. 16). Paulus mengucap syukur karena persekutuan warga gereja di Filipi dalam penginjilan dari sejak gereja ini baru berdiri sampai saat Paulus menulis surat ini (ayat 5). Paulus mengucap syukur bukan saja karena mereka berpegang teguh kepada iman mula-mula dan tetap setia bertumbuh dalam iman tersebut, tetapi juga karena semangat mereka untuk terlibat dalam pelayanan rasul Paulus.

Pelajaran apa yang dapat kita tarik tentang kemajuan gereja dan kemajuan penginjilan? Pertama, pendiri (pemimpin) gereja selalu memperhatikan gereja ini bahkan saat ia jauh dan tidak dapat hadir bersama mereka. Ia terus bersekutu menaruh gereja itu dalam doa-doanya, bahkan ketika ia sendiri dalam kesusahan dipenjarakan. Kedua, sejak awal gereja itu sudah diarahkan untuk menjadi gereja yang berperan serta melayani dalam berbagai bentuk pelayanan, bukan hanya menerima berkat dan pelayanan. Gereja yang pemimpin dan warganya terfokus melayani Injil Kristus akan menjadi gereja yang sukses di mata Allah.Camkanlah: Jangan menilai gereja sukses bila ukurannya duniawi. Gereja sukses jika setia menginjili dan bertumbuh dalam iman. Kadar persekutuan di sebagian besar gereja masa kini sering terasa dangkal. Hanya sedikit warga gereja yang berbakti bersama, saling kenal atau bersahabat mendalam. Lebih sedikit lagi yang memiliki kasih menyala-nyala untuk saling melayani, mendoakan, mendukung pemimpinnya dengan doa dan tenaga. Ini beda sekali dari kondisi gereja di Filipi dan hubungan Paulus dengan para warga gereja ini. Apakah kondisi mereka terlalu ideal atau suatu realitas yang menantang kita untuk berubah?  Kristen di Indonesia pun harus lebih terlibat satu dengan yang lain, supaya Tuhan dimuliakan dan gereja disukakan. Kesehatian dan kekompakan antar orang beriman adalah hal yang indah dan memberikan kekuatan. Mari kita renungkan apakah kesehatian dan semangat kebersamaan di Jemaat Filipi ada di HKI Resort Bandar Lampung. Apakah semangat saling melayani dan menopang ada di Resort kita atau sifat dominan adalah semangat menunggu, hanya menerima dan pasif. Jika demikian, kita belum hidup dalam persekutuan yang benar dalam Tuhan.

4.       Apa yang membuat kita yakin bahwa orang yang menyambut Injil akan tetap setia? Keyakinan itu didapat Paulus bukan pada kualitas iman atau pengalaman rohani jemaat Filipi sendiri. Keyakinan bahwa iman Kristen kita akan bertekun sampai ke akhir terletak atas fakta bahwa Tuhan Yesus akan setia meneruskan penyelenggaraan keselamatan dari-Nya sampai akhir, yaitu sampai Ia datang kembali kelak (ayat 6). Hubungan baik Paulus dan gereja di Filipi terjadi karena Yesus Kristus. Yesus Kristus bukan saja menjadikan mereka bagian dari keluarga Allah atas dasar karya penyelamatan-Nya (ayat 6), tetapi juga membuat mereka menjadi rekan sepelayanan (ayat 7). Persekutuan itu terjadi bukan karena dasar-dasar persamaan yang manusiawi sifatnya tetapi semata adalah akibat dari keberadaan mereka yang telah menjadi satu dengan dan di dalam Kristus. Persatuan rohani ini tidak diterima begitu saja baik oleh Paulus maupun oleh warga gereja di Filipi. Mereka secara aktif memupuk sikap dan melakukan tindakan-tindakan yang membuat kenyataan rohani indah itu bukan sekadar impian kosong tetapi terwujud nyata. Mereka tidak saja menikmati pelayanan Paulus tetapi bersukacita terlibat mendukung Paulus dalam suka-duka pelayanannya demi Injil. Mari melawan arus pendangkalan hubungan yang melanda dunia ini dengan aktif mendoakan dan membuka diri bagi sesama saudaraku seiman secara nyata.

 

III.      Penutup.

Kita patut meneladani kehidupan dalam pekerjaan Pelayanan Paulus yang selalu bersemangat dan penuh rasa syukur melakukan tugas pelayanan dalam setiap waktu dan kondisi apa pun. Walaupun begitu banyak tantangan, rintangan dan hambatan; seperti dalam perikop ini dari dalam penjara pun dia tetap mengabarkan Injil lewat suratnya. Paulus tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan Yesus, supaya Dia memberkati dan menyertainya dalam setiap langkah kehidupannya. Terkhusus dalam tugas pelayanan Injil. Berkat doanya itu dia melangkah lebih pasti dan penuh keberanian sehingga dapat melewati segala tantangan dan hambatan yang dihadapinya.

Banyak orang memulai sesuatu dengan baik, tetapi di tengah jalan mulai tersendat sampai pada akhirnya mandek. Demikian juga dalam pelayanan Gereja, banyak orang yang dahulunya bersemangat melayani dalam pelayanan Gereja, akan tetapi karena satu dan lain hal, kemudian menarik diri dan akhirnya semakin jauh dari Gereja. Ini adalah bukti komitmen yang lemah dan berorientasi pada manusia dan kedagingan. Kita perlu menopang orang lemah demikian dan menguatkan komitmen pelayannya. Dan hendaknya setiap orang yang mengambil pelayanan Gerejawi harus mendewasakan imannya dalam persekutuan yang benar dengan Allah. Iman yang tumbuh ialah yang aktif mengasihi, menggali firman penuh gairah, mencintai Allah dalam tindakan kudus.

 

 

KHOTBAH MINGGU VI SETELAH TRINITATIS

TANGGAL 31 JULI 2011

NATS EVANGGELIUM: Ulangan 7 : 6 – 12

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

TOPIK MINGGU : Mangaradoti Tona, aturan dohot uhum ni Jahowa ( 5 Musa 7:12). Berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan yang dari Tuhan.

 

I.        PENGANTAR

Buku Ulangan  terdiri dari serangkaian pidato-pidato yang diucapkan Musa di  depan bangsa Israel waktu mereka berada di negeri Moab. Mereka  berhenti di situ sesudah mengakhiri perjalanan panjang lewat  padang gurun dan sebelum masuk ke Kanaan untuk menduduki negeri  itu. Beberapa pokok yang penting dari buku ini ialah:

  • Musa mengingatkan bangsa Israel akan peristiwa-peristiwa besar selama 40 tahun yang terakhir. Ia mohon kepada bangsa Israel supaya mereka ingat bagaimana Allah memimpin mereka melalui padang gurun dan karena itu mereka harus taat dan setia kepada Allah.
  • Musa mengulangi Sepuluh Perintah Allah. Ia minta dengan sangat supaya orang Israel beribadat kepada TUHAN saja. Lalu ia mengulangi beberapa hukum dan perintah yang mengatur kehidupan bangsa Israel di tanah yang sudah dijanjikan.
  • Musa mengingatkan bangsa Israel akan arti ikatan perjanjian Allah dengan mereka. Ia mendorong bangsa itu supaya membaharui kesediaan mereka untuk memenuhi kewajiban-kewajiban mereka.
  • Yosua ditunjuk sebagai pengganti Musa untuk memimpin umat Allah.

Tema pokok buku ini ialah bahwa Allah sudah menyelamatkan dan memberkati umat pilihan-Nya, bangsa yang dikasihi-Nya. Jadi bangsa Israel tak boleh lupa akan hal itu. Mereka harus mentaati Allah, supaya mereka tetap hidup dan terus diberkati.

 

II.       TAFSIRAN.

Ay. 6 Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Umat yang kudus. Kata “Kudus” (Ibrani: Qadosy) berasal dari akar kata “Terpisah” dan “Khusus”. Allah sendiri Kudus karena dalam Zatnya Dia terpisah dari segala mahluk ciptaanNya. Dengan demikian “kekudusan” merupakan inti realita ilahi, sehingga menjadi sumber untuk kasih, kemurahan, kebenaran, kesucian dan kuasa Ilahi. Bila barang atau orang disebut “Kudus” berarti barang atau orang itu dikhususkan untuk Tuhan, sebagai obyek perhatianNya dan sebagai sarana pelaksanaan kehendakNya, sehingga mencerminkan atau mewujudkan  sifat-sifat ilahi seperti disebut diatas. Israel menjadi Umat yang kudus berkat pemilihannya oleh TUHAN.

Engkaulah yang dipilih”: Memang konsep bahwa YHWH mengambil Israel atau Nenek-moyangnya sebagai milikNya secara Khusus sudah termasuk tradisi israel yang tertua mulai ketika Abram dipanggil (Kej 12:1-3). Ulangan menekankan bahwa pemerintahan YHWH serta pilihanNya melekat dalam Umat. Kata Umat KesayanganNya (bnd Kel 19:5; Ul 14:2; 26:18 dll) : menunjukkan posisi Israel memiliki tempat yang khusus bagi Allah dan ini tidak terlepas dari Rencana Penyelamatan Allah melalui Mesias melalui Bangsa Israel.

 

Ayat 7 – 8a. Berbentuk jamak dan ayat 8b – 11 berbentuk tunggal. Perikop ini merupakan tambahan atau untuk melengkapi ayat 6, yaitu untuk mencegah kesalah-pahaman tentang implikasi kedudukan Israel sebagai umat pilihan dan kesayangan TUHAN. Pemilihan tersebut tidak berdasar jasa atau keistimewaan apapun melain kasih yang tak terbatas.

Hati TUHAN terpikat (bnd 10:15) : Dalam konteks-konteks lain kata “terpikat” ini menggambarkan rasa-cinta seprang pria terhadap wanita (Kejadian 34:8; Ulangan 21 : 11). Rasa tertarik yang diperlihatkan TUHAN itu tidak mempunyai alasan  yang logis melainkan rasa-cinta itulah yang menjadi alasan untuk segala tindak penyelamatan TUHAN terhadap Israel.

 

Ay.8 Tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.TUHAN mengasihi kamu (bnd Ulangan 7:13; 10:15; 23:5). Kata “mengasihi” (Ibr : Ahebh) pertama tama dipakai tantang jalinan kasih (termasuk kerinduan) antara pria dan wanita (Kidung Agung 5 : 8; Kejadia 24 : 67; Hakim-hakim 14 : 6) antara kawan (2 Samuel 1 :26) antara orangtua dan anak(Kejadian 22 :2) antara Majikan dan hamba (Ulangan 15 : 16) dan anatara tetangga (Imamat 19:18). Istilah “Ahebh” ini oleh Hosea dikenakan kepada sikab Tuhan terhadap umat pilihanNya. Israel disebut sebagai Isteri yang dikasihi serta dipilih oleh YHWH. Kemungkinannya konsep hosea ini yang diambil oleh mazhab Ulangan (Ulangan 7:8,13; 23:5) hanya dengan perbedaan bahwa latar belakang erotis yang berperan dalam uraian Hosea sudah hilang disini.

 

Kasih TUHAN kepada umat pilihan berakar dalam kesetiaanNya kepada nenek moyang mereka (ulangan 7:13;10:15). Ciri-ciri kasih Tuhan itu adalah sebagai berikut: Ditandai dengan keintiman; dikaitkan dengan pilihan; spontan dan tak beralasan; rela; berakar dalam kesetiaan (Khesedh) TUHAN; tak dapat dipisahkan dari kebenaran-kesucian; menuntut kesetiaan bulat. Karena  benar dan suci maka kasih TUHAN itu mengandung unsur penghukuman dan pengoreksian.

Menebus Engkau  kata kerja “Menebus” (Ibr Padah) dipakai khusus  berkenan dengan proses pembebasan manusia/hewan dengan jalan membayar harga pembebasan (Keluaran 21:8,21; Bilangan 3:6 dll) Pemakaian istilah menebus disini menekankan Bahwa: a. Israel menjadi bebas karena tindakan YHWH. b. Pembebasan itu bukan soal yang enteng: YHWH membayar suatu “harga”. C.Berkat penebusan itu ialah : umat menjadi milik YHWH.

 

Ay.9 – 10 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, tetapi  terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. Haruslah kau ketahui, Mengetahui (Ibr Yadha) berarti menyadari, merasakan, menginsafi. Allah yang setia Kata yang diterjemahkan dengan “Setia” disini mengandung Arti, “stabil dan tidak bergoyah”, “Teguh” (1 Samuel 25 :28), sehingga dapat diharapkan dan di andalkan (Bilangan 12 : 7).

Memegang perjanjian dan kasih setia-Nya,…………… kepada beribu-ribu keturunan, Tetapi ………. melakukan pembalasan (bnd Ulangan 5 : 9-10). Proporsi antara Kasih setia dan pembalasan sama dalam kedua perikop tersebut. Hanya ditekankan “Pembalasan” itu lebih tegas dalam Ulangan 7 : 9-10. Hal itu disebabkan karena perikop ini merupakan Khotbah yang bertujuan untuk mengantar umat itu kepada pertobatan, sebelum krisis melanda kerajaan-kerajaan Israel. Nada ancaman dimaksud untuk mengantar umat itu kembali ketaatan. Jemaat terkasih, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka kita adalah umat yang kudus dan umat kesayangan Tuhan. Sebagai umat yang kudus maka segala karakter dan perbuatan kita harus kudus. Karena setiap orang yang ada Roh Allah didalamnya maka sudah barang tentu hidupnya akan dipenuhi buah Roh (bnk. Gal 5:22-23). Jika hidup kita masih dalam keinginan daging, sadarlah bahwa sebenarnya kekudusan itu sudah tidak ada lagi dalam diri kita dan kita tidak berkenan lagi dihadapan Allah. Kita menjadi umat kesayangan dan pilihan Allah bukan hanya sebagai predikat semata, melainkan sebuah misi untuk dipakai Allah menyatakan kuasa dan kasihNya.  Dan kita dipilih Allah sebagai umatNya bukan karena kebesaran kita atau karena jasa kita, melainkan hanya anugerah semata. Jemaat terkasih, jika ini kita sadari maka kita akan sadar akan keberadaan diri kita, dan mau berserah kepada Tuhan. Kita ini terbuat dari tanah, dan apa yang kita miliki semua adalah titipan dari Allah. Dan jika kemudian Allah memilih kita menjadi umat pilihanNya maka itu adalah sebuah kehormatan besar dari Allah. Karena itu, mari tetap memuliakan Tuhan dalam hidup kita, Allah itu setia dari dulu, sekarang dan untuk selamanya.

Nats kita juga mengabarkan bahwa Allah yang pengasih dan setia itu juga adalah Allah yang Tegas yang akan menghukum umatNya yang membenci Dia ditengah berkat yang selalu Dia berikan. Membenci Allah bisa dalam bentuk tidak mengindahkan firmanNya, menyembah ilah lain, dan tetap berada dalam hidup kedagingan walau kita sudah ditebus. Jemaat terkasih, periksa diri kita, jangan sampai saat ini kita berada dalam keadaan penghukuman Allah, periksa diri kita dan kehidupan kerohanian kita. Dan jika kita menyadari dosa dan kesalahan kita mari dating berserah padaNya dan memohon ampun kepadaNya.

 

III. RENUNGAN.

Inti dari pasal 7 ini ialah uraian tentang “lingkaran Anugrah dan kasih karunia Allah” yang menjadi landasan hubungan umat Israel dengan TuhanNya. Rahasia Anugerah adalah sangat mendalam. Bahwa israel sungguh mengalami Anugrah TUHAN. Waktu mereka belum mengenal Tuhan dan mencari Dia, Tuhan telah Lebih dahulu mengenal mereka serta menaruh perhatian atas penderitaan mereka. Dan Jikalau ditanya mengapa TUHAN berhasrat mengasihani yang kecil dan terlantar ini serta mengangkat menjadi milikNya sendiri, maka terdapatlah hanya satu jawaban: TUHAN mengasihi Israel karena Dia bertindak setia terhadap perjanjianNya kepada Nenek-Moyang mereka. Kasih anugrah TUHAN itu tidak beralasan sama sekali. Bahkan justru Dia menaruh kasihnya atas umat yang paling lemah dan paling tidak berdaya itu(7), dan anugerah itu telah berlanjut hingga pada kita saat ini. Karena itu Patutlah umat Kristen senantiasa mengagumi anugrah yang tidak beralasan itu yang sudah kita peroleh dari Tuhan kita Yesus Kristus (bnd Yohanes 15 :16; Roma 5 : 6; Efesus 2 : 4 – 6; Titus 3 : 4 – 5) Amin.

 

 

EPISTEL MINGGU  TANGGAL 31 JULI 2011

NATS : MATIUS 28 : 16-20

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

 

  1. I.      PENGANTAR

Kenaikan Yesus ke Sorga merupakan salah satu bagian inti hidup kekristenan sebab Yesus naik ke sorga untuk menyediakan tempat bagi kita. Berarti kita punya kepastian bahwa dunia ini hanya sementara tetapi di Sorga kita sudah mempunyai tempat tinggal. Itu sebabnya saudara-saudara yang masih bergumul dimuka bumi jangan putus asa dan jangan kecewa walaupun saudara masih tinggal di rumah kontrakan, tidak perlu minder, karena saudara punya rumah kekal di sorga. Nats Epistel kita di Minggu ini berbicara tentang Kenaikan Tuhan Yesus dan tugas yang diembankan kepada umatNya. Ayat Firman Tuhan tersebut adalah kata-kata Yesus yang terakhir sebelum Yesus naik ke surga meninggallkan murid-muridNya. Ada dua pesan Yesus dalam ayat-ayat Firman Tuhan  yang pertama ada di ayat 16 & yang kedua ada di ayat 20. Sebagai orang kristen biasanya kita hanya melihat ayat 20 yaitu disertai Tuhan, diberkati Tuhan, diurapi Tuhan, tetapi apabila kita melihat,Tuhan Yesus justru mengatakan tentang penyertaanNya pada kalimat terakhir setelah ayat 16.Tuhan mau supaya kita melakukan terlebih dahulu ayat  16 baru Tuhan akan menyatakan penyertaanNya.

 

II.    PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

  1. Kenaikan Yesus menerobos keterbatasan fisik.

Setelah Tuhan Yesus disalibkan, semua Murid-murid Tuhan Yesus mengurung diri : takut pada ancaman Romawi dan Farisi. Namun setelah Tuhan Yesus menampakkan diriNya maka rasa percaya diri dan militansi para murid bangkit kembali. Dan ketika Tuhan Yesus hendak naik ke Surga, kesebelas murid Tuhan Yesus secara bersama berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka (ayat 16). Akan tetapi, pada ayat 17 mengatakan bahwa “ketika Dia menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu”. Ternyata walaupun demikian masih ada beberapa orang diantara mereka yang masih ragu-ragu, iman mereka belum bulat dan kuat, bisa saja mereka kembali berfikir jika Tuhan Yesus naik ke Surga, bagaimana dengan nasib mereka, apa yang harus mereka lakukan, dll. Akan tetapi Tuhan Yesus tidak membiarkan keraguraguan menguasai muridNya. Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa “Kepada-Ku telah diberikan segala Kuasa di Sorga dan di Bumi” (ayat 18). Disini Tuhan Yesus menegaskan kembali bahwa walaupun Ia ketika naik ke Sorga secara fisik tidak bersama-sama mereka, tetapi ia masih bisa berkuasa menyertai dan melindungi mereka. Dan ini diperkuat kembali di ayat 20 “….Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

Jemaat terkasih dari ayat ini bisa kita relevansikan a.l :

Bahwa bisa saja saat ini kita berada dalam kondisi yang sama dengan para murid, sebagian beriman secara kuat kepada Tuhan dan sebagian lagi masih beriman secara ragu-ragu. Banyak penyebabnya misalnya tantangan hidup di bidang ekonomi, keadaan sebagai minoritas, kondisi kesehatan dan banyak lainnya. Sehingga hidup penuh kekhawatiran dan ada rasa ketakutan. Untuk keadaan ini Firman Tuhan Yesus sampai kepada kita, bahwa berimanlah secara penuh kepada Tuhan Yesus, Ia adalah Allah yang maha kuasa termasuk mengatasi pergumulan dan kekhawatiran duniawi kita. Dan Roh kudusnya beserta kita sampai ke akhir zaman. Tuhan memberkati kita dengan berkat-berkat bukan hanya pada waktu kita di sorga tetapi juga pada saat kita berada di bumi. Tuhan memberikan kita kuasa untuk memperoleh kedua-duanya. Keterikatan dari dosa, sakit penyakit bisa dilepaskan oleh kuasa Yesus. Oleh karena itu kita harus memakai kuasa itu.

2.   Amanah Agung bagi semua orang Percaya.

Bagian kedua yang tidak terlepas dari bagian Pertama adalah kenaikan Tuhan Yesus dan janji penyertaannya juga tidak terlepas dari tugas/amanah yang serahkanNya kepada kita. Diayat 19-20 dikatakan “karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu….” Ada beberapa makna dari perikop ini, a.l : bahwa semua orang percaya menerima Amanah ini menjadi Saksi Kristus. Karena inilah Tugas orang percaya. Nats ini sangat relevan saat ini, dikala semua orang memikirkan diri sendiri, dikala kesulitan, dikala banyak yg merasa ber PI adalah bukan urusannya melainkan tugas profesi tertentu : yg punya tohonan, seolah yg tidak bertohonan tidak punya tanggung jawab akan hal ini, ketika kaum muda banyak yg masa bodoh atas pokok iman Kristen, ketika : banyak yang mengulur waktu panggilan. Dikala semua itu sedang melanda keKristenan, Firman Tuhan kembali menyapa kita akan adanya sebuah tugas yang di berikan Tuhan Yesus. Tugas ini diberikan kepada semua orang. Tidak ada kriteria usia, latar belakang pendidikan, ekonomi, dll – Kuasa Roh Kuduslah yang menguatkan kita menjadi saksi Allah sampai ke ujung bumi.

3.   Ladang Misi bersifat Luas.

Tempat dan jarak tidak menjadi halangan dalam hal ber PI. Dimanapun kita berada, kita harus menjadi Saksi Kristus melaksanakan tugas mengasihi sesama dan mengabarkan melalui perkataan, perbuatan dan doa kita bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat. Bagaimanakah penginjilan itu dilaksanakan? Apakah harus menunggu sampai semua penduduk Yerusalem diinjili dahulu, baru kemudian seluruh penduduk Yudea, lalu seluruh penduduk Samaria, akhirnya ke negara-negara lainnya. Ternyata tidak demikian. Kata sambung “dan” yang diulangi beberapa kali dalam Kisah Para Rasul 1:8 mempuyai arti serempak. Maksudnya, Yerusalem perlu diinjili, bersamaan dengan itu Yudea, Samaria, dan daerah-daerah lainnya. Karena itu semua orang termasuk kita di HKI Resort Bandar Lampung harus melaksanakan Misi ini dimanapun kita berada. Agar melalui kehidupan kita orang lain melihat bahwa setiap orang Kristen adalah orang yang mempunyai integritas, memegang teguh kebenaran dan kasih yang terpancar di setiap aktifitasnya. Karena dunia yang saat ini adalah dunia yang sangat egois, dunia ini membutuhkan orang-orang yang dapat berkarya nyata tapi juga memiliki iman yang kuat. Ada banyak orang yang bersaksi dengan cara kompromi. Misalnya ada rasa minder menjadi orang Kristen yang minoritas sehingga akhirnya sering ikut arus keadaan, banyak yang tidak berani mengatakan yang benar atas yang benar dan salah atas yang salah karena memikirkan untung rugi. Ingatlah untuk berbuat sesuatu yang benar dan adil menurut Tuhan karena Roh yang ada dalam kita lebih besar dari roh yang ada dalam dunia ini.

4.   Kenaikan Yesus menerobos rasa takut yang keliru – hidup yang terpaku pada masalah sendiri.

Kenaikan Yesus menerobos keterbatasan kesukuan dan geografis. Pada waktu itu orang Israel sedang dijajah oleh bangsa Romawi dan banyak diantara mereka berkata “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6). Seolah-olah para murid Yesus berkata kepada-Nya, “Tuhan selesaikan dulu masalah intern bangsa kami. Bebaskan kami dahulu dari penjajahan orang Romawi.” Murid-murid Yesus hanya memikirkan kerajaan bagi bangsa Israel. Mereka terkungkung oleh keterbatasan bangsa dan suku. Ruang lingkup merekapun hanya dibatasi oleh geografis Palestina yang luasnya hanya: 192 x 64 km saja. Padahal sasaran kehadiran Tuhan Yesus – penginjilan tidaklah terbatas pada satu suku/bangsa saja, juga tidak terkungkung pada satu tempat/negara saja.

Yesus menjawab, “Pergilah kamu, jadilah saksi-Ku….” Di gereja-gereja yang hanya memikirkan diri sendiri malah akan muncul banyak masalah intern. Sedangkan di gereja yang sibuk bermisi, para anggota mengkonsentrasikan perhatian mereka kepada pelayanan, sehingga tidak ada waktu untuk bergosip dan mencari-cari masalah di antara sesama anggota.

5.  Alkitab sudah berjanji bahwa Dia akan datang kembali, itu artinya janjiNya kepada kita, janganlah takut dan gelisah hatimu sebab di rumah BapaKu banyak tempat tinggal, dengan lain kata Yesus menjelaskan supaya ditempat dimana Aku berada disitu juga kamu berada. Dalam peristiwa kenaikan Kristus kita menjumpai bahwa Dia Tuhan yang selalu ingin dekat dengan kita. Karena itu Dia tidak mau meninggalkan kita, karena Dia ingin dekat dengan kita oleh sebab itu Dia siapkan jalan ke Sorga bagi kita.

 

III.  PENUTUP

Yesus berkata, “Pergilah ke seluruh dunia dan jadikan segala bangsa murid-Ku.” Ini merupakan suatu penanaman visi. Bila suatu zaman tidak memiliki visi, maka zaman itu akan penuh dengan kekacauan. Gereja yang sudah kehilangan ketajaman dalam melihat visi akan menjadi tidak berdaya, tidak dinamis lagi. Namun, bila visi itu kembali dipertajam dan menggugah hati manusia, mau tidak mau gereja akan menjadi militan dan dinamis di dalam pelayanan. Kenaikan Kristus ke surga bukan hanya merupakan suatu catatan sejarah, tetapi juga suatu amanat. Dia pergi dan tugas-Nya dilanjutkan oleh kita dengan bimbangan Roh Kudus. Barangsiapa merayakan hari kenaikan Kristus, dia juga harus mengingat pesan Yesus sebelum Ia pergi.

Terakhir kita akan melihat ayat terakhir dari seluruh Kitab Suci, yaitu dalam Wahyu 22:20-21. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diakhiri dengan kutukan. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, diakhiri dengan berkat. Dengan mengingat kenaikan-Nya ke surga, kita kembali menyadari bahwa Ialah pemenang, pemberi Roh Kudus, sekaligus pendoa syafaat yang mengerti kesengsaraan kita. Ia pula yang menyediakan tempat di surga yang akan datang kembali bagi kita. Dalam Injil Yohanes 14:1-4 Yesus berkata, “Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Jikalau Aku tidak pergi tidak ada yang menyediakan tempat bagimu dan jikalau Aku sudah menyediakan tempat bagimu Aku pasti akan datang kembali lagi. Di mana Aku ada di sana pun engkau akan berada.” Orang yang sungguh-sungguh menanti kedatangan Yesus Kristus adalah orang yang menjaga hidup di dalam kesucian. Hidup di dalam kesucian berarti kita terus memelihara diri kita supaya pada waktu Ia datang kembali kita sudah siap, boleh menerima dan diterima oleh-Nya. Barangsiapa yang menaruh pengharapan seperti ini kepada-Nya, biarlah ia membersihkan dirinya! Ini adalah perintah dari Yohanes di dalam 1Yohanes 3. Barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada kedatangan Kristus biarlah ia menjaga dirinya, memelihara kesucian dan menunggu di dalam doa akan kedatangan Yesus Kristus. AMIN.

 

BEBERAPA KHOTBAH DI BULAN JUNI 2011

KHOTBAH MINGGU PENTAKOSTA I TANGGAL 12 JUNI 2011

NATS : KISAH PARA RASUL 2:1-13

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

ROH KUDUS YANG MEMPERSATUKAN

I.        PENDAHULUAN

Hari ini kita, umat kristiani, memperingati hari Pentakosta, yaitu hari turunnya Roh Kudus. Dalam kalender gerejawi, hari Pentakosta dihitung 10 hari sesudah hari kenaikan Tuhan Yesus ke Surga. Sedangkan hari kenaikan Tuhan Yesus ke Surga dihitung 40 hari sesudah kebangkitan Tuhan Yesus (Paskah). Jadi, hari Pentakosta adalah 50 hari sesudah Paskah, sesuai dengan arti kata Pentakosta, yaitu “yang kelima puluh”. Ada penafsiran yang mengakui bahwa Pentakosta sebagai awal berdirinya gereja di bumi ini. Nah, di Minggu ini baik rasanya jika kita di HKI Resort Bandar Lampung kembali menggali makna Pentakosta sehingga kita semakin merasakan arti kehadiran Roh Kudus di tengah aktifitas, pergumulan, pengambilan keputusan dan aspek lain dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan dan lingkungan lain dimana kita berada.

II.       PEMBAHASAN NATS

Turunnya Roh Kudus seiring dengan hari Pentakosta sehingga disebut :Pentakosta” dari bahasa Ibrani disebut “khamissim you” artinya turunnya Roh Kudus. Saat itu, sudah menjadi tradisi bagi orang Yahudi ada perayaan khusus yang disebut dengan hari raya Paskah untuk menyampaikan korban “persembahan yang terbaik” untuk Tuhan. Dan inilah salah satu pesta yang paling ramai pada agama Yahudi, karena akan berlanjut pada pesta panen (Pesta Gotilon) yang dirayakan selama 7 ari. Pada saat itu murid-murid sedang berkumpul di suatu tempat yang tidak diterangkan dengan pasti. Mungkin ruang atas yang ada dalam Kis 1:3 dan mungkin juga suatu tempat dalam Bait Allah (bdk. Luk 24:53). Pada saat itu terjadilah hal-hal sebagai berikut:

1.  Tiupan angin keras & Lidah api. Kitab Suci memang sering menggambarkan Roh Kudus sebagai angin (Yoh 3:8  Yeh 37:9,10,14  Yoh 20:22). Kata bahasa Yunani ”pneuma” memang bisa diartikan sebagai ‘roh’, ‘angin’ atau ‘nafas’ (Ibrani : ruach). Karena itulah maka sebelum Roh Kudus turun maka Ia didahului oleh suatu bunyi seperti tiupan angin keras. Kemudian diayat 3 tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Roh Kudus juga sering digambarkan sebagai api dengan makna menyucikan / menguduskan kita.

2. Turunnya Roh Kudus dan Memenuhi Orang Percaya (ay 4). Terjemahan ay. 4a dalam bahasa Indonesia jika dibandingkan ke NIV: ‘All of them were filled with the Holy Spirit’, seharusnya ada kata ‘semua’. (= Mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus). Jadi, bukan hanya rasul-rasul saja yang menerima /dipenuhi dengan Roh Kudus, tetapi semua orang percaya yang hadir pada saat itu. Roh Kudus diberikan bukan hanya kepada orang percaya tertentu saja, tetapi kepada semua orang yang percaya kepada Kristus. Pemberian Roh Kudus ini adalah penggenapan janji Tuhan dalam Yoh 14:16,17,26  Yoh 15:26,27  Yoh 16:7-11,13,14  Mat 3:11  Kis 1:4,5,8.

3. Ayat kelima mengatakan saat itu orang – orang Yahudi yang saleh yang tinggal di Yerusalem yang berasal dari berbagai macam daerah di dunia terkesima dan terkejut akan hal yang terjadi. Mereka itu berasal dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, Roma, Kreta dan Arab. Mengapakah mereka terkejut ? karena “mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.”  Orang – orang Yahudi ini dari berbagai macam daerah mengerti tentang apa yang diucapkan oleh para rasul tersebut. Sehingga mereka berkata, “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita ?”. Sekarang perhatikanlah baik – baik : setiap orang mendengarkan mereka berbicara di dalam bahasa mereka sendiri. Rasul – rasul ini semuanya berbicara di dalam bahasa – bahasa yang lain dari bahasa yang mereka gunakan pada saat berkumpul, tetapi perlu diingat bahwa bahasa – bahasa yang diucapkan pada saat itu adalah bahasa – bahasa yang digunakan oleh manusia di bumi/di bawah kolong langit. Dan setiap orang yang berkumpul mendengarkan para rasul berbicara dengan bahasa asal mereka. Jadi, orang Partia mendengarkan semua rasul tersebut berbicara dengan bahasa Partia. Orang Media mendengarkan semua rasul tersebut berbicara dengan bahasa Media. Orang Yunani mendengarkan mereka semuanya berbicara dengan bahasa Yunani. Mereka mengerti apa yang sedang diucapkan. Dan perlu juga di perhatikan bahwa  pengertian Alkitab tentang kemampuan “berbicara di dalam bahasa – bahasa” tersebut sesungguhnya adalah kemampuan yang diberikan oleh Roh Kudus Allah untuk memberitakan Injil kerajaan Allah kedalam bahasa lain yang digunakan oleh manusia di dunia. Jadi bukan memaksakan suatu bahasa baru (ekspansi bahasa) atau justru melakukan aktifitas berbahasa yang tidak diketahui artinya secara alfabet termasuk oleh pengucapnya. Marilah kita melihat peristiwa Pentakosta secara bersungguh – sungguh dan bukannya berusaha untuk meniru-niru dengan sesuatu yang tidak kita mengerti bersama pada apa yang terjadi pada hari itu.

4. Setiap orang harus memberikan waktu dan tenaga bagi orang lain dan demi pewartaan kabar Injil, sebagaimana dalam peristiwa Pentakosta banyak orang dari berbagai daerah berkumpul memberikan waktu dan tenaga untuk mendengarkan ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ yang disampaikan oleh para rasul. Mari kita renungkan berapa banyak waktu yang 24 jam sehari kita pakai untuk membicarakan firman Tuhan kepada keluarga atau orang-orang di tengah-tengah kita. Atau justru kita lebih banyak menghabiskan waktu membicarakan dan memburukkan rekan sekerja, atau membicarakan kebohongan dan hal negatif lainnya? Marilah kita menjadi saksi dalam memberikan waktu dan tenaga dalam hidup saling mengasihi, dengan saling membagikan pengalaman atau sharing perihal ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ sehingga kita akan saling terhibur dan bersama menemukan kebenaran-kebenaran. Dalam saling berbagi perbuatan besar Allah dalam kehidupan, kita dapat saling belajar dan mengajar. Berbagai kesalah-pahaman dapat diatasi dengan cuthat atau bercakap-cakap bersama didalam terang kuasa Roh Kudus.

5. Apakah orang – orang yang ber-Pentakosta pada saat sekarang ini, yang percaya akan “berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain” memang bersatu dan berkumpul menjadi satu ? Atau malahan mereka terpecah – pecah menjadi banyak cabang/denominasi? Pada hari Pentakosta yang istimewa tersebut, semua rasul itu secara tiba – tiba berbicara di dalam banyak bahasa – bahasa. Bahasa – bahasa tersebut bukanlah bahasa – bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia melainkan bahasa – bahasa tersebut adalah bahasa – bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Bahasa – bahasa yang diucapkan pada saat itu tidak membutuhkan seorang ahli bahasa untuk mengartikannya kepada orang lain, karena jelas diterangkan semua orang yg ada disitu mengerti apa yang terucap. Marilah kita sekarang mempelajarinya secara baik – baik. Penekanan dari Pentakosta. Banyak orang yang kalau membahas Pentakosta selalu menekankan bahasa roh. Dan anehnya bahasa roh yg di pahami sebagian rekan kita adalah bahasa yang tidak dimengerti. Padahal sebetulnya yang paling ditekankan dalam Pentakosta adalah Pekabaran Injil – terberitanya ‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ (ay.11).

Karunia bahasa roh adalah suatu karunia yang bersifat mujijat, sehingga tidak bisa dipelajari / dilatih. Dimanapun dalam Kitab Suci kita tidak pernah melihat orang mempelajari / melatih / mengusahakan bahasa roh. Karena itu semua bahasa roh yang dipelajari / dilatih / diusahakan adalah palsu dan berasal dari orangnya sendiri. Kalau saudara adalah orang yang mempunyai bahasa roh hasil latihan, ingatlah bahwa bisa saja saudara sedang memalsukan karunia Allah!

Hasil dari Peristiwa Pentakosta di Kis.2 ini adalah Allah yang telah memilih supaya mereka semua bisa mendengar Injil dan setelah itu mereka bisa kembali ke negaranya untuk menyebarkan Injil di negaranya masing-masing. Jadi semua ini jelas menunjukkan bahwa Pentakosta menekankan Pekabaran Injil. Perhatikan, pada saat itu, karena orang-orang Yahudi dari negara-negara lain itu mempunyai bahasanya masing-masing sudah tentu adanya banyak bahasa menghalangi Pekabaran Injil dan kalau Injil hanya diberitakan dalam 1 bahasa saja, maka orang akan beranggapan bahwa Injil itu memang ditujukan hanya untuk satu bangsa / bahasa saja (Yahudi). Allah tidak mau hal itu terjadi dan Ia lalu memberi bahasa roh. Dengan cara ini maka: batasan bahasa dihancurkan dan Injil bisa tersebar dan semua orang tahu bahwa Injil bukan hanya untuk satu bangsa/bahasa saja.  Dengan demikian, bahasa roh di sini membuktikan panggilan Allah untuk semua bangsa-bahasa. Jika kita bandingkan, jika pada Kej 11 terjadi peristiwa menara Babel dimana Allah memberikan banyak bahasa untuk menyebarkan manusia yang tidak saling memahami karena berbeda bahasa di peristiwa Babel, maka dalam Kis 2 terjadi peristiwa Pentakosta dimana Allah memberikan banyak bahasa supaya manusia datang / bersatu dalam Kristus. Pentakosta menekankan Pekabaran Injil untuk semua suku bangsa dan untuk itu Roh Kudus yang mempersatukan.

6. Pada ayat 13 dikatakan : Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.” Dari sini bisa kita pelajari bahwa dalam Pemberitaan Injil bisa saja ada tantangan baik berupa cibiran, hingga aksi massa. Seperti reaksi negatif di ayat ay 13, orang-orang ada yang bukan sekedar menolak Injil tetapi bahkan mengejek orang yang memberitakan Injil dengan mengatakan mereka sedang mabuk.Untuk itu kita jangan menyerah dan putus asa, Injil harus terberitakan melalui kata, doa dan perbuatan kita. Bisa terjadi pekerjaan baik dan pelayanan baik dari Parhalado maupun warga jemaat terjadi sikap saling sindir dan ejek baik secara terungkap atau tersembunyi. Mari kita hindari hal ini, karena yang utama adalah semua pihak harus bekerja dari hati secara nyata, bukan hanya kata tanpa karya.

Penutup

Saudara terkasih, karya Roh Kudus telah meruntuhkan sekat pemisah antarbangsa dan bahasa. Ini tidak berarti perbedaan-perbedaan itu kemudian kita abaikan. Perbedaan-perbedaan yang ada tetap kita hormati, tetapi tanpa membelenggu kita dalam fanatisme sempit, sehingga kita melihat “sesama” hanya sebatas mereka yang “sama” dengan kita. Kuasa Roh Kudus justru membuat kita mampu menerima dan memperlakukan siapa saja—terlepas bangsa, bahasa dan agamanya—sebagai sesama. Semoga hari Pentakosta dapat memicu kembali semangat “kebersatuan” kita dalam hidup bermasyarakat  dan bergereja secara khusus di HKI.  Amin.

KHOTBAH MINGGU TRINITATIS TANGGAL 19 JUNI 2011

NATS EVANGGELIUM: Ev. Yesaya 6 : 1-3

Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

“INI AKU UTUSLAH AKU”

I.    KONTEKS NATS (PENGANTAR)

Allah yang telah mengikat perjanjian dengan umat Israel sebagai Bangsa Pilihannya mengharuskan umatNya untuk menguduskan Dia ( 8 : 13) dengan cara : hanya beribadah kepadaNya, menuruti segala perintahNya dengan hidup dalam nilai kasih, kebenaran dan keadilan ( lihat peristiwa Keluaran, Yes 58 ). Akan tetapi kenyataan berbeda. Kitab Yesaya mencatat bahwa ternyata bangsa Israel–Yehuda kemudian melanggar ketetapan itu dan memberontak pada Allah ( Yesaya 1 : 2-4 ), bukannya merendahkan hati dihadapan Allah tapi justru mereka angkuh & tinggi hati ( 2:6 dst, 3 : 8 ; 5 :15 dst ). Ibadah mereka hanya bersifat lahiriah (1 : 10 + 29 ), mereka beribadah tetapi juga terjadi kemunafikan karena mereka tetap melakukan kekerasan ( 1:15-17 ) sehingga terjadi kesalehan yg palsu (Yes 58) dan juga terjadi kekafiran. (2:6-8; 17:7 dsb). Disamping itu juga terjadi Dosa-2 dibidang sosial. Yaitu penindasan terhadap orang-2 yg tidak berdaya, kehura-huraan yg berlebihan ditengah kemiskinan, yang dilakukan oleh penguasa ( Yes. 1 : 15 –17; 21-23; 3 : 14; 5 : 7 dll). Dan dalam bidang Politik, implementasi sikap percaya sepenuhnya dengan Allah memposisikan bahwa Bangsa Israel dilarang berkoalisi-dengan bangsa lain dalam bidang ketahanan keamanan khususnya koalisi dengan bangsa-bangsa yg tidak percaya pada Allah (Yes. 14 : 28-32; 18; 30 : 1-7 dsb ). Akan tetapi Bangsa Israel tidak patuh akan hal ini. Ketika negaranya terancam oleh bangsa-2 lain seperti Edom, mereka meminta bantuan kepada Mesir. Sikap berkoalisi dengan Bangsa Mesir menunjukkan bangsa Israel tidak sepenuhnya percaya akan penyertaan dan perlindungan Allah. Pada saat inilah Allah memanggil Yesaya sebagai nabiNya. Dari sini bisa kita relevansikan bahwa Allah menuntut ketaatan yg penuh dari umatNya, Allah menolak koalisi apapun dengan kekafiran yg pada hakekatnya meragukan kuasa penyertaan Allah. Ini relevan ketika banyak umat yg melakukan praktek occultisme saat ini, yg mencari jalan alternatif mempercepat pengabulan keinginannya. Bagaimana pemanggilan Yesaya sebagai Nabi Allah dan apa relevansinya bagi kehidupan kita saat ini, inilah yang menjadi Khotbah di Minggu ini.

II.  PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

Catatan panggilan TUHAN kepada nabi Yesaya dimulai dengan sebuah latar belakang kematian raja Uzia. Kematian tragis yang dialami Raja Uzia membawa kesedihan dan duka yang mendalam bagi seluruh rakyat Yehuda. Di tengah suasana berkabung ini, Yesaya pergi ke Bait Suci. Ketika memasukinya, Yesaya mengalami sebuah pengalaman dramatis yang mentransformasi hidupnya. Ia melihat TUHAN duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang dan jubahnya memenuhi Bait Suci. Raja Uzia memang telah mati, namun kini ia melihat Raja yang lain, Raja yang tidak akan pernah mati, Raja yang kekal yang duduk memerintah di atas takhta Yehuda untuk selama-lamanya, yaitu TUHAN sendiri. Ketika raja duniawi binasa, jalan terbuka untuk menobatkan Raja Surgawi, Yesus Kristus.

Ayat 1-4 : Ayat ini adalah bentuk pengakuan iman Yesaya atas kejadian yang dialaminya. Yesaya melihat ada malaikat Serafim di dekat TUHAN. Serafim di dalam Alkitab dipahami sebagai malaikat yang juga ciptaan Allah. Gambaran ini mengingatkan pada peristiwa ketika TUHAN menampakkan diri kepada Musa di semak duri. Yesaya mendengar sebuah persembahan nyanyian indah dan mengagumkan dari para Serafim, ”Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam,  seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”. Pengulangan tiga kali kata kudus menunjukkan betapa sempurnanya kekudusan Allah karena angka tiga dalam konteks Ibrani menunjukkan sebuah kesempurnaan. Dan banyak juga Penafsir mengatakan penyebutan kata Kudus sebanyak 3 kali menyebutkan kepada Tritunggal. Ayat 4 menggambarkan betapa dasyatnya dampak yang ditimbulkan dari kehadiran Allah pencipta terhadap ciptaan-Nya.

Ayat 5-7 : Pengenalan Yesaya akan siapa TUHAN membuat Yesaya menyadari betapa hina dan hancurnya ia sebagai manusia berdosa ketika berhadapan dengan kekudusan TUHAN. Yesaya menyadari betapa tidak ada sesuatu yang dapat disembunyikan di hadapan TUHAN. Yesaya melihat dirinya sebagai seorang yang penuh dosa, najis & najis bibir (ayat 5). Lantas, mengapa Yesaya harus mengkaitkan kenajisan dengan bibirnya? Mengapa bukan dengan indera yang lain?. Di sini Yesaya menyadari betapa mengerikannya dampak yang dimunculkan dari sebuah perkataan yang keluar dari bibir seseorang. Yesaya sadar bahwa tantangan terbesar yang di hadapi bangsa Yehuda pada saat itu adalah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut nabi-nabi palsu dengan pemberitaan akan nubuat-nubuat palsu yang hanya bertujuan untuk memuaskan telinga bangsa itu dan jauh dari kebenaran. Yesaya juga tidak menempatkan pergumulan ini sebagai pergumulan yang bersifat pribadi  tetapi juga menjadi pergumulan yang bersifat bersama dari bangsa Yehuda. Oleh sebab itu, sebagai bagian dari bangsa itu, Yesaya juga menempatkan dirinya sebagai orang yang najis bibir yang tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir pula. Yesaya dengan jujur mengakui bahwa ia juga menjadi orang yang bertanggung jawab atas dosa-dosa yang dilakukan bangsa itu.

Ayat 6-7 : Ternyata ditengah “ketidaklayakan” Yesaya, TUHAN tidak menghukumnya atau meninggalkannya. TUHAN berinisiatif bertindak dengan memerintahkan malaikat-Nya untuk mangambil bara panas dari atas mezbah untuk disentuhkan pada bibir Yesaya. Yesaya dikuduskan; artinya ia dipisahkan dari dosa, agar dapat hidup kudus meski di tengah bangsa yang tidak kudus. Allah mengambil seorang manusia yang hancur dan mengutusnya ke dalam pelayanan. Ia mengambil seorang manusia dengan mulut yang kotor dan menjadi jurubicara Allah. Untuk itu, mari menyerahkan hidup kita secara berintegritas kepada TUHAN seperti Yesaya yang sepanjang sisa hidupnya dipakai olehnya untuk bernubuat dan berkhotbah kepada umat, sebagai seorang nabi. Yesaya menjadi penyambung lidah Allah yang sejati, bukan seorang nabi palsu atau nabi-nabian! Ini adalah panggilan mulia. Dari sini bisa kita relevansikan bahwa anugerah TUHAN lebih besar dari dosa-dosa kita. Betapun cemar dan hinanya kita sebagai orang berdosa di hadapan TUHAN. Pengampunan-Nya tidak didasarkan apa yang sudah kita lakukan kepada-Nya ataupun jasa-jasa kita selama hidup kita. Pengampunan TUHAN bagi kita adalah semata-mata kasih karunia Allah.

Jemaat terkasih, diayat ini pemurnian Yesaya salah satunya diawali dengan penyucian melalui bibirnya. Mari periksa diri kita, periksa perkataan yang keluar dari bibir kita. Apakah kita mengabarkan Injil dan kesaksian yang baik dari bibir kita atau justru kita memelihara kenajisan bibir kita melalui dusta, celaan, fitnah, kebencian dan kata-kata kesombongan dan arogansi? Jika itu terjadi, sadarlah dan memohon pengampunan dari TUHAN agar Dialah yang kemudian menolong kita yang fana ini mentahirkan bibir dan hidup kita dari kenajisan. Jangan ada lagi kenajisan keluar dari bibir kita baik sebagai orang tua, anak, karyawan, Pendeta, Guru Jemaat dll. Setiap Pelayan adalah seseorang yang diangkat Allah dari ketidaklayatan/keberdosaan. Jika itu dipahami, maka tidak akan ada kesombongan melainkan yang ada hanyalah kerendahan hati dan integritas pelayanan yang menjadi berkat demi kemuliaan Tuhan Yesus Raja Gereja.

 

Ayat 8 : Lalu aku mendengar suara TUHAN berkata: ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi  untuk Aku?”  Ini sebuah pertanyaan serius TUHAN ungkapkan, dan Yesaya harus meresponinya. Yesaya dengan sungguh menjawab, ”Ini aku, utuslah aku!”. Di sini jika kita perhatikan, Yesaya tidak berkata, ”Di sini aku” tetapi dia berkata, ”Ini aku”. Kedua perkataan ini memiliki perbedaan yang besar. Jika Yesaya berkata ”di sini aku”, ini hanya berbicara mengenai lokasi dari sebuah tempat bukan menunjuk satu pribadi. Artinya TUHAN boleh memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk diutus ditempat itu. Tetapi Yesaya berkata, ”Ini aku”. Di sini Yesaya dengan tegas menunjuk pada dirinya sendiri. Yesaya hendak mengatakan bahwa ia dengan sukarela menyerahkan dirinya untuk diutus dan TUHAN tidak perlu mencari utusan yang lain. Kemanapun, kepada siapapun dan apapun konsekuensinya baik itu penderitaan bahkan kematian sekalipun, ia akan pergi.

Jemaat terkasih, dari kisah pemanggilan Yesaya ini bisa kita maknai bahwa pemanggilan TUHAN berlangsung hingga saat ini, lintas usia, lintas profesi. Pelayanan dan kehidupan kita adalah kemurahan TUHAN semata. Tidak ada satu pun yang ada di dalam diri kita yang membuat TUHAN harus memakai kita melayani-Nya. Sama seperti Yesaya, sebenarnya kita pun tidak pantas untuk menjadi pelaksana kehendak Allah. Dengan kekuatan kita sendiri, berdiri di hadapan hadirat-Nya sekali pun kita tidak akan sanggup. Namun melalui darah Yesus yang membersihkan kita, Allah mengundang kita untuk datang dekat kepada-Nya sehingga kita dapat membawa kasih-Nya kepada dunia.

 

III.  PENUTUP

Ketika TUHAN memanggil kita untuk melayani-Nya, sudah sepantasnya kita mengatakan, “Ya TUHAN, Ini aku, Utuslah aku”. Di setiap zaman dan di setiap belahan bumi, Allah mencari orang-orang yang mau menjadi para pelayan-Nya, yang seperti nabi Yesaya berkata: “Ini aku, utuslah aku!” Marilah kita membawa hati kita masing-masing kepada-Nya dan berkata seperti Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!”. Tidak ada seseorang yang terlalu muda untuk melayani TUHAN dan tidak ada seseorang yang terlalu tua untuk dipakai TUHAN. Ambillah keputusan itu sekarang juga di dalam hati saudara-saudara. Allah menginginkan agar kita semua dibersihkan serta dimurnikan, sehingga kita dapat melaksanakan kehendak-Nya bagi kehidupan kita. Immanuel.

 

EPISTEL MINGGU TRINITATIS TANGGAL 19 JUNI 2011

NATS : Ep. Mazmur 111: 1-10

Oleh : Pdt. Happy Pakpahan (HKI Resort Bandar Lampung)

 

I.     PENGANTAR

Jemaat terkasih, sadarkah kita, sesuatu yang luar biasa dan mengagumkan selalu terjadi didalam hidup kita, seperti kesehatan yang baik, organ dan indera tubuh yang berfungsi, udara dan alam yang sangat luar biasa; singkat kata semua pemeliharaan Allah yang terjadi setiap hari. Lalu bagaimana pujian kita kepada TUHAN, Apakah kita masih bisa melihat dan mengagumi karya kasih Tuhan setiap harinya dalam kehidupan kita? Atau semua sudah menjadi “biasa-biasa saja”? Apakah kita masih hidup dalam rasa syukur dan pujian kepada Tuhan karena masih tetap merasakan kebaikan dan berkat Tuhan dalam kehidupan kita? Lantas tentang hikmat dalam hidup. Apakah kita lebih mengutamakan permohonan rejeki, karir dari pada permohonan hikmat dari Tuhan? Nats bagi kita di Minggu ini akan mengulas tentang refleksi atas semua pertanyaan diatas. Saya mulai.

II.  PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI

  1. Jemaat terkasih, Allah kita adalah Allah perjanjian. Allah yang sejak penciptaan membuat segala sesuatu baik adanya, dan juga menjanjikan hal terbaik bagi semua ciptaanNya. Dia Allah yang selalu memegang janji dan menepatinya. Setiap orang Kristen harus berani untuk mempercayai Tuhan. Percaya bahwa Tuhan itu baik adalah secara pelafalan itu mudah, tetapi mempercayai hidup kita kepada Tuhan secara nyata di sela tantangan hidup adalah hal yang berbeda. Sering sekali kita tidak benar-benar mempercayai Tuhan dalam hidup kita. Misalnya, ketika menghadapi sebuah tantangan, kita mudah khawatir dan mulai tertarik kepada cara dan kuasa lain untuk cepat selesai dari rasa khawatir dan tantangan hidup kita. Pergumulan dan permasalahan yang berat sering membuat daya tahan spiritualitas kita menjadi lemah. Itu sebabnya kita mudah “dirasuki” roh jahat, dan bahkan ada yang melakukan apa saja termasuk yang tidak dikehendaki Tuhan agar cepat keluar dari persoalannya. Untuk itu mari mengambil makna dari Pemazmur ini. Tetap mengandalkan Tuhan, mengimani janjiNya dan tetap hidup seturut jalanNya maka Dia akan memberkati dan memberikan hikmat bagi kita mengatasi dan menguasai persoalan menjadi berkat.
  2. Pemazmur mengungkapkan kesaksian imannya yang dilandasi oleh hati dan jiwa yang diperbaharui oleh karya keselamatan Allah (Mzm. 111:1-3). Pemazmur mengimani perbuatan atau karya Allah yang besar layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Menyelidiki disini bukan dalam arti ada yang dicurigai, mencari kesalahan. Melainkan menyelidiki untuk membawa kita pada kesadaran yang lebih dalam akan Maha Besarnya Allah dan perbuatanNya. Kualitas dari pujian dan ucapan syukur seseorang kepada TUHAN tergantung dari seberapa dalam orang tersebut mengenal TUHAN. Bagi seseorang yang memiliki pengalaman pribadi yang nyata dengan TUHAN dalam hidupnya setiap hari, kualitas pujiannya pasti lebih baik dan tulus. Pujian jangan bersifat ungkapan kata belaka, tetapi tidak sepenuhnya diimani. Mari belajar mengenal dan mengalami TUHAN lebih dalam lagi, sehingga saat kita berseru, “Haleluya! Terpujilah TUHAN!”.
  3. Makna kebenaran kuasa Kristus yang penuh otoritas perlu kita realisasikan, sehingga orang lain dapat  melihat kuasa Kristus yang hidup dalam karya dan pelayanan kita. Apabila orang lain dapat melihat kehidupan Kristus yang penuh kuasa dalam diri kita, maka mereka akan mempermuliakan Allah dan mau percaya kepadaNya. Sebaliknya apabila kesaksian kita hanya bersifat kata-kata, tetapi hidup kita jauh dari Kristus maka sesama akan tersandung untuk mengenal dan mengasihi Kristus. Orang yang hidup didalam otoritas Tuhan yang teguh adalah orang yang berintegritas. Yang kata dan perbuatannya adalah satu. Yang kata-katanya bisa dipegang. Tidak plinplan atau dusta. Lain dihati dan lain dimulut  dan lain juga di perbuatan. Jika sikap integritas sudah terkikis dalam kehidupan orang percaya baik sebagai jemaat, maupun pelayan (parhalado) maka pelayanannya akan hambar.
  4. Ayat 4. Jika kita merasakan kasih sayang Allah dalam hidup kita, maka tugas kita adalah menyalurkan dan menyaksikan kebaikan dan kasih sayang Allah kepada semua orang disekitar kita. Allah menginginkan hidup kita menjadi saluran berkat bagi orang lain. Ia ingin di mana pun kita di tempatkan-Nya, orang-orang yang berjumpa dan berkenalan dengan kita merasakan kasih Kristus yang ada di dalam hati kita.  Dan melalui sikap memberi dengan murah hati orang akan mengenal kita dan memuliakan Bapa kita di Sorga. Marilah kita belajar memperhatikan orang lain yang membutuhkan pertolongan kita, sebab mereka akan diberkati Tuhan melalui kita, dan pada akhirnya Tuhan dipermuliakan oleh pemberi dan penerima. Itulah mazmur kehidupan yang terpancar dari kehidupan kita.
  5. Kekuatiran adalah lampu peringatan bahwa kita meragukan kasih Tuhan. Tantangan hidup membuat kita mudah melupakan janji setia yang pernah kita ucapkan. Keinginan untuk segera ke luar dari masalah dan pergumulan hidup membuat kita terkadang mengambil jalan pintas serta bertindak ceroboh dan salah. Akibatnya, bangunan hidup yang kita bangun menjadi hancur dalam sekejap karena tidak kokoh-teguh. Untuk itu ingatlah nats ini. Takut akan Tuhan mendatangkan berkat! Allah adalah sumber rezeki bagi semua kebutuhan kita! Allah akan memenuhi segala keperluan kita seturut kehendak Allah. Ada perbedaan besar antara ‘keinginan’ dan ‘keperluan.’ Sebagai orang tua, apakah Anda akan memberikan semua yang diinginkan anak Anda? saya harap tidak. Anda tidak boleh memberikan semua keinginan mereka karena Anda mengasihi anak-anak Anda. Allah Bapa di Sorga mengasihi kita. Allah tidak akan memberikan semua keinginan kita karena jika Dia berikan maka kita berpotensi akan hancur binasa. Dia tidak mau memberikan apa yang kita inginkan tetapi Dia pasti memberikan apa yang kita butuhkan. Ingat, Allah tidak pernah kehabisan persediaan dan sumber-sumber untuk diberikannya kepada kita. Allah sumber rezeki jangan diartikan Allah sebagai “ATM” rejeki. Jika perlu datang dan gesek, lalu terima secara kontan. Allah sumber rezeki dipahami bahwa hidup benar dihadapan Allah akan membuat setiap orang akan bekerja dengan baik dan giat, kreatifitasnya akan terasah dan kemudian dimampukan Allah mengatasi tantangan dan memamfaatkan peluang yang ada. Untuk itu, berdoalah dan mintalah pertolongan Tuhan Alkitab berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” [Matius 7:7] Mulailah meminta dalam iman.
  6. Tuhan menyampaikan titah dan perjanjian-Nya serta melakukan segala sesuatu dengan tangan-Nya dalam keadilan, kebenaran dan kejujuran. Artinya, jangan pernah katakan “Allah tidak adil”, karena Allah adalah adil. Kemudian, jika kita mau supaya segala sesuatu yang kita ucapkan dan lakukan dapat teguh dan kokoh untuk selamanya, maka kita harus mengucapkan dan melakukannya dalam keadilan, kebenaran dan kejujuran. Oleh sebab itu, marilah kita berusaha hidup dalam keadilan, kebenaran dan kejujuran, baik terhadap suami, istri, anak-anak, orangtua kita, jemaat kita, maupun terhadap semua orang, siapa pun.
  7. Ayat 7-9 menjelaskan bahwa jika Tuhan telah mengucapkan janji untuk mengirimkan kebebasan kepada umat-Nya maka Ia akan bertindak secara sungguh-sungguh membebaskan umat-Nya. Allah tidak pernah berubah. Tuhan tidak pernah melakukan ketidak-benaran dan ketidak-adilan dengan tangan-Nya. Pertolongan-Nya tak pernah terlambat.
  8. Ayat 10 berkata “ Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Iman dan hikmat adalah seperti lampu senter dan batu baterei, tanpa batu baterei lampu senter tidak bisa menyala, demikian pula sebaliknya. Jadi antara iman dan hikmat mempunyai kaitan yang erat. Dengan iman dan hikmat yang diawali dengan takut akan TUHAN, membuat pola pandang terhadap masalah berubah, dan mata rohani akan terbuka untuk dapat melihat dari pola pandang Allah. Itulah yang membuat Salomo meminta Hikmat Allah, karena hikmat itu lebih baik dari pada keperkasaan, alat-alat perang dan lebih bernilai daripada emas. Takut yang dimaksud pada ayat ini adalah suatu bentuk penghormatan kepada Tuhan; menghormati hukum-Nya, kehendak-Nya, rencana-Nya, diri-Nya sendiri; takut menyinggung perasaan-Nya, itulah yang akan membawa kita kepada perbuatan yang benar. Takut yang muncul ini harus disebabkan karena kita mencintai Tuhan.
  9. Bisa saja ada diantara kita berpikir semua bentuk pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal (bangku sekolah) atau membaca buku sebanyak mungkin. Memang itu sangat berguna, namun pengetahuan yang kita dapatkan tersebut hanya mampu meningkatkan kecerdasan intelektual kita saja. Hahikat sesungguhnya dari pengetahuan adalah takut akan Tuhan dan menjauhi segala jenis kejahatan, di mana kedua hal tersebut saling terkait (tidak dapat dipisahkan). Jadi awalilah dengan hormat dan takut akan Tuhan, dan niscaya pengetahuan kita akan membawa kepada kehidupan yang berarti. Demikian juga dalam pelayanan, agar sebuah pelayanan berhasil dengan baik perlu pembangunan takut akan Tuhan ditengah-tengah Jemaat. Jangan justru para pelayan sendiri yang tidak takut akan Tuhan, penuh kemunafikan, lebih takut malu secara sosial dari pada takut dihadapan Allah. Lukas sang penulis Kisah Rasul menyebutkan keadaan jemaat diseluruh Yudea, Galilea dan Samaria sebagai gereja yang dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan (Kisah Para Rasul 9:31). Selama beberapa waktu jemaat diseluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan, jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan ROH KUDUS.

III.  PENUTUP :

Didalam kehidupan kita setiap hari, kita selalu tidak lepas dari pertolongan Tuhan yang menyertai hidup kita.  Kita memerlukan pertolongan-Nya didalam rumah tangga, sekolah, pekerjaan, pelayanan, singkat kata seluruh bagian dari hidup kita. Karena itu tetaplah lalui waktu dan aktifitas kita bersama Tuhan. Imani penyertaan Tuhan bukan secara akaliah belaka, tetapi dengan segenap hati. Allah telah menyelesaikan masalah terbesar kita ketika kita diselamatkan, adakah masalah lain yang tidak dapat diatasi oleh Tuhan? Mari memiliki komitmen yang kuat di mulai dengan mempercayai Tuhan Yesus Kristus dengan segenap hati dalam setiap aspek hidup kita. Untuk itu tetaplah memintalah hikmat dari Tuhan, sehingga kita semakin paham dan dicerahkan memahami yang terjadi dan kemudian mengambil hikmat dan jalan keluar dari Allah. Amin.

 

EPISTEL MINGGU 1 SETELAH TRINITATIS 26 JUNI 2011

NATS : YOHANES 5 : 39-47

Pdt. Happy Pakpahan

PENGANTAR
Konteks Teks : Pada saat itu, Kaum Farisi, Ahli Taurat dan Para Imam membenci kehadiran Yesus dan bahkan berusaha membunuh Yesus Kristus ( Yoh 5 : 18 ), karena beberapa alasan, yaitu :
  1. Karena kehadiran Yesus yg banyak melakukan penyembuhan, mengadakan pengajaran dsb, telah membuat Yesus mempunyai banyak pengikut sekaligus menurunkan popularitas para Kaum Farisi, Ahli Taurat dan Para Imam. Padahal selama ini merekalah yg menjadi tempat bertanya soal keagamaan. Ditambah lagi beberapa kali Tuhan Yesus telah mempermalukan mereka didepan orang banyak dengan membongkar kepalsuan hidup mereka (bnk : Matius 23 )
  2. Mereka menyadari bahwa misi Pembebasan yang dilakukan Yesus bukanlah juga misi pembebasan Politis seperti mereka harapkan yaitu : lahirnya seorang pemimpin Revolusi yg memimpin dan mempersatukan partai-partai dan golongan yang ada untuk membebaskan Israel dari penjajahan Roma, dan memulihkan Kejayaan Israel seperti masa Daud.
  3. Tuhan Yesus beberapa kali telah melakukan pekerjaan yg kontroversial dikalangan Yahudi seperti melakukan Penyembuhan di hari Sabat. Padahal menurut Hukum Keagamaan Yahudi, umat diminta untuk menguduskan Hari Sabat dengan tidak bekerja di Hari Sabat. Dan walaupun telah beberapa diperingati, Tuhan Yesus tidak mengindahkannya. Perbuatan ini tidak bisa ditelorir oleh Kaum Farisi, Ahli Taurat dan Para Imam. Menurut mereka, ini membuktikan bahwa Yesus tidak datang dari Allah karena ia tidak bekerja menurut Aturan Kegamaan tentang Hari Sabat sesuai dengan Hukum Musa. Menurut mereka, orang yg berasal dari Allah, tentu akan bekerja menurut aturan keagamaan mereka, termasuk menguduskan hari Sabat. Mereka disini membatasi cara kerja Allah yg Maha Kuasa. Seolah Allah hanya dapat bekerja melalui hukum yang telah ada, tidak memiliki kebebasan.
  4. Mereka menolak perkataan Yesus bahwa Allah adalah BapaNya sendiri sebab dengan demikian Yesus menyamakan diriNya dengan Allah. Agama Yahudi tidak mengenal konsep Allah menjadi manusia, Allah yang mempunyai Anak atau “Allah Berkeluarga”. Allah adalah Roh. Lagi pula mereka secara kasat mata mengenal Yesus hanyalah anak Yusuf seorang tukang kayu.

Inilah alasan mereka dengan berbagai cara berusaha menjatuhkan Yesus dan selalu mencari-cari kesalahan Yesus, mengikuti Yesus dimaka Ia berada, berusaha menjebaknya bahkan berusaha membunuhNya. Pertanyaan relevansi bagi kita : adakah diantara kita yg berpola laku seperti para Ahli Taurat yg selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan dari sini juga bisa kita lihat bahwa Kekerasan bisa terjadi dengan motif “Keagamaan” dan” diwilayah aktifitas Keagamaan”. Karena Iblis selalu mencari peluang untuk membuat manusia jatuh kedalam dosa.

 

Konteks Penulisan : Kitab Yohanes di tulis di Kota Korintus, dengan tujuan Penulisan adalah yaitu bersifat menginjili, supaya pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah (Yoh. 20 : 31 ).  Pada waktu itu banyak Aliran yang menentang bahwa Yesus adalah TUHAN dan menentang konsep Tritunggal. Seperti aliran Gnostik yg secara terang-terangan menentang konsep bahwa Yesus adalah Mesias/ Anak Allah yg menjadi manusia yang dijanjikan sejak masa Bapa leluhur dan Nabi-Nabi. Karna Allah bagi konsep mereka adalah Yang KUDUS, Yang MULIA. Jadi tidak mungkin Allah Yang Mulia itu bisa hadir dalam rupa seorang manusia yg digambarkan penuh dosa.

v  Inilah latar belakang keadaan penulisan kitab Yohanes yang corak teologisnya sangat menekankan bahwa Yesus adalah Anak Allah, sang Mesias. Dan memaparkan bahwa seluruh tanda muzizat yg dilakukan Yesus adalah suatu bentuk kesaksian bahwa Yesus adalah Allah dalam rupa manusia.

PEMBAHASAN  NATS

Ayat 36-40. Pada Nats sebelumnya, Yoh. 3 : 22-36, telah dipaparkan Kesaksian Yohanes tentang diriNya dan tentang Mesias yang dijanjikan. Tetapi kini Yesus hadir dengan suatu kesaksian yang lebih penting dari kesaksian Yohanes itu. Kesaksian yang merupakan jawaban dari kesaksian Yohanes, mengenai siapa Mesias yg dijanjikan itu bahwa Yesuslah Mesias yang diberitakan Yohanes tersebut, dan Bapa-lah yang mengutus Yesus untuk melakukan semua pekerjaanNya. Dengan memakai kata Bapa, sebenarnya Yesus sudah mulai menerangkan konsep Tritunggalan.

Kesaksian bahwa Yesus adalah benar-benar Allah, nyata dalam berbagai kegiatan yg dikerjakanNya didunia ini seperti melakukan berbagai muzizat penyembuhan baik secara langsung ( tatap muka ) maupun jarak jauh ( menyembuhkan anak seorang Perwira ), membangkitkan orang yg telah mati, mangajarkan jalan kehidupan sekaligus mengkritik kebiasaan keagamaan yg salah yg dilakukan oleh Para Imam, Ahli Taurat, dan kegiatan lainnya, bukan dilakukan Yesus dari dirinya sendiri, melainkan itu semua adalah pekerjaan Allah Bapa yang mengutus Dia. Semuanya itu adalah tanda dari Allah untuk bersaksi tentang siapa Yesus sebenarnya.

Akan tetapi walaupun Tuhan Yesus telah secara terang-terangan memberikan kesaksian tentang diriNya, sebagian besar orang Yahudi tidak mempercayai kesaksianNya. Diayat 37, Yesus mengatakan bahwa walaupun Pemimpin Agama Yahudi dalam kesehariannnya menyelidiki Kitab-Kitab Suci, dan mempercayai akan adanya suatu kehidupan yg kekal, tetapi mereka menolak Yesus sang Mesias sang Pemberi kehidupan kekal itu. Mereka kehilangan kesempatan memperoleh hidup kekal karena kekakuan keagamaan mereka sendiri.

Ay. 40-47. Dalam injil Johanes kita menjumpai 3 kata yg penting sekali menjadi pokok pemberitaan, yaitu tanda, percaya dan hidup. Dalam tanda ada pernyataan Tuhan, dalam percaya ada reaksi yg diharapkan muncul , dalam hidup ada akibat dihasilkan oleh percaya. Tanda itu bukan hayalan atau imajinasi tetapi sungguh telah disaksikan oleh murid-murid Tuhan Yesus. Dalam pewartaan Jesus mengajak setiap orang percaya kepada Nya berdasarkan kesaksian dirinya sendiri melalui peklerjaan yg telah dilakukanNya. Tanda-tanda yg dibuatnya merupakan kesaksian bahwa Dia diutus oleh Bapa. Seorang Pemimpin Agama Yahudi yg bernama Nikodemus dalam Joh 3 : 2 berkata “ Tidak ada seorangpun yg dapat mengadakan tanda-tanda yg diadakan Yesus yg diutus oleh Allah “. Akan tetapi ini semua dilakukan bukan untuk agar disanjung-sanjung oleh manusia. Disinilah salah satu perbedaan cara kerja “pihak-pihak yang mengaku sebagai wakil Allah untuk memberitakan Berita yang dari Allah “. Ditengah kebiasaan orang Pemuka Agama Yahudi yang mengaku sebagai Wakil Allah, yang sangat gila hormat, kini Yesus yang berasal dari Allah hadir dengan konsep tidak berorientasi kehormatan dari manusia.

Ay. 45-47. Pada ayat ini Tuhan Yesus memaparkan sisi ironis, dari Para Imam, Para Ahli Taurat, orang Farisi yg memegang kuat Hukum Musa, pada kenyataannya ternyata tidak mempercayai isi dari Hukum Musa tersebut. Jikalau mereka benar-benar memahami kitab Musa, tentu mereka akan percaya terhadap Yesus, sebab dalam kitab Musa telah jelas dituliskan tentang Yesus. Bahwa dalam kitab Musa dan kitab Para Nabi, telah di beritakan akan kehadiran Mesias yang ditolak, dan tentang Keselamatan yg dibawa oleh Yesus ( Ulangan 18 : 15-18 ). Tetapi mereka menutup matanya akan hal itu. Karena itu dari sini kita bisa belajar bahwa tidak ada artinya menguasai secara teoritis, kemampuan menyelidiki Firman Tuhan, hanya membaca firman, tanpa mempercayai dan menghidupinya.

RELEVANSI

v  Sebagaimana Kristus berbicara kepada muridNya dahulu. Kini Dia juga berbicara kepada pengikutnya. Kristus yg bangkit tidak terikat pada waktu dan tempat. Sekarang pekerjaan memberitakan kesaksian tentang Yesus di serahkan ke tangan setiap orang Percaya ( Kis. 1 : 8 ). Ini persoalan Penting. Sebab, jika kita teliti, sebagian isi Alkitab adalah berisi kisah-kisah Pengutusan, Pekabaran Injil dan bagian proses PI. Tentu ada tujuan dari penulisan itu, yaitu agar orang Kristen sepanjang masa mewarisi pola PI. Lagi pula Tuhan Yesus sebelum naik ke Sorga memerintahkan kepada para muridNya untuk “ pergi dan beritakan Injil ke seluruh dunia, dan beritakanlah Injil kepada segala mahluk “ (Markus 16 : 15-18 ). Satu-satunya pesan yg disampaikan Tuhan Yesus ketika hendak naik ke Sorga adalah pesan menjadi saksiNya, memberitakan Keselamatan. Bukan memberikan resep Penyembuhan atau Dogma. Tugas ini sampai sekarang tidak pernah di batalkan atau di amandement. Persoalannya sekarang apakah kita melakukan pemberitaan kabar Bahwa Yesus adalah Juru selamat manusia, baik melalui perkataan, doa dan perbuatan kita. Ironis jika kita melupakannya, karena kita tidak mau terbeban, tidak mau repot, kita sering masidalian. Karena itu kita harus selalu memikirkan konsep PI yg relevan dimana kita berada.

v  Tuhan Yesus adalah Allah yang telah mengosongkan dirinya menjadi seorang manusia sampai dengan taat mati dikayu salib. Ini menunjukkan sisi “Low Profile” dari Allah. Pertanyaannya sekarang apakah pola kerendahan hati seperti itu ada diantara kita ? Atau pola ketinggian hati ? Ironis jika sekarang ini muncul gejala para Pemberita injil sibuk membesarkan Yayasannya, nama pribadinya sendiri, membuat istananya sendiri. Tidak turun kelapangan seperti yg diperbuat Yesus sebagai manusia, Yohanes. Benarkah kini banyak Pengkotbah bicara tentang kemiskinan padahal ia pelit untuk berbagi, hanya mencari keuntungan pribadi semata, jiwa melayaninya dipertanyakan. Kita sebagai saksi Kristus lupa bahwa sebagai Pemberita, kita bukan subjek yg bekerja bertindak sendiri.

v  Apakah ada terjadi diantara kita pola keagamaan seperti orang farisi, para Imam dan Ahli Taurat yang kebiasaan keagamaannya yg bersifat ceremonial belaka. Yang berpikir jika sudah melakukan ceremonial agama seperti ritus ibadah, persembahan, berarti sudah hidup dalam keagamaan. Sibuk membicarakan seperti apa aturan Agama yg benar, Tata Ibadah yg “baik”, AD/ART yg baik dll, tetapi mengabaikan kesaksian hidup sebagai hakekat keagamaan itu sendiri. Perlu diingat agama bukan lah tentang itu semata. Kita juga harus bertanya benarkah kini banyak orang yg pintar memberitakan Firman TUHAN, akan tetapi tidak hidup dalam kesaksiannya. Kesaksian harus tampak dari pola hidup. Agama jangan berhenti soal teori tetapi harus sampai kepada teladan hidup.


0 Responses to “SERMON”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: